untold story

423 20 1
                                        

Altaria memandang langit sore itu dengan lekat. Waktu menunjukkan pukul enam malam namun Altaria masih berada dalam ruangannya. Ia tidak ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Lagipula ia juga ada janji dengan seseorang.

Pintu yang diketuk terdengar yang berarti tamunya sudah datang. Ia pun melangkah untuk membuka pintu itu.

Altaria mengulum senyum menatap orang tersebut.

“Hai. Aku bawa ayam goreng sama jus anggur.”

Ucapan Ethnan itu membuat Altaria tertawa kecil. “Cuma itu? Perasaan aku tadi minta kamu bawain risoles deh.”

Ethnan tersenyum lebar lalu melangkah masuk ke ruangan Altaria. “Ada kok. Tenang aja. Aku pasti beliin.” Pria itu pun duduk di sofa. Setelah menaruh tasnya di sebelahnya ia langsung membuka bawaannya.

“Wah keliatannya enak” Altaria langsung mengambil tempat di sebelah Ethnan dan tanpa menunggu lama langsung mencicipi risoles tentunya. “Eum.. ini enak banget.”

Ethnan yang melihat itu tersenyum geli. Ia mengusap lembut sudut bibir Altaria yang terdapat minyak. “Suka?”

Altaria mengangguk. “Di tempat biasa ‘kan?”

“Iya di tempat biasa.”

Altaria pun sibuk menikmati risolesnya setelah itu ia beralih ke ayam goreng. Ethnan yang melihat Altaria yang makan dengan lahap pun jadi ikut ingin mencobanya. Jadi tanpa menunggu lama ia ikut menikmati ayam goreng itu.

Untuk dua puluh menit itu hanya diisi dengan kedua orang yang sibuk menyantap makan malam mereka.

“Ah, kenyang banget.” Altaria menyandarkan tubuhnya di sofa. “Thank  you, Hani.”

“Sama-sama.”

Keheningan pun mengisi atmosfer mereka sebelum kemudian Altaria memecah kesunyian itu. “Sebenernya aku minta kamu untuk makan malam di sini aja itu karna aku mau cerita.”

Ethnan sudah mengambil posisi duduk tegap lalu menatap Altaria yang sudah menatapnya juga dengan serius. “Cerita apa?”

“Setelah dengar ceritaku. Kamu harus ngeyakinin diri kamu masih mau jadiin aku istri kamu atau nggak.”

Perkataan Altaria itu menimbulkan raut bingung di wajah Ethnan. Mengabaikan ekspresi Ethnan, wanita itu pun mulai menceritakan rahasia kelam yang baru pertama kali dibukanya lagi pada orang asing. Ia sudah yakin dan mantap untuk menceritakannya pada Ethnan. Tujuannya untuk memastikan keinginan Ethnan itu. Agar pria itu tidak menyesal nantinya.

Mimik wajah Ethnan berulang kali berubah mendengar cerita Altaria. Setelah Altaria selesai membagi kisah hidupnya belasan tahun lalu tanpa disangka Ethnan langsung memeluknya dengan erat.

Pelukan tiba-tiba Ethnan membuat Altaria terkejut. “Hani..”

“Aku minta maaf karna kamu harus ngalamin semua itu. Kamu pasti sakit banget waktu itu. Pasti hancur banget kamu.”

Tanpa dicegah Altaria menangis dalam dekapan Ethnan. Ia membalas pelukan itu dengan sama eratnya.

Ethnan mengelus lembut rambut Altaria untuk memberi tahu bahwa pria itu menyayangi Altaria dengan tulus.

“Jahat banget mereka. Kamu yang semuda itu harus hidup dalam trauma. Altaria. Sayangku. Kamu itu pantas disayangi. Kamu sangat pantas untuk dicintai.”

“Hani..”

“Aku nggak ngerasa jijik atau apa pun yang mungkin kamu pikirin ketika nanti kamu cerita soal ini ke aku. Aku justru pingin banget bunuh mereka yang udah ngelakuin hal itu sama kamu. Aku sangat amat marah. Tapi mereka semua udah nerima hukuman yang setimpal.”

Ethnan melonggarkan pelukannya lalu menatap Altaria dengan lekat. Kedua tangannya menangkup pipi Altaria lalu menatapnya dengan lembut. “Makasih karna kamu masih mau bertahan. Makasih karna mau jadi kuat dan nggak nyerah. Makasih karna kamu milih untuk tetap hidup. Makasih, Aria.”

Altaria menangis dengan tergugu, kepalanya pun tertunduk. Dengan hati-hati Ethnan mengusap airmata Altaria yang mengalir.

“Aku akan membalas semua yang kamu rasain itu dengan kasih kamu cinta yang besar. Aku akan bahagian kamu. Aku nggak akan nyakitin kamu atau buat kamu nangis. Kamu sudah sangat terluka jadi aku kalo berani nyakitin kamu lagi berarti aku nggak tahu diri. Aria, aku menerima kamu dan semua masa lalu kamu itu.

Kamu nggak kotor, kamu nggak menjijjikkan. Kamu cantik. Kamu indah. Kamu mengagumkan. Kamu mempesona. Kamu keren. Kamu menakjubkan.”

Altaria tak mampu membalas perkataan Ethnan. Ia justru memilih untuk menghambur dalam pelukan Ethnan.

“Makasih ya udah ceritain semua itu sama aku. Makasih udah percaya sama aku. Mari kita membangun cerita baru yang penuh dengan cinta.”

Altaria mengangguk dalam pelukan Ethnan. “Ayo buat cerita baru. Makasih ya, Hani. Makasih.”

“Makasih juga, Aria. Aku cinta kamu.”

“Aku juga cinta sama kamu.”

Published: June, 10th 2024

Altaria [Completed] || RevisedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang