41. Jadi Inilah.

2.7K 331 10
                                        

Altaria menatap pria yang sedang duduk di hadapannya.

Sudah lama rasanya Altaria tidak melihat pria itu. Entah ke mana perginya ia, Altaria tidak pernah mencari tahu. Ia disibukkan dengan masalah perusahaan dan keluarganya jadi waktu untuk memikirkan pria itu tidak ada.

Hingga baru hari inilah mereka bisa bertemu. Ethnan yang lebih dulu menghubungi Altaria dan ditanggapi positif oleh Altaria.

Bukan di restoran mereka bertemu namun di sebuah hotel. Altaria merasa lebih pribadi dari pada harus bertemu di kafe atau restoran. Lagipula hotel ini miliknya jadi tidak akan ada berita yang tersebar.

Altaria dapat melihat wajah Ethnan yang tidak banyak berubah hanya pria itu terlihat lebih kurus.

Ethnan pun menghabiskan waktunya untuk memandangi wanita yang entah masih berstatus kekasihnya atau tidak. Banyak yang Ethnan pikirkan dalam beberapa minggu ini. Dan lebih dominan pikirannya dipenuhi oleh Altaria.

Ia merindukan Altaria, namun ia malu dan merasa bersalah pada wanita itu. 
Karena jabatan ia menekan perasaannya pada Altaria. Hanya demi sebuah taruhan kekanakkan ia mempermainkan kehadiran seseorang. Dan terlebih ia menutupi masa lalunya dengan Dona. Buruk sekali ia di hadapan Altaria.

Selama ini tidak ada satu pun mantan kekasihnya yang mau repot-repot mengusik masa lalunya, mereka melihat masa sekarang saja, namun berbeda halnya dengan Altaria. Wanita itu akan mengorek sampai ke akarnya karena ia tidak suka adanya penjilat, pengkhianat dan orang munafik. Ethnan tahu itu, tapi ia tetap dengan kesombongannya mencoba membuat Altaria jatuh padanya, namun sepertinya ia lah yang jatuh pada Altaria.

Ethnan menarik napas lalu menghembuskannya perlahan.

“Kamu kelihatan lebih baik.”

Altaria mengernyit. Ethnan buta atau berpura-pura buta? Altaria jauh lebih kurus, penampilannya pun tidak serapi biasanya, kantung matanya terlihat jelas, bagian mana yang kelihatan baik?

“Apa aku memang kelihatan seperti itu?” Tanya Altaria memastikan.

Ethnan meringis lalu menggeleng pelan. “Jangan menyiksa dirimu lagi, Aria.”

Altaria tersenyum kecil. Ya, ia tersiksa dan menyiksa dirinya dengan semua ini.

Kata siapa ia tidak stres? Kata siapa ia tidak tertekan? Kata siapa ia merasa selega itu? Kata siapa Altaria bahagia? Tidak! Altaria tidak merasakan semua itu. Meski permasalahan perusahaan sudah bisa ditangani, masalah keluarga sudah terurai benangnya hanya perlu dibenahi beberapa hal. Tetapi hatinya masih terasa berat.

Altaria rasanya tidak sanggup dengan semua siksaan batinnya ini.

“Jeli juga kamu.”

Ethnan mendesah pelan. “Aku tidak pernah tidak memerhatikanmu, Aria. Aku selalu melakukannya hanya saja aku mengabaikannya.”

Altaria mengangguk kecil. “Bagaimana kabar sahabatmu itu?” Tanya Altaria sambil memberi kutipan kata sahabat dengan jarinya.

Ethnan tersenyum miris. “Kurang baik.”

“Tentu saja. Kehilangan pekerjaan karena berbuat curang alias korupsi, pernah masuk penjara di Inggris dan diusir dari rumah karena pernah hamil di luar nikah. Bagaimana bisa baik?” Altaria mengangkat kedua alisnya seakan mengejek Ethnan.

Ethnan menatap Altaria dengan terkejut. “Bagaimana kamu bisa tahu?”

Altaria menyandarkan punggungnya di sofa. “Mencari lubang semut saja aku bisa apalagi hanya masalah itu.” Altaria tertawa remeh.

Ethnan mendesah pelan. Ia memandang Altaria dengan seksama. Ethnan tidak sejauh itu tahu kemampuan Altaria dalam menggali informasi, namun kini ia harus mengakuinya bahwa keingintahuan Altaria menakutkan. Terbukti dari kekacauan yang terjadi di perusahaannya tetapi ia masih bisa berada di sini dengan tenangnya.

“Apa kamu tertarik untuk mendengar penjelasanku?” Sepertinya ia harus membuka kartunya setelah selama ini disembunyikannya.

“Boleh sih, tapi aku ingin bertanya. Siapa Dona di hidup kamu?”

Ethnan melarikan pandangannya dari Altaria sebelum kemudian menjawab. “Sahabatku.”

“Hanya itu?”

"Bukan.”

Altaria mengangguk memberi Ethnan kesempatan untuk berbicara. “Dia mantan kekasih dari sahabatku dan mantan kekasihku juga.”

Altaria tersenyum miring.

“Aku...” Ethnan menatap Altaria dengan ragu, tapi ia tahu Altaria pasti sudah tahu cerita ini. Cerita gilanya sepuluh tahun lalu.

“Dona hamil saat itu. Karena sahabatku. Aku mengetahuinya karena melihatnya baru saja keluar dari rumah sakit ketika sedang menjenguk Kakak keduaku. Aku yang mau menelpon sahabatku dicegahnya dengan menceritakan alasannya berada di rumah sakit. Aku membujuknya untuk berbicara jujur pada pacarnya, tapi dia keras kepala dan memintaku untuk menyembunyikan fakta tersebut.

Aku yang saat itu dua minggu lagi akan ke London bingung. Aku kasihan, tapi perasaanku nggak bisa dibohongi ketika dia meminta tolong padaku. Jauh sebelum Dona dan sahabatku berpacaran, aku yang lebih dulu menyukainya. Dengan rasa sayang aku menurutinya dan membawanya bersamaku ke London. Aku menyembunyikannya serapat mungkin dari sahabatku, tapi sahabatku pada akhirnya tahu dan berprasangka aku merebut Dona lalu memukuliku. Setelah puas dia pergi membawa kesalah pahaman itu.

Kejadian itu lebih dari sepuluh tahun lalu, dan aku menyesal karena melakukan sesuatu untuk keuntungan diriku dan keegoisan Dona. Tapi aku masih menutup mata karena merasa kasihan pada Dona. Dia sedang hamil dan dia nggak punya siapa pun di London. Maka aku pun menemaninya di London sembari bekerja. Ketika dia melahirkan aku mendampinginya bahkan sampai lima tahun lalu aku masih bersamanya. Awalnya semua baik-baik aja, sampai aku tahu dia tidur dengan salah satu rekan kerjaku. Aku yang dikhianati seperti itu pun langsung ambil keputusan buat ninggalin London.

Aku memutus semua akses komunikasiku dengan Donna. Sampai beberapa minggu yang lalu dia datang dan mengancamku dengan membeberkan bahwa anaknya adalah anakku. Aku tidak memiliki pilihan selain menemuinya dan membujuknya. Saat di bar tempo hari, itu hari terakhirnya di Indonesia. Dia memutuskan melepaskanku dan akan berbicara jujur pada sahabatku. Yang justru membuat hubungan kami bertiga semakin berantakan.

Hubunganku dan sahabatku tidak pernah bisa diperbaiki.Aku lebih memilih seorang wanita bermasalah dair pada sahabatku. Aku..., menyesal memanfaatkan situasi saat itu. Aku sangat menyesal. Benar-benar menyesal dengan apa yang terjadi sepuluh tahun lalu itu. Bahkan yang terjadi tempo hari di bar. Ternyata aku masih belum setegas itu.”

Ethnan mengakhiri ceritanya akan kisahnya dan Dona yang berawal dari pemikiran piciknya.

Baginya saat itu, dirinya berarti bagi Dona sehingga Dona memilih menyembunyikan kehamilannya dan meminta perlindungan darinya. Kesalahannya itu membuat hubungan persahabatannya rusak. Rasa cintanya membutakan matanya. Asalkan Dona bersamanya meski wanita itu sedang mengandung anak sahabatnya pun tak masalah, selama bersamanya ia tidak peduli hal lain.

Pilihan yang salah yang kini disesalinya.

Altaria menatap Ethnan dengan lekat. Emosi sangat terasa mengalir di nadinya, namun berusaha keras ditahannya. Meski pun Altaria sudah tahu cerita itu tapi rasanya tetap saja sakit.

“Lalu di mana anak itu?”

Ethnan mengangkat kepalanya menatap Altaria. “Di London.”

“Dia memanggilmu dengan apa?”

“Daddy.”

Perasaan Altaria tidaklah bisa dibohongi. Ia cukup tahu apa yang dirasakannya. Meski pun ini yang pertama, tapi ia tahu dan rasanya tidak mengenakkan.

“Kenapa kamu nggak kembali lagi aja dengan Dona? Kalian ‘kan punya anak.”

Ethnan mengamati iris Altaria yang dilapisi lensa kontak berwarna gemstone green.

“Karena kamu.”

Altaria mengernyit.

“Aku jatuh cinta padamu.”

Altaria tidak menyangka ia akan mendapat pernyataan cinta seperti ini. Mata Ethnan tidak terlihat bercanda dan intonasi suaranya tegas dan serius.

Tubuh Altaria bergetar. “Aku dan kamu baru sebentar menjalani hubungan.”

Ethnan tersenyum kecil sambil mengangguk. “Aku tahu. Tapi nyatanya memang begitu, Aria. Aku tahu, aku buruk, telah menyakitimu dengan taruhan yang kubuat bersama teman-temanku. Mencoba mengulik informasimu agar aku dipromosikan dan mencegah rahasiaku terbongkar bahkan berbohong soal Dona agar keluargaku tidak tahu apa pun.

Kapan dimulai dan alasannya apa, pun aku tidak tahu. Hingga sampai di titik dimana ketika aku melihatmu tersenyum menatap tulip yang aku bawa dari Belanda. Melihatmu tersenyum seperti itu hanya karena bunga membuatku ingin terus melihat senyumanmu itu, ingin terus menyaksikannya karena aku. Hatiku terasa hangat dan penuh melihatnya. Meski matamu tidak tersenyum, tapi senyuman lebar seperti itu saja rasanya sudah cukup buatku.

Aku bajingan, Aria. Maaf aku sudah menyakitimu. Maaf aku tidak benar-benar tulus di awal. Tapi aku sungguh mencintaimu.”

Altaria mendesah gusar. Ia tidak suka situasi seperti ini. Mata itu lekat menatapnya, kesungguhan ada di sana, tapi keputusannya tidak bisa diganggu gugat.

“Aku mengerti, tapi hubungan kita harus berakhir.”

“Tidak bisakah kamu memberikan kesempatan?”

“Kesempatanmu sudah kuberi, tapi kamu yang tidak bijak memakainya.”

“Aria.”

“Terlepas dari itu. Aku akan pindah.”

Ethnan menatap Altaria dengan terkejut. “Pindah?”

Altaria mengangguk. “Terima kasih untuk kejujuranmu, Hani. Tapi aku tidak bisa bersamamu lagi. Hatiku harus aku sembuhkan begitu juga mentalku.”

Sepertinya Altaria akan sedikit saja jujur. Dokter Mia memuji dirinya yang sudah dengan berani melangkah keluar dari sudut gelapnya dengan membuka lukanya pada Altair, dan cukup kuat menahan dirinya saat itu. Meski pun pada akhirnya ia harus dirawat di rumah sakit selama satu minggu karena depresinya kambuh dan pergantian kepribadian yang terlalu sering. Namun begitu Altaria sudah mengambil keputusan berani dan siap berdamai dengan masa lalunya dan mencoba membuka lembaran baru di hidupnya.

“Aku punya masalah hati yang berat.”

Tentu saja Ethnan terkejut mendengar itu. Tidak pernah dibayangkannya Altaria punya penyakit mental.

“Aku tidak bisa menerima cinta, dan memberi cinta dengan pikiran dan hati yang tidak sehat. Aku perlu waktu untuk diriku sendiri, mengobati diriku sendiri. Terlalu banyak yang terjadi dalam hidupku yang nggak akan pernah kamu sangka. Hidupku adalah sebuah medan perang, menjadi pejuang dan harus bertahan hidup. Selama hidup aku tumbuh dengan semua hal yang tidaklah menyenangkan di sekitarku. Tapi aku nggak mau kayak gitu lagi jadi kini saatnya aku menyenangkan hatiku, menyembuhkan hatiku, mentalku yang perlu diperhatikan ini.”

Altaria menyunggingkan senyuman, untuk pertama kalinya ia menatap Ethnan dengan penuh ketulusan. Membiarkan Ethnan menyelami matanya.

“Aku menyukaimu, Hani, sangat menyukaimu, tapi perasaan kecewa karna dibohongi dan dikhianati lebih besar dari rasa sukaku. Aku tidak bisa mempercayaimu dan melanjutkan hubungan ini dengan kondisi hatiku yang kacau. Aku harus mencari diriku dulu barulah bisa memikirkan hal selain itu. Hubungan kita indah, Hani. Tapi itu bukan berarti aku mau melanjutkannya. Mari kita berpisah, terlepas dari sakit hatiku padamu, perpisahan adalah jalan terbaik karena hubungan kita sama sekali tidak sehat.”

Ethnan melebarkan kedua matanya. Ia tidak ingin mengakhiri apa pun di antara mereka. Segala hal akan ia usahakan agar mereka tetap bersama.

“Kita memulai hubungan ini dengan cara yang tidak benar. Aku yang memulainya karena ingin mengujimu dan penasaran lalu kamu yang menjadikanku bahan taruhan dan sumber informasi. Cara kita salah, Hani. Jadi ketika ingin mempertahankan pun, apa yang harus dipertahankan? Kalau kamu memang mencintaiku. Lepaskan hubungan ini.” Altaria menatap Ethnan dengan serius.

“Jadi akhirnya seperti ini.” Itu bukan suatu pertanyaan melainkan sebuah pernyataan. Ethnan memandangi wanita yang sangat mandiri dan tegas di depannya ini. “Baiklah. Memaksakan pun rasanya pandangan kita tidak sama. Tapi kelak di masa depan jika kita bertemu, disaat kamu sudah siap dan biarkan aku mendekatimu dengan cara yang benar.”

Altaria tidak bisa menahan dirinya. Ia dapat merasakan perasaan jujur Ethnan padanya. Ia tidak sanggup menatap Ethnan lagi dan memilih menunduk. Altaria menangis.

Ethnan yang melihat itu berjengit. “Jangan nangis. Semua ini salahku, Aria. Kamu nggak pantas menangisi aku atau hubungan ini,” katanya dengan lirih.

Altaria menarik napas lalu menghembuskannya dengan perlahan. Sesak rasanya dadanya. Altaria tidak pernah menangisi seorang pria tapi untuk kali ini berbeda.

Benar. Dia jatuh dengan dalam untuk pria ini.

“Makasih ya, untuk waktumu, untuk perhatianmu, untuk kesempatan yang kamu kasih buat aku. Dan jika setiap kamu mengingat aku hanya menimbulkan rasa sakit, lupakan aku, itu cara yang terbaik.” Berat rasanya bagi Ethnan untuk berkata begitu tetapi untuk menyelamatkan hati Altaria cara itu lah yang rasanya lebih baik.

Altaria mengangguk pelan. Ia menghapus air matanya yang seolah enggan berhenti mengalir tapi ia harus menahan air matanya. Setelah rasanya cukup, Altaria mengangkat kepalanya lalu berdiri menatap Ethnan.

Tanpa berkata apa pun hanya saling memandang untuk beberapa saat Altaria mengayunkan langkah ke luar dari kamar hotel itu meninggalkan Ethnan yang tertunduk penuh penyesalan.

Di lorong kamar, Altaria memakai kacamata hitamnya dan berjalan dengan penuh ketegasan dan keanggunan seperti seharusnya.

Bersambung..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Published: July, 2nd 2021
Revised: June, 9th 2024

Altaria [Completed] || RevisedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang