2. An Emotion

6.5K 540 15
                                        

Tatapan matanya sangat tajam dan tertuju ke seluruh penjuru ruangan.

Tangannya melempar sebuah map ke atas meja sehingga membuat kertas-kertas yang ada di dalamnya berhamburan keluar.

Rapat yang sudah berjalan selama kurang lebih tiga jam itu membuat emosinya berada di ubun-ubun. Beberapa laporan yang diterimanya jelek, berantakan, tidak tuntas dan itu membuatnya geram.

“Kalian ini bekerja tidak? Saya menggaji kalian tinggi tapi kenapa kerjaan kalian nol besar?! Nol besar!” Katanya dengan lantang dan keras. “Apa hal sepele ini harus saya yang selesaikan?!”

Semua peserta rapat di pagi hari itu hanya mampu menelan saliva tanpa berani menjawab Altaria. Rapat kali ini kacau. Suasana rapat sudah sangat beku bahkan ketika baru dimulai dimana Altaria masuk dengan raut dingin.

“Selesaikan masalah logo ini! Dan kalian! Apa saya juga harus turun tangan untuk deal dengan artis itu? Kita punya job desknya masing-masing. Dan pekerjaan saya bukan hanya berputar pada itu saja! Dibandingkan kalian pekerjaan saya lebih banyak bukan hanya duduk ongkang-ongkang kaki dan memberi tanda tangan!” Altaria benar-benar dibuat marah hari ini.

Isi kepalanya sudah terasa panas. Kalau tidak mengingat kinerja dan keberhasilan mereka sebelumnya mungkin saja Altaria sudah memecat orang-orang ini.

“Kendra!”

Kendra Olliver, sekretaris gadis itu segera mendekat begitu dipanggil. Alataria tidak menatapnya karena matanya masih setia tertuju pada semua peserta rapat yang ada.

“Pastikan laporan pekerjaan mereka masuk dalam tiga hari ke depan. Kalau tidak, siap-siap turun jabatan.”

Kendra mengangguk paham dan kembali undur diri.

“Lalu kenapa angka di laporan pemasaran bulan ini seperti itu?! Kalian kerja tidak? Kenapa juga tanggapan masyarakat jadi turun?! Bulan lalu kita brand nomor satu kenapa sekarang turun?! Saya ‘kan sudah bilang keluarkan semua ide kreatif kalian tapi kenapa yang saya terima justru ini?! Mau itu masuk akal atau nggak utarakan ide kalian. Bukan cuma diam dan monoton, membosankan.” Altaria menggeram, bahkan gigi-giginya sudah saling bergemeletuk.

“Sok-sokan lembur tapi tidak ada yang becus! Selesaikan semua permasalahan ini dalam lima hari! Kalian tim pemasaran dan humas, saya tunggu laporan baru dua hari ke depan! Paham semua?!”

Semua peserta rapat dengan takut mengangguk cepat. Altaria mendengkus melihat orang-orang itu.

“Rapat selesai! Mulai tiga hari ke depan tiap divisi rapat dengan saya dua kali seminggu jam delapan pagi selama satu bulan!” Putusnya lalu menyuruh semua orang untuk keluar terkecuali dirinya.

Altaria memijat pelipisnya, kepalanya terasa pening. Sesudah rapat ia tidak langsung kembali ke ruangannya. Ia memilih berada di ruang rapat sebentar, sembari mengistirahatkan pikirannya yang mumet. Dan sudah sekitar lebih dari lima menit ia berada di ruangan itu. Setelah dirasanya cukup ia pun berdiri. Namun baru saja ia hendak berdiri sebuah cangkir diletakkan di depannya. Aroma itu sudah sangat dihafalnya, teh merah yang panas dengan aroma yang khas.

Wanita itu tidak jadi beranjak. Ia memilih tetap di sana sambal menikmati secangkir tehnya.
Thanks, Kendra!” Ia mengambil cangkir teh itu, meniupnya lalu meminumnya dengan hati-hati. Efek yang ditimbulkan setelah meminum teh tersebut adalah membuat Altaria merasa lebih tenang dan rileks.

Kendra mengangguk sebagai respon. “Jam satu siang akan ada rapat dengan televisi swasta untuk iklan, jam setengah tiga, Nona, harus meninjau pabrik minuman, jam empat ada rapat dengan beberapa rekan bisnis melalui sk*ype.”

Altaria [Completed] || RevisedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang