Entah sudah ke berapa kalinya gadis berkuncir kuda itu berjalan bolak balik dari mejanya menuju sebuah lemari.
Ini semua dilakukannya agar pekerjaannya cepat selesai tanpa harus lembur. Tapi tak dipungkiri ia mulai merasa lelah. Sebenarnya bisa saja ia meminta tolong sekretarisnya, tetapi gadis itu sedang malas untuk bertemu orang. Bahkan untuk berkas-berkas yang perlu ditanda tanganinya akan diurusnya besok, kecuali yang sangat teramat darurat hanya ditaruh di bawah kaca jendela yang hanya bias memuat tumpukan berkas. Ia sengaja membuat itu jika tidak mau berinteraksi dengan manusia.
Tak lama kemudian Altaria Gavea, mendesah pelan setelah pekerjaannya selesai. Ia menatap ruangannya yang sudah sangat berantakan. Ia berdecak malas karena harus membereskan kekacauan yang dibuatnya sendiri.
Lama memperhatikan ia sampai pada satu kesimpulan. Nanti sajalah, ia perlu mengistirahatkan tubuhnya. Sebelum benar-benar bersandar malas di kursinya. Ia melangkah menuju lemari pendingin yang berada di dekat mejanya. Ia meraih sekaleng minuman penyegar tenggorokan rasa leci. Langsung dibukanya dan meneguk hingga setengah. Setelahnya ia berjalan ke sofa yang ada diruangannya dan langsung menyandarkan punggungnya dengan nyaman.
Dengan kaleng di tangan kanannya dan ponsel di tangan kirinya, matanya bergulir pada tiap hal yang dilihatnya dari layar ponselnya. Hingga netra yang dilapisi lensa kontak berwarna abu-abu itu menangkap suatu unggahan yang terlihat menarik.
Ia menatap unggahan itu dengan berbinar. Setelah mengecek jadwalnya yang kosong pada hari itu Altaria pun segera memesan tiket menuju negara tersebut untuk menghadiri sebuah acara.
Tidak lama, ia hanya perlu menunggu selama dua bulan untuk menghadiri acara tersebut. Ia akan dengan sabar menunggunya dan mulai memikirkan untuk kerja sistem ngebut demi bias tepat waktu ke sana..
⭐⭐
“Aku ‘kan udah bilang, Aria, kita nggak bisa putus,” suara cempreng itu memenuhi pendengaran Altaria.
Memang baru lima menit ia duduk di sini. Tapi rasanya sudah sangat lama dan membosankan. Sosok di hadapannya ini membuat Altaria merasa jengah. Gadis itu menguap tak acuh. “Kita putus. Aku nggak butuh persetujuanmu untuk itu. Lagipula aku nggak suka yang murahan.”
Ucapannya itu membuat wajah pria yang duduk berhadapan dengannya dibuat merah padam.
Keningnya mengernyit lalu tersenyum miring. Ia lalu memilih untuk segera keluar dari kafe tersebut tetapi sebelum pergi Altaria menatap pria itu dan berkata, “pesananmu sudah aku bayar, sekali-kali menraktir orang baik ‘kan?” Setelahnya ia berlalu dengan hati yang puas.
Untung saja Altaria tidak sesayang itu pada pria yang baru saja menjadi mantan pacarnya. Ia sungguh menyayangkan waktu enam bulannya dengan pria yang tidak pantas mendapatkan dirinya itu.
Mobil yang dikendarainya baru saja keluar dari parkiran kafe tempat temu janji dengan mantan kekasihnya itu terpaksa berhenti mendadak. Dengan geram gadis itu keluar tak lupa membanting pintu mobilnya.
Dengan rahang mengetat dan kaki yang menghentak Altaria berjalan mendekati mobil yang baru saja menabrak sisi mobilnya dari depan. Ia dengan brutal memukul kaca pengemudi.
Karena hal itu pengemudi mobil tersebut pun keluar.
Altaria menatapnya dengan nyalang meski matanya tertutupi oleh kacamata hitamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)