36. Shocked

2.5K 305 38
                                        

Seperti yang Andhita katakan pada Feren dan Johansson tempo hari. Ia membuat Respati memohon pengampunan darinya begitu juga keluarga Lian.

Saat ini Andhita sedang duduk berhadapan dengan Respati di dalam ruangannya. Kendra senantiasa menemani Andhita di sisinya.

Andhita menatap wanita yang lebih muda lima tahun darinya itu dengan lembut. “Mau nangis sampai kapan? Gue tahu lo sedih tapi mata gue juga sakit liat lo nangis di depan gue tanpa henti.”

Respati menatap Andhita penuh permohonan. Air matanya kembali jatuh meski pun sudah menghapusnya.

“Altaria, gue mohon. Gue salah, gue terlalu dibutakan sama dendam gue tapi tolong jangan masukkan gue ke penjara. Gue nggak punya apa-apa lagi. Gue udah cerai, kedua orang tua gue nggak peduli sama gue. Gue janji nggak akan ganggu lo lagi. Gue janji bakal menghilang dari pandangan lo asalkan gue nggak dipenjara, Aria.”

Andhita tersenyum lalu menggeleng. “Gue udah cukup kenal lo, Res. Lo nggak akan pernah puas sama diri lo sendiri. Lo nggak mau ada orang lain di atas lo. Alasan-alasan lo itu gue terima tapi sayangnya gue nggak percaya. Lo licik, tapi gue lebih licik dari lo. Mending lo terima nasib sebelum rekaman video asusila lo gue sebar luaskan dan skandal perselingkuhan lo dengan beberapa pejabat negara terbongkar. Apa nggak akan lebih malu lo? Yang ada mati bunuh diri lo. Mendingan di penjara ‘kan? Lo masih bisa menyelamatkan diri dari masyarakat luas dan dari kematian? Di penjara lo bisa tobat, bisa merenungi kesalahan-kesalahan lo. Bukankah solusi gue udah yang paling baik?”

Tangisan yang tadinya deras kini berhenti. Seperti inilah Respati yang dikenalnya. Bermuka dua dan tidak pandai berlakon.

“Cepat banget tangisan lo berhenti. Marah ya?”

Kedua tangan Respati mengepal. “Gue lakuin itu semua juga karna lo. Selalu lo yang di atas. Lo itu harusnya di bawah gue. Harusnya lo terpuruk hebat saat ini kalau saja adik lo nggak ditemukan. Harusnya lo minta maaf sama gue karna udah berani macam-macam sama gue dan lo dengan lancangnya berani ancam gue?!! Lo itu hanya sampah, Altaria. Lo itu nggak pernah dianggap di keluarga besar kita. Lo itu anak yang nggak diharapkan!”

Jangan lupa bahwa Altaria adalah seorang petinju amatiran yang sudah hampir sepuluh tahun berlatih tinju jadi hanya dalam sekali pukulan ringan dapat membuat lawannya pusing seperti yang dialami Respati saat ini. Wanita itu sudah bersandar sambil memegang kepalanya yang pusing.

Andhita mendengkus pelan. Ia merapikan blazer kuning yang dipakainya. Andhita memberi kode pada Kendra yang sedari tadi hanya diam untuk membawa Respati ke luar dari ruangannya dan tidak lupa memblok akses sepupu jauhnya itu dari semua perusahaan yang ada di bawah naungan Bima Grup.

Setelah memberi pelajaran pada Respati kini Andhita harus dihadapkan pada jejeran berkas yang sangat menyebalkan. Andhita berdecak pelan, hidupnya hanya untuk bermain flute bukannya berhadapan dengan grafik-grafik, angka-angka dan tulisan-tulisan ini.

Baru saja Andhita menyelesaikan satu buah laporan pintunya diketuk dan jika tanpa dibalas itu artinya Andhita mengizinkan orang tersebut masuk.

Kendra berjalan menghampiri Andhita lalu berhenti di depan mejanya. “Tuan Lian sedang dalam perjalanan kemari, Miss. Mungkin sepuluh menit lagi sampai.”

Andhita mengernyit, ia mengalihkan pandangannya pada Kendra. “Lian?”

Kendra mengangguk pasti.

Altaria [Completed] || RevisedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang