“Jadi gimana akhir pekan lo?”
Altaria yang sedang bermain dengan anak bungsu Feren itu menoleh pada sahabatnya. “Begitulah. Manis?” Kemudian mengendik tak acuh dan kembali bermain dengan Anika.
Dengan lembut Feren mengelus kepala Kevin.
Saat ini Altaria sedang berada di rumah Feren, menemani Ibu dua anak itu karena sang suami yang sedang ditugaskan ke luar negeri. Selain itu Altaria tidak sedang ingin sendirian di rumahnya jadi ia memilih datang kemari.
“Jawaban seperti apa itu? Sangat tidak berbobot,” cibir Feren.
Di ruang tengah kedua perempuan itu sedang menemani kedua anak Feren, yang sulung sedang menonton sedangkan yang bungsu sedang mewarnai.
Altaria memberikan crayon berwarna hijau pada Anika yang diterima anak itu dengan senang hati.
“Lalu gue harus menjawab seperti apa? Menyenangkan? Ya, akhir pekan yang menyenangkan. Kami ke wahana hiburan dan besoknya ke rumah alam.” Altaria memperbaiki cara duduknya, ia menyenderkan tubuhnya pada sofa tanpa melepas perhatian dari Anika. “Dia tetap sabar sama gue dan selalu mengalah. Dia masih sebaik itu sama gue, Ren.”
“Terus?”
Altaria memandangi Anika yang sedang asik bermain itu dengan lekat.
Disaat mereka menaiki wahana terakhir yaitu bianglala, Ethnan mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Altaria kebingungan dan tentu saja terkejut.
Altaria sebenarnya sudah harus menyiapkan hati dan mental untuk hal seperti itu. Akan tetapi hari itu ia memilih mengabaikannya karena mereka sedang bersenang-senang. Namun ternyata hal itu mengajarkan Altaria untuk tidak pernah menurunkan kesiapan mentalnya.
Bahkan keesokan harinya ketika mereka ke rumah alam suasana di antara mereka yang memang ada sedikit kecanggungan menjadi sedikit lebih canggung lagi dari sebelumnya. Kegiatan yang tujuannya untuk bersenang-senang justru menjadi aneh.
Altaria mengusap wajahnya dengan tangannya lalu menatap Feren. “Dia ajak gue nikah, Ren.”
Tentu saja Feren terkejut dengan perkataan sahabatnya itu. “Apa? Nikah? Nikah, Tir?”
Altaria mengangguk mantap. Ia mendesah pelan. “Lo nggak nyangka ‘kan dia bakal mengambil sikap seperti itu? Gue pun enggak, Ren. Di kepala gue pernikahan saja belum ada perandaiannya.” Altaria mendekat melepas crayon yang hendak dimasukkan ke dalam mulut oleh Anika sambil menegur halus.
“Wow.” Feren bertepuk tangan kagum. “Dia luar biasa. Berani seperti itu. Tapi bagus. Itu artinya dia menginginkan keseriusan bukan cuma sekedar menjalani hubungan tanpa ada ujungnya.”
Altaria yang melihat Anika sibuk mewarnai dan fokus itu terlihat sangat lucu sehingga dengan gemas ia menarik Anika dan menggendongnya. Memberi kecupan-kecupan menggemaskan yang menyebabkan gadis kecil itu berteriak kecil.
“Gue nggak tahu, Ren.” Altaria berbicara setelah puas bermain dengan Anika, menurunkannya kembali pada buku mewarnainya. “Gue pernah mikirin tentang pernikahan, hubungan jangka panjang yang serius tetapi bukan secepat ini juga. Dan ini itu Ethnan, Ren. Si Madu, pria yang bermain-main dengan gue dan jenis pria yang selalu akan gue jauhkan dari gue, meski pun dengan kenyataan bahwa dia pernah berhasil mencuri hati gue. Tapi tetep aja. Ini nikah loh, Ren. Nikah itu nggak main-main.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)