Sesampainya Altaria di kantor ia melempar tas dengan sembarang ke sofa lalu berjalan memukul tangannya ke atas meja kacanya dengan cukup kuat. Kedua tangannya membentuk kepalan kuat, untung saja mejanya itu anti pecah kalau tidak pasti tangannya sudah terluka akibat hancurnya kaca.
Altaria benar-benar dikuasai emosi sekarang dan rasanya ia ingin melampiaskannya pada sesuatu.
“Richard!” Panggil Altaria dengan keras.
Tanpa menunggu lama Richard membuka pintu ruangan Altaria lalu menghampiri Bosnya yang memunggungi pintu itu.
“Ya, Nona.”
“Reschedule hari ini. Saya mau pulang.”
Richard mengangguk patuh. “Baik, Nona. Ada lagi?”
“Ethnan Hananiah terus awasi dia.”
“Baik, Nona.”
Altaria menarik napas perlahan dan menghembuskannya dengan pelan. “Siapkan mobil. Lima menit lagi saya turun.”
Dengan segera Richard melaksanakan tugasnya meninggalkan Altaria yang tenggelam dalam pikirannya.
Altaria meraba dadanya dan merasakan perasaan kosong di sana. Ia mendesah pelan. Jujur saja ia sudah berharap pada pria itu.
Ketika melihatnya Altaria terpesona dan ingin jatuh hati padanya tetapi setelah tahu motifnya pada Altaria membuat Altaria urung untuk mengikuti hatinya. Altaria merasa sakit, sesak dan kosong. Perasaan ini berbeda dari hubungan sebelum-sebelumnya. Ini menyebalkan dan Altaria tidak menyukainya.
Setelah menenangkan diri Altaria pun keluar dari ruangannya.
⭐⭐
Altaria yang sedang sibuk mempelajari suatu berkas dibuat berhenti beberapa detik karena ada panggilan masuk. Dengan cepat ia menekan tombol di telpon yang berada di atas mejanya tanpa melepaskan mata dari berkas yang berada di tangannya.
“Nona, ada yang ingin menemui, Nona. Namanya Ethnan Hananiah,” kata Richard.
Altaria meletakkan berkasnya. “Suruh masuk.”
Lalu pintu ruangannya terbuka dan Altaria dapat melihat pria itu dengan jas hitam yang melapisi kemeja putihnya dan celana kain berwarna hitam berjalan menghampiri Altaria.
“Sibuk?” Tanya Ethnan begitu berada di hadapan Altaria.
“Kenapa?"
Sejak dua hari lalu Altaria menghindari Ethnan. Semua panggilannya diabaikan, pesannya sama sekali tidak dilihat Altaria. Itu semua dilakukan Altaria karena ia tidak akan merasa tenang jika menanggapi Ethnan. Altaria butuh waktu untuk berpikir dengan kepala dingin.
Dan sepertinya karena Altaria yang mengabaikannya membuat Ethnan memilih mendatanginya.
“Kamu menghindariku, Aria.”
Altaria keluar dari meja lalu berjalan menuju sofa diikuti oleh Ethnan. Setelah duduk berhadapan, Ethnan menatap Altaria dengan intens.
“Kamu pulang gitu aja padahal aku baru sampai. Aku minta maaf karna terlambat tapi bukan berarti kamu bisa pergi gitu aja bahkan nggak ngangkat telfonku dan nggak balas chatku. Apa kesalahanku sefatal itu?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)