Hujan terlihat jatuh dengan derasnya di bumi. Suasana hatinya yang tadinya mendung sedikit terobati melihat tetesan-tetesan air yang tidak ragu-ragu menjatuhkan dirinya itu.
Altaria menatap langit yang terlihat gelap. Beberapa kali ia mendesah pelan. Ia tidak menyangka jika efek perkataan Ethnan itu membekas dan terus diingatnya. Altaria rasa harusnya ia tidak terlalu memikirkan perkataan Ethnan. Akan tetapi, tak dipungkiri kalimat itu sedikit berefek padanya.
Selama ini Altaria berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Benar, ia memiliki Raline Ibunya, Helva, Johansson dan keluarganya, Feren, Lian dan juga Kendra akan tetapi ia tetaplah merasa sendiri.
Tidak pernah ia menggantungkan perasaannya pada seseorang. Altaria pernah sangat kecewa karena berharap terlalu banyak, karena mengira bahwa tempatnya bersandar sudah tepat. Namun pada kenyataannya harapannya itu menenggelamkannya pada lubang yang tak bisa membuatnya keluar.
Altaria beralih menaruh tatapannya pada layar ponselnya yang menampakkan sebuah pesan singkat.
Dona sedang diatasi. Altaria tidak akan membuat kedua orang tua wanita itu menderita walau bagaimana pun ia tidak akan melibatkan orang-orang yang tidak bersalah akan kesalahan orang lain. Dona akan menanggung kesalahannya sendiri dan berjuang sendirian.
Altaria hanya membaca pesan itu tanpa membalas lalu matanya melihat sebuah pemberitahuan akan berita lainnya yang masuk.
Harga saham perusahaan terus turun karena beberapa dewan direksi, dewan komisaris dan beberapa pemegang saham sudah Altaria jatuhkan. Ia tersenyum miring sebelum pesan lain masuk dimana orang-orang itu meminta bertemu dengannya.
Jangan harap mereka bisa bertemu dengan Altaria. Gadis itu belum puas bermain-main. Semuanya baru dimulai. Ia tidak akan pernah jatuh, karena ia tidak sekotor mereka. Permainannya terlalu rapi, jadi tidak akan bisa dijatuhkan.
Kendra yang baru saja masuk ke dalam kamar hotel setelah dipersilahkan Altaria menatap bosnya dengan lekat.
“Nona, kita harus segera berangkat.”
Altaria menurunkan tangannya yang memegang ponsel lalu menatap Kendra seraya mengangguk. “Tolong bawa koper saya.”
Tanpa menunggu lama Kendra mengambil koper sedang milik Altaria dan menyeretnya keluar dari kamar yang ditempati Altaria selama dua hari itu. Kendra berjalan mengikuti Altaria yang berjalan dengan tegas dan angkuh.
–––––––
Altaria sengaja tidak diam di satu tempat dalam waktu yang lama. Selain karena ia menghindar dari mereka yang mencari-carinya, ia juga sekalian liburan.
Seperti saat ini hanya dalam waktu empat jam sudah berada di kota lain lagi. Belitung.
Altaria menatap pemandangan dari balik kaca jendelanya dengan kagum. Selama pemandangan itu bagus, tidak peduli ratusan kali ia mendatangi suatu tempat tidak akan pernah membuatnya bosan.
Ia menarik napas perlahan dan menghembuskannya juga dengan perlahan. Sesak itu masih terasa dan rasanya sangat berat.
Meski pun ia sudah menjatuhkan satu per satu orang yang mengusiknya namun kebahagiaan itu tidak dirasakannya. Benar ia puas, tetapi disadarinya ada kekosongan di sana. Sudah lama Altaria tidak mengecap satu kata yang sangat berarti bagi banyak orang itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
Genç Kız EdebiyatıMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)