Altaria sedang berada di dalam kamar yang ada dalam ruangannya. Ruangan yang digunakan sebagai tempatnya beristirahat dan bersantai. Saat ini gadis itu sedang duduk di sofa kasur sembari memainkan game arcade.
Sedang fokus bermain pintu ruangannya itu berbunyi dan menampakkan seorang pria di depan pintu. Altaria tidak peduli itu siapa, ia lebih memilih terus bermain.
“Kerja. Bukannya malah main.”
“Mau gue beliin lo cermin?” Altaria membalasnya tanpa menatap orang tersebut.
Ellian Darren, saudara sepupu dari pihak Altair itu mendengkus lalu duduk di sofa tanpa perlu menunggu Altaria.
“Gimana lo nggak diserang mulu? Kerjaan lo aja begini,” ujar Lian sambil memperhatikan Altaria yang terlihat seperti tidak terusik dengan kehadirannya.
Altaria tersenyum miring. “Pengen banget lo ganti posisi gue?” Tangannya sibuk menekan-nekan tombol dengan cepat dan tangkas.
Lian bertepuk tangan sebelum kemudian mendengkus keras. “Gue butuh bantuan lo.”
“Lo bikin masalah apa lagi kali ini?”
“Wanita.”
Altaria yang mendengar itu menghentikan pergerakan tangannya di atas tombol-tombol itu lalu beralih menatap Lian dengan malas. “Lagi? Yang bener aja, Lian.”
Lian justru menunjukkan cengirannya lalu berganti memelas. “Bantuin ya? Gue capek dibuntutin mulu. Mana ngaku-ngaku hamil anak gue lagi. Hamil dari mananya kalau pas gue main aja pake kondom dan jelas-jelas dia gue yang kasih minum pil kb. Selain itu, kejadiannya udah tiga bulan yang lalu masa iya udah tiga bulan perutnya nggak berkembang? Ck, bantuin gue ya? Gue mau bebas kencan.”
Penjelasan sepupunya itu membuat Altaria mengusap dadanya dengan sabar. Sepupunya ini selalu saja membuat masalah dan yang menjadi tamengnya ialah Altaria. Ck. Mentang-mentang ia cucu laki-laki pertama jadi seenak jidatnya memanfaatkan Altaria.
“Otak lo beneran udah pindah di selangkangan. Gue nggak mau bantu. Rugi di gue. Lo selesain sendiri,” katanya lalu kembali bermain dan tak mengacuhkan Lian.
Lian tidak bergeming. Ia tetap berada di situ dan kini sudah berlutut di sebelah Altaria, menatap wanita itu dengan tatapan imut.
“Kak, bantuin kek adiknya. Lagi susah ini. Cuma Kakak yang bisa bantuin aku,” katanya super lembut dan manis.
“Enggak. Lo mau bujuk dengan cara terjun dari sini pun tetap enggak.”
Lian merengut. “Kak. Cuma Kakak yang aku punya. Tolong, Kak.” Lian tidak menyerah, ia tetap berusaha membujuk Altaria untuk mau menolongnya keluar dari masalah yang dibuatnya sendiri itu.
Altaria menolehkan kepalanya pada Lian dan dalam sekejap mata kepala Lian sudah ditempeleng Altaria. Meski sakit dan membuat rambutnya berantakan tetapi Lian tidak berani memarahi Altaria. Ia hanya bisa menggerutu dalam hati karena penampilannya berantakan.
“Terakhir, Lian.” Altaria menatap Lian tajam. “Dengar? Terakhir. Kalau sampe muncul masalah yang sejenis, serupa dan mirip. Elo, gue umpankan ke buaya.” Ia menunjuk Lian dengan tegas.
Lian mengedipkan matanya dengan perlahan lalu tersenyum teramat manis. Ia langsung memeluk Altaria. “Lo emang yang terbaik. Gue janji ini yang terakhir karna petualangan gue sepertinya akan berakhir. Kemarin gue ketemu sama cewek cantik banget tapi judes. Tapi nggak tahu kenapa kayak ada setrum-setrumnya gitu pas gue ngeliat dia. Setelah gue pastikan, gue jatuh cinta. Hebat ‘kan? Lian jatuh cinta. Setelah lo bantuin gue nanti lo gue traktir sekalian perayaan untuk perasaan gue.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)