Altaria masuk ke dalam rumah setelah menghabiskan waktu sekitar dua jam di kafe. Jadi total sudah tiga jam ia berada di luar rumah.
Begitu masuk ke ruang tamu, Altaria melihat adiknya yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
“Mama?”
Helva yang memang menyadari kedatangan Altaria itu sudah menatapnya sedari Kakaknya itu masuk rumah.
“Di kamar.”
“Lian?”
“Balik ke hotel, nanti malem baru balik ke sini lagi.”
Altaria mengangguk sekilas ia baru saja hendak berlalu dari situ dibuat berhenti karena Helva yang kembali berbicara padanya.
“Bisa ngomong bentar, Kak?”
Altaria menaruh perhatiannya pada Helva beberapa saat sebelum mengangguk lalu duduk di sebelah adiknya.
“Apa?”
Helva menarik napas perlahan kemudian menghembuskannya. “Apa selamanya Kakak nggak akan menganggap Papa?”
Altaria mendelik. “Kalau lo mau menganggap dia ya silahkan.”
Helva memainkan kedua jemarinya. “Gue tahu lo yang lihat semua hal yang Papa lakuin. Lo mengalami hal yang sangat mengerikan. Semua itu nggak sepele tapi ini udah bertahun-tahun, Kak. Bahkan kita udah pisah selama empat tahun dari Papa. Kita jauh dari keluarga besarnya Papa, kita nggak di Indonesia. Apa nggak bisa kita melangkah maju dengan tidak mengingat-ingat masa lalu? Aku kangen Papa, aku kangen keluarga kita yang dulu. Aku kangen kita ngumpul bareng lagi. Aku kangen semua itu, Kak.”
Mendengar penuturan adiknya yang sudah menangis itu membuat Altaria mendesah berat.
“Mama setuju sama Helva, Tir.”
Suara Mamanya itu membuat Altaria dan Helva melihat Raline yang sudah berjalan ke arah mereka kemudian duduk di hadapan mereka.
“Mama nggak akan maksa kamu untuk bisa bersikap biasa dengan Papa atau memaafkan dia karena apa yang kamu lihat dan alami.” Raline menatap Altaria dengan lekat.
“Jujur, La, Tira, Mama kecewa berat dengan Papa, sakit hati, tapi Mama sadar umur Mama dan Papa sudah segini. Kalau terus-terusan diingat yang ada nggak tenang dan nggak baik. Mama cuma mau mikir masa tuanya Mama bukan lagi mau mikir masa lalu yang memang menyakitkan itu. Penderitaan kita nggak akan pernah berakhir kalau dibiarkan berlarut-larut. Mama mau banget nggak maafin Papa tapi Mama sadar, Mama nggak akan pernah bahagia kalau melakukan itu.”
Raline menatap Altaria dengan lekat. “Tira, Mama akan kembali tinggal bersama Papa. Mama sudah membicarakannya tadi dengan Papa kamu. Kami sudah sama-sama tua, Mama mau belajar untuk berbesar hati menutup lembaran menyakitkan itu. Jadi Mama harap kamu setuju sama keputusan Mama ya?
Mama tahu kamu sayang banget sama Mama dan Ela, kamu selalu pasang badan bagi kami. Kamu itu anak kebanggaan Mama, karena kamu dan juga Ela tentunya Mama bisa tetap berdiri tegak dengan dagu terangkat. Karena kamu selalu ada dan menjadi penyemangat Mama bisa melalui masa-masa sulit di antara keluarganya Papa kamu dan pengkhianatan Papa.
Mungkin kamu kecewa dengan keputusan Mama ini, tapi Mama udah nggak bisa ninggalin Papa sendiri lagi. Kalian kelak akan memiliki hidup kalian masing-masing sedangkan Papa dan Mama hanya memiliki satu sama lain. Mama mau menemani Papa, seperti janji pernikahan kami. Mama akan berada di sisi Papa dalam kondisi apa pun meski pun sudah dikecewakan. Bukan karena Mama bodoh, tapi sekali lagi semuanya sudah berlalu ‘kan? Mama harap kamu mengerti, Tira.”
Altaria menunduk dalam diam. Ia mencerna ucapan Mamanya. Altaria tidak tahu harus bersikap seperti apa dan harus melakukan apa.
Tapi, melihat Helva yang melihat Altair dengan perasaan rindu. Mendengar penuturan Raline yang mau berbesar hati untuk kembali hidup bersama Altair membuat perasaannya tidak menentu.
Di sisi lain, ia juga rindu dengan Papanya. Sosok yang selalu memberi tawa padanya, yang tidak pernah marah namun bersikap tegas padanya. Namun di sisi lain, setiap melihat Papanya ia justru teringat masa-masa kelam itu. Altaria tahu ia menyalahkan Altair untuk semua yang terjadi di masa lalu. Ia butuh menyalahkan seseorang dan yang dipilihnya adalah Altair, akan tetapi Ayahnya memanglah salah.
Apa yang harus dilakukannya?
Kehidupannya selama empat tahun ini sudah tenang, sudah mulai merasa bahagia, tapi ia tahu ada lubang kosong di sana.
Ia mengangkat kepalanya menatap Helva dan Raline bergantian. “Kalian udah liat sendiri ‘kan gimana aku bersusah payah untuk baik-baik saja? Aku bukannya mau ngebeda-bedain apa yang kalian alami sama apa yang aku alami. Tapi, Ma, Dek. Gimana rasanya sih jijik sama diri sendiri? Badan dilecehkan berulang kali. Bukan cuma sekedar disentuh tapi dimainin. Itu gimana? Aku hidup dengan semua itu hampir dua puluh tahun.” Altaria sudah menangis.
Raline dan Helva yang melihat itu merasa bersalah. Bukan mereka tidak memikirkan perasaan Altaria hanya saja, rasanya sudah cukup untuk terus mengingat yang lalu.
“Aku tahu semua itu udah di masa lalu. Ngapain aku inget-inget itu semua. Nggak. Aku sama sekali nggak pernah mau inget-inget itu. Tapi aku nggak akan pernah benar-benar bisa lupa sama semua itu ‘kan? Ketika saat itu aku sangat amat berharap diselamatin Papa. Aku cuma berharap Papa masih inget akuu.. Putrinya dia yang dulu dia saying, manjain banget. Tapi apaa?? Apa yang aku dapet? Dia sibuk… dia sibuk sama selingkuhannya itu liburan. Hatiku sakit banget pas liat foto-foto itu.. Ma, aku maunya mati aja deh daripada disetubuhi secara keji kayak gitu. Aku mending dipukul dari pada disetubuhi kayak gitu. Sakit banget, Maa… sakit..”
Altaria menangis sampai tergugu kalau mengingat kejadian itu lagi. “Gimana bisa aku nggak naruh semua kesalahan di dia kalo emang dia yang salah karna abai sama kita semua? Bahkan sampai setahun aku balik lagi di rumah, dia sama sekali nggak nanyain aku dari mana aja. Dia tetap bersikap kayak aku sehari-hari di rumah. Aku tahu Mama pasti cerita ke mana aku, tapi tetep aja. Masih ada sisi hatiku yang mau ditanyai sama dia kabarku bukan bersikap kayak gitu.”
Untuk pertama kalinya Altaria menangis dengan tergugu seperti itu pada kedua orang yang sangat amat dicintainya. Mendengar permintaan mereka di sudut hatinya merasa terluka. Selama ini ia selalu mengusahakan kebahagiaan dan kepentingan mereka. Walau dengan cara yang terkadang tak dijelaskan, tapi Altaria melakukan semua yang bisa dilakukannya untuk kebahagiaan mereka. Tapi mereka yang ingin kembali pada pria itu, rasanya sungguh sakit. Apalagi perasaannya seolah dianggap sepele. Melupakan masa lalu? Dengan masa lalu yang menjijikkan seperti masa lalunya? Tidak akan pernah bisa.
“Kalian dengan entengnya ngomong harus lupain masa lalu? Kalau aja semudah itu.” Altaria menatap keduanya dengan airmatanya yang masih setia mengalir.
Raline dan Helva pun sudah ikut menangis dengan terisak. Mereka bukan ingin melupakan apa yang dirasakan dan dialami Altaria. Hanya saja mereka lelah dengan harus terus mengingat masa lalu yang menyakitkan itu.
“Maafin Mama, Tira. Maaf, Sayang. Mama minta maaf.”
“Gue juga minta maaf, Kak. Maaf. Gue nggak bermaksud kayak gitu sama sekali, Kak. Maaf.”
Kedua perempuan yang berbeda usia dan sangat berarti di hidup Altaria itu memeluknya dengan erat.
Dan mereka bertiga pun menangis bersama. Menumpahkan semua rasa sedih, sakit dan kecewa yang selama ini belum pernah mereka lakukan.
Altaria merasa sedikit lega karena sudah menangis dan mengatakan apa yang dirasakannya. Sekarang ia tengah menatap Mama dan adiknya yang sedang minum dalam diam mereka.
“Ma, sampai kapan dia di sini?”
Pertanyaan Altaria itu membuat Raline dan Helva sontak menatap wanita itu. Setelah tangis-tangisan mereka tadi dan semua curahan hati Altaria, tentu saja mereka terkejut dengan pertanyaan Altaria.
“Tira? Kamu barusan nanya apa?” Raline memastikan kembali pertanyaan Altaria yang seolah salah didengarnya.
“Dia sampai kapan berada di sini, Ma?” Altaria mengulang kembali pertanyaannya.
Helva dan Raline masih tidak percaya tapi mereka tidak mungkin meminta Altaria untuk mengulang kembali pertanyaannya yang jelas-jelas masih sama.
“Besok sore Papa berangkat, Kak.”
Altaria mengangguk lalu mendesah pelan. “Sampaikan pada Lian untuk mengajak dia makan malam di sini.”
“Kamu serius, Tira?”
Altaria memandang Raline dan Helva bergantian. “Iya, Ma.”
Raline tersenyum penuh haru. Helva sendiri sudah menangis melihat kebesaran hati Altaria. Kalau memposisikan diri seperti Altaria ternyata Helva belum tentu bisa memiliki sikap seperti Kakaknya itu.
“Nggak papa, Kak?”
“Iya. Nggak papa. Kalo gitu aku ke kamar.”
Tanpa menunggu respon Mama dan adiknya, ia berjalan ke kamarnya. Altaria tidak berharap banyak dari pertemuannya dengan Altair. Ia hanya mencoba mencari sesuatu dan mencoba untuk mempertimbangkan keinginan Raline dan Helva.
Dimulai dari makan malam sampai mereka sudah di ruang tengah pun suasana yang ada sangat terasa kaku. Altaria tahu itu tetapi ia memilih tak acuh.
Ia memilih menikmati teh merahnya untuk membuatnya merasa lebih tenang.
“Bagaimana kabarmu, Cassie?”
“Tira.” Altaria mengoreksi cara Altair memanggilnya dengan nama kecilnya itu.
Altair tersenyum masam. Ia kembali berdehem pelan. “Ya, bagaimana kabar kamu, Tira?”
“Tentu jauh lebih baik.” Altaria menatap sosok pria yang sudah menginjak usia di akhir lima puluh tahun itu dengan datar.
Altair mengangguk paham. “Papa senang mendengarnya. Kesehatanmu.., bagaimana?”
Altaria memilik sorot mata Altair, bentuk mata dan iris yang sama dengannya itu lekat. “Masih belum sembuh.”
“Hmm.. Begitu ya.” Rasanya canggung sekali sekarang. Altair bingung harus memulainya dari mana selain itu ia juga takut dengan respon Altaria nanti jika ia salah ucap.
“Saya akan berusaha memaafkan Anda.” Tentu saja bukan Altaria namanya kalau tidak langsung pada inti pembicaraan. Selalu tidak pandai berbasa-basi.
Keempat pasang mata itu menatap Altaria dengan terkejut, terutama Altair.
“Kamu..? Kenapa?”
Altaria mengernyit. “Bukannya Anda mau saya memaafkan Anda ya?”
Altair mengangguk cepat. “Ya tentu saja.. Hanya saja.. Papa.. Papa tidak menyangka..” Kedua matanya menatap Altaria dengan sendu, bahkan perlahan ia mulai berkaca-kaca.
Altaria melihat Helva dan Raline. Ia merapalkan kata-kata di dalam benaknya bahwa semua pasti akan baik-baik saja. Bahwa ia sangat hebat sudah mau membuka hatinya memberi maaf. Bahwa ia tidak lemah atau kalah.
“Saya memang berusaha memaafkan Anda, tapi saya mungkin tidak bisa melihat Anda di sekitar saya. Luka saya mungkin sudah diperban dan mengering tapi meninggalkan bekas yang besar dan lebar.” Altaria berkata dengan tegas.
Altaria memang tegar, ia sudah melatih dirinya selain sebagai ksatria melainkan juga sebagai ratu, tapi tetap saja ada perasaan yang terselip di sana. Perasaan sendu dan lembut, ada di sudut hatinya.
Terlebih setelah melihat fisik Papanya yang sudah tidak seperti dulu. Sorot matanya yang selalu terlihat tegas dan tajam itu kini justru terlihat sendu dan lelah membuat hati Altaria terasa ditiup angin dingin dan itu terasa perih.
Raline memandang putri sulungnya dengan haru. Ia bangga sekali terhadap putrinya. Altaria sudah berani membuka hatinya, hanya itu saja Raline sudah sangat bangga padanya. Itu pencapaian luar biasa lain yang dilakukan Altaria. Putri sulungnya selalu berusaha menyenangkan hatinya. Raline benar-benar bersyukur dikaruniai seorang anak seperti Altaria. Ia bukannya tidak memikirkan perasaan Altaria, hanya saja mereka benar-benar harus dipulihkan. Memang luka Altaria yang besar dan dalam itu tidak akan hilang sampai kapan pun. Tapi kalau tidak sekarang anak sulungnya memberi maaf, kapan lagi. Sisanya untuk melupakan itu urusan Altaria.
Helva sendiri sudah menangis pelan. Jika terlahir kembali ia meminta agar kembali menjadi adiknya Altaria. Sosok Kakak yang selalu peduli, yang diam-diam memperhatikan, yang penuh dengan kehangatan di balik sikap dinginnya. Pasti berat keputusan Altaria itu, tetapi sekali lagi Kakaknya melakukannya demi ia dan Ibu mereka. Ia terharu dan juga sedikit bersedih karena sekali lagi Altaria melakukan sesuatu demi ia dan Raline.
Lian yang sedari datang tidak berani mengganggu atau melemparkan celotehan pada Altaria itu dibuat tertegun. Pasti keputusan yang tidak mudah, tapi Altaria mau melakukannya. Ia jadi bertanya-tanya apa Altaria mau memaafkan orang tuanya?
Air mengalir di sudut mata Altair lalu dengan cepat diusapnya. “Terima kasih, Tira. Papa minta maaf karna sudah menyakiti kamu, Mama kamu dan juga Ela dengan dalam. Papa minta maaf sudah mengkhianati Mama kamu. Papa melupakan seorang Istri dan wanita yang sangat baik dan lembut yang selalu menunggu Papa di rumah demi sesuatu yang semu di luar sana. Papa minta maaf karena tidak ada disaat Mama kamu kehilangan calon adik kamu..”
Altair berhenti sejenak karena tenggorokannya terdekat. Sungguh ia menyesal sekali. Jika saja.., jika saja ia tidak bodoh.., jika saja ia bisa menahan diri.., jika saja ia memilih untuk selalu kembali ke pelukan keluarganya pasti tidak akan seperti ini.
“Maafkan Papa yang juga..” Altair menarik napas perlahan lalu menghembuskannya. “Maafkan Papa yang tidak ada di sana saat kamu butuh pertolongan. Papa minta maaf karena Papa hidup kamu harus seperti ini, hancur. Papa minta maaf, Cassie. Papa benar-benar minta maaf, Cassie. Papa menyesal, sangat menyesal...” Altair menumpahkan rasa sesaknya yang ada dalam hatinya.
“Perbuatan Papa sama sekali tidak bisa dibenarkan. Sangat salah, dan dengan kenyataan Mama kamu masih mau melayani Papa, memberi senyuman untuk Papa, memberi pelukan, bahkan memberi kesempatan pada Papa. Papa bodoh dan menyesal, Tira.. Andai saja Papa tidak terhanyut pasti tidak seperti ini.. Pasti Mama kamu tidak akan depresi.., kamu akan selalu tersenyum dan tidak mengalami masa lalu yang kelam, Ela tidak akan diculik. Semuanya salah Papa. Papa menyesal sekali.. Oh Tuhan.., aku menyesal.”
Curahan hati Altair didengar oleh mereka berempat dalam diam. Tangisan pria itu pun terdengar lirih dan penuh penyesalan.
Altaria mengusap cepat sudut matanya. Ia mengalihkan pandangan dari Papanya. Hatinya rasanya diremas dengan kuat. Altaria menggeleng cepat. Kilasan-kilasan masa lalu lewat di dalam kepalanya. Dari masa kecilnya yang dipenuhi limpahan kasih sayang, masa remajanya yang tidak menarik dan kejatuhan hidupnya sampai sekarang. Semuanya bagai gambaran hitam-putih yang berputar.
Altaria menundukkan kepalanya. Ia meraih jemari Helva yang berada di sebelahnya. Ia menatap Helva dengan mata yang bergerak cemas. Helva langsung menoleh dan ia melihat keringat di pelipis Kakaknya juga tubuhnya yang gemetar
“Obat, La. Obat gue. Tolong,” ucapnya dengan pelan.
Dengan cepat Helva langsung berlari ke kabinet yang ada di dapur, mengambil kotak obat dan mengeluarkan obat Altaria.
Raline yang melihat gerakan tiba-tiba Helva itu menatap Altaria dengan mata melebar. Ia langsung melompat di sebelah putrinya dan memeluk Altaria.
Lian yang memang tidak pernah melihat episode Altaria menjadi kaku di tempatnya. Ia bingung harus berbuat apa.
Sedangkan Altair terkejut dan ia yang hendak mendekat langsung diberikan penolakan tegas dari Raline. Ia tidak bisa mendekat, ia tidak bisa memberi perlindungan yang seharusnya pada putrinya. Hatinya ditusuk lagi dengan kuat. Karenanya putri sulungnya harus mengalami semua itu.
“Kak, ini.”
Altaria menelan obat yang disodorkan Helva di mulutnya dan meminum air dengan cepat tanpa melepas pelukan Raline.
“Kamu hebat, Nak. Anak Mama hebat.. Nggak papa kok. Nggak papa. Kamu hebat, Tira..”
Raline terus membujuk Altaria sambil memeluknya erat.
Altaria diam, ia membiarkan obat bereaksi dalam tubuhnya. Altaria menarik napas dan menghembuskannya perlahan seperti yang diajarkan dokternya. Berulang kali ia melakukannya. Selain itu ia memerintahkan Andhita untuk tenang di balik kepalanya, ia tidak butuh bantuan wanita itu, Altaria bisa mengatasinya sendiri.
Dalam diam Altair menyaksikan semua itu.
Helva yang melihat Papanya pasti merasa sangat bersalah pun duduk di sisi Altair. Ia menggenggam tangan Altair yang membuat pria itu menoleh dan melihat Helva yang menatapnya sambil tersenyum yang seolah-olah menenangkannya.
“Maaf.. Papa benar-benar minta maaf..,” lirihnya.
Helva mengangguk paham. Papanya terlihat sangat menyesal tentu saja Helva luluh dan memilih memaafkannya.
Altaria sedikit mengurai pelukan Raline ketika ia sudah merasa tenang dan Andhita mengalah tidak akan mengambil alih. Ia menatap Altair.
“Saya akan berusaha memaafkan Anda. Semua kesalahan Anda saya usahakan saya maafkan. Saya mencoba untuk tidak lagi mengingatnya, saya akan mencoba untuk tidak berada di sana lagi. Saya akan berusaha untuk menghilangkan rasa benci saya pada Anda, tapi untuk berada di sekitar Anda saya rasa tidak bisa. Selain itu Mama saya bisa ikut bersama Anda, juga Helva sepertinya sudah sangat merindukan Indonesia. Anda bisa membawa serta mereka bersama Anda.” Altaria berkata.
Helva menatap Altaria tidak percaya dengan kalimat terakhir Kakaknya itu. “Kakak..”
Altaria tersenyum pada Helva. “Gue tahu lo kangen Indo, La. Nggak papa, lo ikut Mama balik sama Tuan Altair. Gue di sini, mungkin gue akan keliling dunia. Intinya gue menuruti ke mana kaki gue mau melangkah.”
Raline tidak bisa membujuk. Ia sudah melihat sendiri penderitaan Altaria dan ia pun tahu rasanya depresi jadi ia membiarkan Altaria melakukan apa yang diinginkannya. Putrinya itu tidak pernah mengecewakannya jadi Raline tidak punya alasan untuk menahannya. Kini saatnya Altaria mengembangkan sayapnya.
Altair masih setia menatap Altaria. Ia menghapus air matanya. “Apa kamu selalu begitu, Tira?”
Altaria mengalihkan pandangannya pada Altair. “Tidak. Waktunya random tapi tidak sering.”
“Andai saja—
Altaria langsung memotong perkataan Altair. “Cukup. Inti dari semua ini saya akan berusaha memaafkan Anda. Dan bisakah kalian berangkat dua minggu lagi? Besok terlalu cepat, Ma.” Altaria menatap Raline.
Raline tersenyum lembut. “Tentu saja, Cantiknya Mama. Kami akan menemani kamu selama dua minggu. Makasih ya, Sayang.”
Altaria mengangguk pelan.
“Terima kasih, Cassie.”
“Tira. Ya.” Tanggapnya singkat dan mengoreksi panggilan Altair padanya. “Dan Lian. Kita perlu ngobrol sepertinya. Berdua.” Altaria menatap Lian yang biasanya cerewet dan banyak tingkah kini diam.
Semenjak kasus yang menimpa keluarganya pria itu jadi lebih pendiam dan dingin. Ada rasa bersalah, tapi ia tidak bisa menolerir lagi kejahatan keluarganya Lian. Jadi meski pun Lian masih sering berulah Altaria tidak akan benar-benar memarahinya. Ia membiarkannya dan hanya dengan teguran kecil Lian akan kembali fokus bekerja menggantikannya sementara sebagai pemimpin.
Lian menatap Altaria dengan sendu. “Tira. Maaf.”
Altaria memutar bola mata jengah. “Mau main billiard? Sambil ngobrol?”
Lian mengangguk. Altaria lalu berdiri diikuti Lian. Ia menatap Altair sebentar sebelum melangkah menuju sebuah ruangan bermain yang terdapat meja billiard di sana.
“Gue minta maaf untuk dosa keluarga gue, Tir.”
Altaria menoleh menatap Lian yang berjalan di sisinya. “Bukan salah lo. Jadi berhenti menyesal lagi. Lo tahu ‘kan, lo itu salah satu kesayangan gue?”
Lian tersenyum. Ia mendekat lalu membawa Altaria di rangkulannya. “I love you too, Sist.”
Bersambung..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Published: July, 7th 2021
Revised: June, 9th 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
Literatura FemininaMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)