Masuknya Lian tidak membuat pandangan Altaria beralih dari layar plasma itu. Bahkan ketika Lian duduk di sebelahnya pun Altaria tidak bergeming, jemarinya sibuk bergerak di tombol-tombol stick game konsol itu.
“Harusnya lo masuk kantor, bukannya malah main perempuan sehari semalam,” ujar Altaria tanpa menoleh pada Lian.
Tangan Lian menyendok es krim sambil menyaksikan Altaria bermain. “Ck, nggak usah mulai.”
Altaria mendengkus. “Adik lo cewek, Lian. Lo nggak mikir kalo misalkan Adik lo dibikin kayak gitu?” Altaria menoleh sepintas sebelum kembali menatap ke depan.
“Delilah beda dan nggak usah bawa-bawa Adek gue.”
“Dia emang beda tapi coba aja lo mikir. Gue tau lo capek dengerin gue ngomong, gue juga capek tegur lo tapi gue begini karna peduli, Lian. Puji syukur kalo lo nggak kena penyakit tapi kalo Adek lo atau anak cucu lo nanti yang dibikin begitu gimana? Senang, bahagia tapi cuma buat sesaat ‘kan? Puas? Nggak akan pernah puas kalo nggak membatasi diri. Ingat, Lian, hidup bukan cuma di situ-situ aja, bumi ini berputar.”
Altaria berucap seolah-olah ia dapat meninggalkan hal itu padahal dirinya sendiri sedang berjuang dan susah melepas sesuatu itu.
Lian mendesah pelan. Ia mendekat lalu menyandarkan kepalanya di pundak Altaria.
“Katanya lo jatuh cinta, cari dong cewek itu, Lian. Cinta memang menunggu tapi kalo nggak ngejar juga ya lenyap,” tambahnya lagi namun dengan suara yang lebih lembut.
Lian menenggelamkan wajahnya di pundak kecil Altaria namun terasa kokoh itu. “Udah dong, Kak. Aku tahu itu, nggak usah lagi dibahas ya?”
Altaria menoleh dan menatap rambut Lian yang panjang dan lebat itu. Ia meletakkan stick di sebelahnya lalu mengelus rambut Lian. “Taruh di hati kamu perkataan aku, Dek. Aku ngomong gini karna peduli sama kamu.”
“Iya.. Aku tahu kok.”
Altaria mengangguk lalu memeluk Lian dengan erat. Altaria membiarkan Lian beristirahat dalam pelukannya. Biar bagaimana pun, Altaria tahu alasan Lian seperti itu, apa lagi kalau bukan karena keluarganya yang aneh itu. Ia butuh pelampiasan dan salah satu caranya adalah dengan bermain wanitalah.
Setelah beberapa saat, Lian melepas pelukan Altaria lalu mengangkat kepalanya menatap Altaria. “Kakak, ngapain ke sini?” Ia lalu kembali pada posisi semula menyandarkan diri di sofa.
Altaria tersenyum kecil. “Emang gue nggak boleh jengukin Adek gue sendiri?”
Lian menyipitkan matanya sebagai suatu pernyataan bahwa ia tidak percaya perkataan Altaria. “Ya sudah, apa pun yang lo sembunyikan gue harap cepat selesai.”
Altaria mengangkat salah satu alisnya. “Hmm.. Lo bisa bantu gue gantiin posisi gue untuk sementara?”
Kilat terkejut terlihat di mata Lian. “Kak.”
“Dua minggu aja.”
“Memangnya lo mau ke mana?”
“Nggak ke mana-mana, cuma gue butuh cuti untuk sementara dari kerjaan.”
“Tir, gue tahu ya lo itu nggak bisa dilepasin dari yang namanya kerjaan.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)