24. Putus?!

2.6K 300 25
                                        

“Tira.”

Altaria yang baru sampai di rumah itu terkejut melihat Mamanya sedang berdiri di depan pintu.

“Mama? Mama, ngapain berdiri di situ?”

“Mama, nungguin kamu.”

Tentu saja tatapan bingung itu diberikan Altaria pada Raline. Keduanya lalu masuk ke dalam rumah dan Raline mengikuti Altaria menuju kamarnya. Begitu pintu kamar tertutup Altaria berbalik dan menatap Mamanya.

“Jadi.., ada apa, Ma?” Tanya Altaria setelah meletakkan tasnya di atas meja riasnya lalu duduk di kursinya dan Raline yang duduk di tepi ranjang Altaria.

Raline membentuk senyuman tipis. “Kamu sudah makan?”

Altaria mengangguk. “Sudah tadi bareng asisten sekretaris Tira. Ela, udah tidur?”

“Iya. Capek katanya. Mama nggak ngerti capek ngapain padahal cuma di kampus doang.”

Altaria mengulum senyum kecil. “Kayak nggak tau anak Mama yang itu aja.”

“Ya, kalau Ela terlampau santai sedangkan kamu terlampau ketat.”

“Sudah hak dan kewajiban, Ma, jadi dijalani aja.”

“Iya, Mama tau itu. Cuma Mama tau kamu yang hampir tiap hari lembur buat Mama khawatir. Kamu bukan robot, jangan diforsir tenaganya.”

“Iya, Mama Sayang.”

“Kamu selaluuu saja iya-iya tapi nggak pernah dilakuin. Kalo kamu memang mikirin Mama ya didengar perkataan Mamanya dong, Tira.”

Altaria hanya memilih mengangguk kecil sambil menyahut pelan.

Raline menatap anak sulungnya itu dengan lekat. Lalu terdengar Raline menghela napasnya berat. “Kita pulang ya?”

Altaria menaikkan salah satu alisnya menunggu kata selanjutnya dari orang yang paling dicintainya di dunia ini.

“Kasian Papa sendirian di rumah. Mama kepikiran sama Papa, nggak ada yang perhatiin makannya, nggak ada yang ngurus. Kita pulang ya, Tira?”

Wajah Altaria langsung mengeras. Ia menatap Raline dingin sebelum membentuk senyuman miring di wajahnya. “Ada kepala asisten rumah tangga di sana jadi apa yang harus Mama khawatirkan? Enggak, Ma. Kita nggak akan pulang ke mana-mana karna rumah kita di sini.”

“Sebenarnya apa masalah kamu sama Papa, Tira? Kamu sudah memusuhi Papa kamu selama sepuluh tahun, apa kamu nggak merasa rindu sama Papa? Papa itu rindu sama kamu, Tira. Papa mau—

“Cukup, Ma.” Altaria merasa sesak. Napasnya pun terasa tidak beraturan. “Ini rumah kita, Mama. Nggak akan aku biarin Mama atau pun Helva keluar dari rumah ini. Altaria nggak main-main, Ma.”

Setelahnya ia berdiri masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandinya. Tanpa melihat tatapan sendu Raline padanya, tanpa melihat tatapan sedih Raline karena jika Altaria melihatnya maka semua perasaan negatif akan semakin menumpuk padanya.

Di balik pintu Altaria mengepalkan kedua tangannya dengan erat, napasnya pun memburu. Ingin rasanya ia berteriak sekarang namun yang bisa dilakukannya adalah menahannya sekuat mungkin.

Altaria [Completed] || RevisedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang