Altaria berjalan masuk ke dalam rumah besar itu dengan mantap, tatapannya pun lurus ke depan dengan dagu terangkat, menunjukkan kelasnya.
Gaun semata kaki dengan potongan leher sabrina berwarna kuning menjadi pilihannya. Alas kakinya adalah ankle strap yang juga berwarna kuning. Membuatnya terlihat cerah dan juga manis.
Begitu ia memasuki ruang tamu, dapat dilihatnya pria itu bersama dua pria lainnya. Yang satu terlihat masih muda dan satu terlihat sudah cukup berumur.
Altaria tersenyum dalam hati lalu ia berjalan mendekati ketiga pria itu yang sudah menatapnya sedari ia masuk.
Sesampainya ia di hadapan mereka, dengan sopan Altaria mengangguk sambil tersenyum kecil. “Selamat malam.”
Yang disambut sapaan yang sama oleh mereka lalu pria yang duduk di sofa tunggal itu tersenyum manis. “Sini, Tira.” Ia memanggil Altaria untuk duduk di sebelahnya dan Altaria mematuhinya. Tak lupa senyuman masih berada di wajahnya.
“Tira, kenalkan. Ini teman Papa. Ini Om Pandu dan anaknya Nakula.” Pria itu, Demian Altair Aaron Agnibrata pria berusia setengah abad berkata.
Altaria mengangguk sopan. “Salam kenal. Saya Altaria Gavea.”
Pria yang bernama Pandu itu tersenyum lebar. “Kamu lebih cantik setelah dilihat dari dekat dan secara langsung. Salam kenal ya, Altaria,” kata pria itu lalu menepuk pundak anak lelakinya. “Ini Nakula, anak Om. Seumuran sama kamu. Dia bekerja sebagai konsultan padahal sudah Om desak untuk mengambil alih perusahaan tapi belum mau katanya.” Terlalu banyak informasi yang dibagi Pandu yang sangat tidak ingin diketahui Altaria sama sekali.
Nakula, pria itu tersenyum. “Halo, Altaria.”
“Halo, Nakula.”
Kedua pria paruh baya yang ada di situ tersenyum lebar.
“Memang nggak salah kami berniat menjodohkan kalian. Kalian cocok sekali,” komentar Pandu.
Raut wajah Altaria yang tadinya berbinar kini menjadi datar kemudian ia terlihat sedih. “Maksudnya gimana ya, Om? Saya dan Nakula? Dijodohkan?”
Pandu langsung mengangguk. “Iya. Papa kamu belum bilang ya?” Tanya Pandu tapi tanpa menunggu jawaban ia kembali berbicara. “Jadi begini, Altaria. Om dan Papa kamu berniat menjodohkan kalian, salah satu alasannya untuk mempererat hubungan persahabatan kami. Lagipula kalian juga single jadi Om rasa nggak ada salahnya dijodohkan, kamu juga cantik dan mandiri,” jelas Pandu kemudian.
Altaria mengangguk paham. Kemudian ia tersenyum sendu. “Om, yakin mau menjodohkan anak Om dengan saya?”
“Loh, kenapa enggak? Kamu cantik, pekerja keras jadi nggak masalah.”
Senyuman miring yang tipis dibentuk Altaria.
Altair yang melihat senyuman Altaria itu langsung dibuat panas dingin. Sepertinya akan ada episode yang dilakukan putri sulungnya itu.
Altaria kembali memasang senyuman sendunya. “Sepertinya Papa saya belum bilang sama Om ya?” Katanya sambil menekan kata Papa. Ia menarik napas dan menghembuskannya dengan berat. “Saya pernah menikah, Om.”
Pernyataan Altaria itu sontak membuat Pandu dan Nakula membelalakan matanya terkejut.
“Menikah?” Tanya Nakula tidak yakin.
Altaria menatap Nakula lalu mengangguk. “Iya. Sekitar enam tahun lalu, saya menikah muda.” Altaria terlihat menerawang mengingat masa lalunya.
Pernyataan yang keluar dari mulut Altaria itu langsung membuat Altair menegurnya pelan. “Tira.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
Genç Kız EdebiyatıMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)