Altaria menatap pria di hadapannya yang memakai setelan semi-formal dengan tenang.
“Beda ya punya janji dengan seorang pimpinan,” ujar Ethnan begitu mengambil tempat duduk berhadapan dengan Altaria. “Tepat waktu dan juga pasti diantar.”
Altaria mengulum senyum. “Saya yakin bukan pertama kali kamu berkencan dengan seorang pemimpin perempuan.” Ia berkata sambil membuka buku menu dan melihat daftarnya.
Ethnan terkekeh pelan. “Ketahuan ya?”
“Terlalu berani dalam mengajak. Makanan kita sudah saya pesankan. Nggak papa ‘kan?” Tanya Altaria begitu menutup buku menu dan menaruh perhatian pada Ethnan.
Pria necis dengan tampilan rapi, wajahnya tampan dan tentu menarik di mata, senyumannya pun manis dan matanya yang sedikit sayu itu memikat. Sepertinya matanya itu merupakan salah satu daya tariknya selain wajah tampannya. Tak ada brewok, wajahnya bersih, rambutnya pun dipotong rapi tanpa memakai gel atau pomade, sangat natural.
Ethnan pun tidak ketinggalan mengagumi perempuan di hadapannya. Evening dress polos berwarna biru langit membuatnya terlihat lembut. Kalau soal wajah tidak usah ditanya lagi. Altaria sangat cantik dalam definisi pria mau pun wanita, auranya sebagai pemimpin pun tidak main-main.
“Nggak papa,” jawabnya sambil ikut tersenyum. “Kamu manis sekali malam ini,” pujinya terang-terangan.
“Dressnya? Atau saya?”
“Dua-duanya.”
“Dasar perayu.”
Ethnan mengendik. “Tenang saja, kejujurannya melebihi rayuannya.”
Altaria menggeleng-gelengkan kepalanya atas pernyataan Ethnan yang terdengar berlebihan di telinganya.
“Udah sering rapat di kantor saya?”
Ethnan terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab. “Cukup sering. Saya sering lihat kamu tapi nggak pernah berpapasan.”
“Dan justru berpapasan yang lebih tepatnya kecelakaan baru kita bertemu.”
Ethnan mengangguk cepat. “Saya benar-benar lalai hari itu. Untung aja kamu nggak papa.”
Jika mengingat itu Altaria hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ya, untung saja ia tidak apa-apa.
“Lupakan saja. Udah lama juga ‘kan kejadian itu? Ngomong-ngomong kamu udah berapa lama bekerja di Firma Hukum N?” Tanya Altaria dengan serius.
“Empat tahun. Sebelumnya dua tahun di London, lima tahun di Los Angeles dan sisanya di sini,” jelasnya.
“Oh, lulusan luar negeri juga?”
Ethnan menggeleng seraya tersenyum. “Saya lulusan Indonesia tapi apply lamaran sengaja di luar negeri untuk mengumpulkan ilmu yang hendak dibawa kemari.”
“Pemikiran yang bagus. Jadi sudah empat tahun di sini?”
“Yep. Di mana saja tetep hectic tapi memang lebih ketat di luar negeri dan lebih efesien,” ujarnya.
Altaria yang mendengar itu jadi menatap Ethnan penuh minat. Meski terlihat luwes dalam berbicara yang tidak lepas dari profesinya tapi Altaria dapat menangkap kebanggaan Ethnan dalam bercerita soal pekerjaannya.
“Tapi hukum di mana-mana bisa dimanipulasi apalagi kalau ada uang, tinggal lempar saja segepok maka tutup mulut.”
“Ngomongin diri sendiri nih?” Ethnan mengernyit yang dibalas anggukan cepat Altaria.
“Orang yang bekerja di bidang hukum pasti udah nggak asing lagi jadi nggak perlu sok nggak tahulah,” kata Altaria dengan begitu santainya.
Ethnan mengangguk paham. “Dunia kalian adalah salah satu yang gelap.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)