Apa yang dialami Altaria adalah suatu aib dan masa kelam baginya. Tetapi semua itu harus dialaminya. Ia harus berjuang dengan menyeret tubuhnya yang tidak sanggup berdiri. Hingga kini Altaria masih bolak-balik konsultasi untuk menenangkan dirinya dan mengupayakan untuk sembuh.
Berkat Feren yang sigap membantunya Altaria segera ditangani meski pun tetap saja ia “sakit”. Altaria sungguh bersyukur mengenal Feren dan kini sahabatnya itu sedang menebar senyuman bahagianya di atas pelaminan bersama sekretarisnya.
Altaria bahagia dan bangga dengan Feren. Bukan hal mudah bagi Feren bisa bertahan dengan Kendra karena kesibukan pria itu, tetapi kesabaran Feren berbuah manis. Kini mereka berbahagia dan melangkah ke dalam fase baru dari kehidupan mereka, yaitu rumah tangga.
Altaria duduk sambil menyesap perlahan jus anggurnya. Ingin rasanya ia meminum wine, tetapi mengingat ia kemari tidak memakai supir maka ia tidak boleh minum.
“Feren cantik sekali ya, Tir.”
Altaria menoleh menatap Ibunya tak lupa menampilkan senyumannya. “Banget, Ma.”
“Mama nggak masalah kamu nggak nikah. Mama cuma mau kamu happy, ya, Nak ya.”
Altaria mengangguk kecil. Bohong kalau ia berkata tidak mau hidup bersama seseorang dan saling berbagi cinta, tetapi hatinya harus diperbaiki terlebih dahulu karena untuk melangkah ke sana tidaklah mudah. Terbukti dari semua hubungan asmaranya yang tidak berakhir manis karena Altaria selalu mencari-cari kesalahan setiap pria yang mendekatinya. Memang tidak ada manusia yang sempurna hanya saja Altaria tidak ingin disakiti. Baginya melindungi dirinya sendiri bukanlah hal yang salah karena ia tahu, lelaki yang tidak pantas memeluk kekurangannya tidak boleh bersamanya.
Selain itu harus ia akui bahwa ketakutan itu masih sering menghantuinya. Jadi Altaria pun tidak terburu-buru dalam hal itu.
Disaat berpikir begitu tiba-tiba ia teringat Ethnan. Sejujurnya ia merindukan pria itu, hubungan mereka jauh merenggang. Altaria yang menghindari Ethnan dan Ethnan yang seolah malu untuk bertemu dengannya. Ia mendesah pelan, apa harus berlarut-larut seperti ini masalahnya? Ethnan itu setengah tulus padanya, Altaria tidak bisa menaruh hati padanya. Meski begitu semua perhatian, kesabaran, dan sikap pengertian Ethnan juga membuat Altaria selalu berpikir.
Apakah Ethnan pantas bersamanya? Apakah Ethnan akan menerimanya dan segala kekurangannya? Apakah Ethnan benar-benar menyukainya?
Altaria mendesah pelan. Ia hendak berbicara dengan Mamanya ketika ia mendengar teriakan dari meja prasmanan. Altaria langsung melihat dan matanya membelalak ketika mendapati adiknya sedang jongkok, menutup kedua telinganya dan menangis keras.
Dengan sigap Altaria dan Raline segera menghampiri Helva.
Altaria menggetatkan giginya. Ia tahu adiknya masih dalam masa pengobatan, tapi ia sudah cukup stabil tidak mungkin Helva seperti itu kalau tidak ada penyebabnya.
Altaria memeluk Helva lalu berbisik di telinganya, Raline pun melakukan hal yang sama bahkan Ibu dua anak itu sudah menangis.
“La, ini Mama, Sayang. Ini Mama. Ela, nggak usah takut lagi.”
“Nggak papa, Dek. Nggak papa. Nggak papa. Sstt...” Altaria mengusap kepala Helva dengan lembut.
Feren dan Kendra yang harusnya berada di atas pelaminan kini sudah turun untuk menemui mereka.
Sedangkan orang tua dari kedua mempelai menatap kebingungan akan kepanikan Feren dan Kendra. Namun mereka juga ikut turun dan mendekati Altaria dan Raline.
Feren melihat Altaria dan Raline yang memeluk Helva. Feren juga tentunya marah. Walau bagaimana pun Helva sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.
Kendra yang tentu saja berstatus sekretaris Altaria itu langsung bergerak cepat dengan meminta video CCTV ballroom.
“Tir, mending lo bawa Ela ke ruangan khusus pengantin yang ada di sini dulu,” kata Feren yang sudah berjongkok dan mengelus pelan lengan Altaria.
Raline menatap Feren dan Kendra dengan sendu. “Tante minta maaf ya sudah mengacaukan pestanya.”
“Nggak, Tante. Sama sekali enggak. Tante, nggak perlu minta maaf. Feren dan Ken nggak merasa pesta kami kacau,” bantah Feren.
Ibunya Feren mendekat lalu memberi senyuman pada Raline. “Nggak kok, Mbak. Mbak, nggak usah khawatir. Anggap aja ini cerita di hari pernikahannya Feren.”
Raline tersenyum lalu mengangguk. “Makasih, Rin.”
Setelah dirasanya Helva cukup tenang Altaria membantu Helva berdiri. Altaria lalu menatap Raline lekat. “Mama, tolong temani Ela ya? Nanti aku susul, aku harus selesaikan ini dulu.”
Raline mengangguk sambil merangkul Helva dan dilindungi lima orang bodyguard, Raline membawa Helva ke ruangan khusus pengantin.
Setelah mereka pergi Altaria menatap orang-orang yang berkerumun dan berbisik-bisik dengan tatapan tajam.
Pandangannya langsung beralih pada Kendra yang mana pria itu langsung mendekati Altaria dan menunjukkan bukti video CCTV.
Benar saja, adiknya dilecehkan di pesta pernikahan sahabatnya. Amarahnya naik ke ubun-ubun. Ia marah sekali, bahkan riasannya tidak bisa menutupi wajahnya yang sudah memerah.
Feren yang melihat Altaria hendak meledak segera memeluknya.
“Tir, tahan yaa... Kalau bukan acaranya gue nggak papa lo ngamuk, tapi please.. Demi gue, ditahan,” bisik Feren tepat di telinga Altaria.
Altaria memejamkan matanya sesaat, mengatur napasnya agar menjadi teratur. Setelah cukup bisa mengontrol emosi, Altaria membuka matanya.
Ia melihat empat orang bodyguardnya yang lain. Altaria memanggil mereka untuk mendekat lalu dengan gerakan mata pada Kendra yang dengan sigap dimengerti pria itu, ia langsung menunjukkan wajah seorang pria pada empat bodyguard tersebut.
Altaria menatap mereka dengan tajam. “Seret dia dari sini dan pastikan hukumannya setimpal. Tapi nggak boleh mati. Saya mesti tahu siapa yang nyuruh dia,” desis Altaria tertahan.
Keempatnya mengangguk lalu mengedarkan pandangan mereka mencari pria yang sudah berani menyentuh adik dari bos mereka. Salah seorang dari mereka melihat pria itu yang baru keluar dari ballroom.
“Di sana,” katanya dengan tegas lalu keempat bodyguard Altaria itu pun mengejar pria tersebut.
Feren menatap tamu-tamu undangannya sambil tersenyum manis. “Maaf ya semua ada keributan kecil. Semuanya aman terkendali, nggak ada hal berbahaya jadi semuanya boleh kembali menikmati pestanya,” katanya.
Feren juga menatap kepada orang tuanya dan juga mertuanya bahwa semua sudah teratasi jadi mereka bisa kembali ke atas pelaminan. Awalnya Rini, Ibu dari Feren itu ragu, tetapi melihat raut meyakinkan putrinya maka mereka pun naik ke atas sedangkan kedua mempelai itu masih di bawah, menemani Altaria.
Sebelum kembali naik di atas pelaminan ia menatap Altaria yang masih berusaha mengendalikan dirinya. Johansson yang baru tiba dengan keluarganya dibuat bingung karena mempelai yang berada di bawah. Dengan cepat ia mendekati sepasang mempelai itu dengan Sora dan kedua anaknya yang mengikuti dari belakang. Begitu sampai ia terkejut melihat tampang Altaria yang terlihat marah.
Feren bertemu pandang dengan Johansson begitu pula Sora.
“Maaf ya kami terlambat. Biasa si bungsu ngambek tadi,” kata Sora pada Kendra dan Feren.
Kendra mengangguk sopan sambil tersenyum kecil. Feren pun demikian. “Nggak papa kok, Kak. Belum selesai juga pestanya,” jawab Feren.
Sora tertawa kecil. “Bagus deh kalo gitu.” Sora lalu menyentuh lengan suaminya. “Babe, kita cari tempat duduk yuk?”
Johansson memberi senyuman hangat. “Kami duluan ya sama anak-anak. Aku mau temani Tira dulu.”
Sora mengalihkan pandangannya pada Altaria yang masih diam itu. Ia mendesah pelan, kasihan sekali Altaria itu. Sora mengangguk kecil pada Johansson sebelum beranjak ia memeluk singkat Altaria lalu beranjak mencari tempat duduk.
“Tira kenapa?” Tanya Johansson pada Feren dan Kendra.
Kendra mendesah pelan. Kembali ia menunjukkan video yang didapatnya pada Johansson dan tentu saja itu mengundang kemarahan Johansson. “Brengsek,” umpatnya pelan. “Lalu di mana Helva dan Tante Raline?”
“Di ruangan khusus pengantin.” Feren yang menjawab. “Bang, tolong temani Tira ya? Kami harus kembali naik.”
Johansson mengangguk tegas. “Naiklah. Pesta kalian masih berjalan.”
Kendra mengangguk paham, Feren pun memegang lengan Kendra.
“Tira, gue naik. Lo sama Bang Johan ya?”
Altaria mengerjapkan kedua matanya lalu menatap Feren. “Hai, Feren.”
Ketiga orang itu mengerutkan kening sebelum satu kesimpulan didapat mereka. “Andhita?” Pelan Feren menggumam.
“Selamat ya untuk kalian berdua. Semoga awet yaa.. Yahh aku nggak bawa kado. Nanti deh aku pesen dulu.” Andhita berbicara dengan lembut tak lupa senyuman manisnya.
Johansson memijat keningnya pelan. “Lo ikut gue.”
Andhita berdecak pelan. “Aku mau menikmati pestanya Feren, Bang.”
Johansson menggeleng. Ia mendekati Andhita lalu berbisik di telinganya. “Jangan buat ulah, Andhi. Ini pesta pernikahan Feren. Bekerja samalah seperti biasa. Banyak pasang mata di sini.”
Mau tidak mau Andhita mendengkus pelan.
“Jaga sikap lo,” peringat Feren sebelum kembali ke atas pelaminan bersama Kendra.
Tersisa Andhita dan Johansson.
“Kita ketemu sama Tante Raline dan Helva. Lo nggak bisa berada di sini.”
“Menyebalkan. Kalian ini kurang hiburan sepertinya.”
Johansson tidak peduli lalu menggenggam pergelangan tangan Andhita dengan cukup kuat, namun tidak menyakitinya. Kemudian membawanya menjauh dari tempat acara.
Setibanya di dalam ruangan tempat pengantin untuk berias tadi. Johansson dan Andhita melihat Raline yang sedang merangkul sambil mengusap-ngusap pelan lengan anak bungsunya dan Helva yang bersandar di bahu Ibunya sambil memejamkan mata.
“Tante.”
“Johan,” ucap Raline begitu melihat Johansson yang berjalan ke arahnya dengan Andhita di sisinya.
Pelatih sekaligus Kakak bagi Altaria itu mengangguk. “Aku udah denger tadi. Helva udah baik?”
Raline mengangguk pelan. “Sudah. Dia udah nggak papa, tapi mungkin kami nggak akan balik ke acara. Helva udah nggak mau ke sana soalnya.”
Johansson tersenyum maklum. Tentu saja, meski pun tenang bukan berarti tidak trauma.
“Helva beneran udah baik-baik saja ‘kan, Tante?”
Raline mengernyit. “Tante?” Ia menatap Altaria dengan bingung.
“Oh.” Andhita tersenyum kecil. Ia mendekat lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Raline. “Aku Andhita, Tante. Salah satu alter-egonya Alta.”
Raline terkejut. Helva pun yang tadinya hanya mau diam saja dan tidur pun membuka matanya lalu menatap Andhita dengan lekat.
“Kakak gue beneran punya alter-ego?” Tanya Helva meyakinkan dirinya bahwa cerita Altaria itu benar.
Andhita menatap kedua orang itu dengan heran, tetapi senyumannya tidak luntur. Ia memundurkan langkahnya dan kembali berdiri berdampingan dengan Johansson.
“Ya. Aku salah satunya. Kok kaget sih? Setahu aku Altaria harusnya udah cerita sih. Soalnya dia bilang bakal cerita sama kalian,” katanya.
“Tante, Helva, saya yakin ini memang sulit untuk diterima dan dimengerti, tapi Altaria memang punya kepribadian ganda,” jelas Johansson untuk membantu memberi pengertian. “Lihat saja sikap mereka berbeda ‘kan? Karena ini Andhita bukan Altaria. Altaria tidak terlalu suka tersenyum seperti Andhita.”
Raline memandang kedua mata Andhita. Tubuhnya, raganya memang Altaria, tapi caranya melihat, berbicara, bahasa tubuhnya jelas bukan putri sulungnya. Hati Raline kembali berdenyut sakit. Anaknya harus melalui masa-masa kelam seorang diri.
“Makasih ya kamu sudah mau menemani Tira selama ini, Andhita. Tante belum bisa jadi orang tua yang baik untuk Tira mau pun Helva.” Suara Raline tercekat. Mau ditahan sedemikian rupa pun air matanya tetap mengalir.
Andhita yang melihat itu sama sekali tidak tersentuh. “Alta nggak pernah menganggap Tante seperti itu. Tante selalu ada dan mendukung Alta saja itu sudah lebih dari cukup.”
Raline mengangguk lalu menghapus air matanya.
“Kakak gue di sana ‘kan?”
Andhita mengangguk. “Dia lagi marah banget.”
Helva kembali teringat kejadian tadi. Tubuhnya semakin menempel dengan Mamanya.
Andhita yang melihat itu tersenyum kecil.
“Bang, kamu balik aja samperin Kak Sora sama anak-anakmu. Aku bisa sendirian di sini.”
Johansson yang sedari tadi memilih diam agar mereka berinteraksi menatap Andhita seolah mencari keyakinan di sana.
Andhita berdecak pelan. “Aku nggak akan keluar. Kamu bisa awasi dari CCTV, minta aksesnya dari Kendra.”
Johansson menggeleng. “Oke. Lo nggak boleh selangkah saja keluar dari sini, Andhi.”
“Iya.. Aku juga mau cerita-cerita sama Ibu dan adiknya Alta.”
“Baik. Gue balik kalo gitu.” Johansson beralih menatap Raline dan Helva. “Tante, Helva, saya kembali ke pesta dulu ya. Kalo ada apa-apa nanti Andhita bisa menghubungi saya.”
“Iya, Johan. Makasih ya.. Maaf udah ngerepotin.”
“Enggak kok, Tante.” Johansson tersenyum sebelum menatap Andhita tajam. “Gue ngawasin lo.”
“Hm.”
Lalu Johansson pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Andhita, Raline dan Helva yang saling tatap.
Andhita tersenyum manis. “Tante, mau ngobrol sama aku? Dari pada kita diam-diaman seperti ini?”
Dengan kaku Raline mengangguk sedangkan Helva hanya memandang Andhita karena jelas ia merasa asing.
Lalu Andhita pun mulai bercerita dengan Raline. Lebih banyak Andhita yang bercerita tentang Altaria yang selalu beradu pendapat dengannya meski pun pada akhirnya Altaria yang kalah. Jolika yang selalu murung dan sangat penakut.
Andhita pun menceritakan bahwa ia berperan sebagai pelindung Altaria dan Jolika. Ia pun mengaku bukan orang yang bisa merasa kasihan.
Bahkan hal yang tidak diceritakan Altaria pada Raline tentang kejadian baru-baru ini justru diceritakan Andhita.
Ia menceritakan bagaimana orang-orang yang berniat menjatuhkan Altaria justru merekalah yang jatuh. Dimana sebagian berada di penjara karena terkena berbagai kasus, baik itu korupsi dengan dana pemerintah, asusila, perdagangan manusia, pembunuhan, penculikan, bisnis ilegal dan lain sebagainya. Untuk mereka yang memiliki kasus ringan seperti perselingkuhan atau memakai kekuasaan sewenang-wenang berhadapan dengan keluarga mereka, hukuman mereka keputusan dari keluarga, Altaria dan Andhita tidak ikut campur untuk itu. Namun jika diperlukan Andhita sendiri yang akan memberi pelajaran, tapi tidak sampai membuat seseorang kehilangan nyawanya. Mungkin hanya kehilangan salah satu anggota tubuh, atau cacat mental.
Andhita terlalu asik bercerita sampai tidak melihat ekspresi Raline yang tidak tenang dan ekspresi Helva yang terkejut.
Andhita dalam bercerita terlalu tenang, tidak ada perasaan bersalah sama sekali. Ia justru sangat bangga dengan semua yang dilakukannya.
Raline menggelengkan kepalanya. Anaknya yang selama ini dibesarkannya dengan penuh kasih sayang ternyata sudah besar dan berjuang sendiri di luar sana. Di sisi lain Raline bangga namun sisi lainnya lagi ia merasa seperti tidak mengenal Altaria.
Andhita selesai bercerita ketika melihat raut wajah Raline dan Helva ia langsung paham. Mereka terkejut karena Andhita bisa tega.
“Semua hal di muka bumi ini pasti berubah, Tante. Termasuk manusia dan Altaria salah satunya. Kekejaman dunia sudah menempa Altaria sedemikian rupa hingga seperti ini.”
Andhita mengulum senyuman manis. “Tante, juga pasti udah tahu mengenai masalah yang menimpa semua adik dari Tuan Altair, oh kecuali Tuan Vega dan keluarganya. Altaria itu masih ngasih mereka kesempatan dengan nggak ngasih pelajaran yang berlebihan. Cuma kayak peringatan serius aja supaya nggak ngerendahin Tante lagi. Padahal masalah yang mereka perbuat banyak dan bisa dijebloskan ke penjara, kecuali adik pertama Tuan Altair ya.. Kalau mereka itu sih udah dipastikan masuk penjara. Untuk apa memberi rasa kasihan pada mereka kalau seumur hidup yang diberikan adalah kotoran bukan bunga.”
Terdengar merdu suaranya, namun terdapat nada ancaman di sana. Andhita ingin sekali membalas mereka tetapi Altaria tidak mengizinkan. Benar-benar menyebalkan Altaria itu, tidak tahu caranya bersenang-senang.
“Hukuman keluarganya Lian mungkin bisa diringankan, tapi perbuatan mereka sudah terlalu banyak apalagi yang menimpa Altaria dan Helva. Jadi meski pun bisa diringanin, tapi pasti sulit untuk mencari celahnya. Itu harga yang harus mereka bayar atas apa yang mereka pernah lakukan.”
Andhita memperhatikan Raline yang tersenyum kaku padanya dan Helva yang menatap Andhita dengan takut.
“Bagaimana kalau sekarang kita pulang terus makan malam di restoran? Dari pada berada di sini. Pengap yang ada. Aku juga nggak bisa bergerak bebas. Bagaimana, Tante? Helva?” Andhita lalu berdiri.
Lebih baik ia keluar dari sini dari pada dilarang kembali ke acara. Menghirup udara bebas lebih baik.
Raline dan Helva saling menatap.
“Andhita,” kata Raline dengan pelan.
Andhita mengangguk memberikan izin Raline untuk berbicara.
“Terima kasih sudah melindungi Tira dan sudah cukup untuk semua yang terjadi. Jangan lagi membalas mereka yang berbuat jahat pada kita, kelak mereka akan mendapat balasannya sendiri.”
Andhita mendelik tak suka. “Ingatkan aku kalau Tante ini Ibu dari Alta, karena aku nggak suka omongan Tante barusan. Dua puluh tahun lebih hanya diam saja, mau menunggu lima puluh tahun lagi agar mereka jera? Tidak akan pernah jera kalau cuma hanya diam dan menjadi penonton.” Andhita berdecak pelan.
Harus diketahui bahwa Andhita akan selalu membela dan berada di pihak Altaria. Jadi jangan harap Andhita akan memasukkan opini orang lain yang tidak menguntungkan Altaria ke dalam kepalanya, meski pun itu orang tua Altaria.
“Iya, Tante paham. Tante hanya nggak mau kalian menyimpan dendam. Itu tidak baik.”
Andhita mendengkus. Ia memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri beberapa kali sebelum mengarahkan pandangan kembali pada Raline. Seolah menimbang dan menenangkan diri agar tidak kelepasan marah.
“Baik, Tante. Tante, tidak lapar? Aku lapar, mau makan. Apa kita akan berada di sini terus sampai acaranya selesai?” Andhita malas berdebat karena perutnya sudah berteriak minta diisi.
Helva yang sudah mulai berani itu menggeleng. “Ayo, Kak. Kita pulang. Gue juga nggak mau lama-lama lagi di sini.”
Andhita mengulum senyuman lebar. “Pinter. Tante, bagaimana?”
Raline mengangguk. “Jangan lupa hubungi Johan kalau kita nggak ikut sampai acaranya Feren selesai.”
Andhita pun mengetik pesan pada Johansson melalui ponselnya lalu menghubungi supirnya untuk membawa mobil ke lobi. Tak lupa Andhita mengirim pesan pada Richard mengenai masalah Helva tadi, memastikan bahwa pria itu harus dijebloskan ke dalam penjara, tapi tentunya harus bertemu dengannya dulu.
Setelahnya barulah ketiga perempuan itu keluar dari ballroom hotel milik Altaria lalu mencari restoran untuk makan malam.
Bersambung..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Published: June, 25th 2021
Revised: June, 8th 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
Romanzi rosa / ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)