Ethnan membawa Andhita ke sebuah restoran. Setelah memesan keduanya saling diam. Ethnan yang terus memandangi Andhita sedangkan Andhita yang memilih memerhatikan suasana restoran yang terasa syahdu ini.
“Manis.”
Andhita tidak menoleh pada Ethnan. Pandangannya kini jatuh pada sebuah guci cantik yang diletakkan di sudut ruangan. Andhita menatap guci itu tanpa kedip.
“Manis.” Ethnan memanggil sekali lagi namun tidak ada respon dari Andhita. Ethnan mengerutkan keningnya, ia mengikuti arah pandang Andhita dan melihat guci yang penuh ukiran itu dengan bingung.
“Altaria.” Kali ini Andhita menoleh. Ia menatap Ethnan tepat di kedua matanya. “Ya?”
Ethnan menggeleng kecil lalu tersenyum kecil. “Kamu aku panggilin dari tadi nggak nyaut, pandanganmu terarah pada guci itu. Kamu suka gucinya?”
Andhita tersenyum. “Suka. Bagus.., warnanya gold.” Padahal sejatinya ia tidak merasa dipanggil makanya Andhita tak langsung menanggapi panggilan Ethnan tadi. Ia lupa bahwa ia sedang menjadi Altaria.
“Kamu suka benda-benda seperti itu ya?”
Andhita hampir saja menggeleng jika saja ia tidak ingat saat ini ia harus berpura-pura menjadi Altaria. “Iya. Aku penasaran mereka membelinya di mana.”
Ethnan menatap Andhita. “Kamu mengoleksinya?”
Andhita mengangguk asal. “Iya..” Yang mengoleksi benda-benda seperti itu adalah Altaria. Bukan dirinya.
Ethnan hendak berbicara lagi tetapi makanan mereka sudah diantarkan. Jadi ia memilih menutup mulutnya dan fokus dengan makanan mereka yang sudah tersaji di atas meja.
Tiga puluh menit kemudian Andhita dan Ethnan telah selesai makan. Kini Andhita tengah memegang ponselnya sembari bertukar pesan dengan Kendra, Feren dan Johansson sedangkan Ethnan memilih memandangi kekasihnya yang hari ini terlihat manis.
Dress sederhana berwarna putih sepanjang lutut menjadi pilihan Andhita, riasan wajahnya pun hanya lipstick berwarna peach, iris matanya tidak memakai kontak lensa seperti biasa. Ethnan menyukai tampilan Andhita yang manis dan polos ini.
“Kamu cantik.”
Andhita yang mendengar pujian Ethnan itu mengangkat kepalanya dari ponsel menatap Ethnan. “Makasih.” Andhita tersenyum manis lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. “Berhubung aku nggak pintar basa-basi jadi kenapa kamu melacak aku?”
Ethnan tersenyum kecil. Ia sudah tahu pasti, itu yang akan dikatakan gadis yang diketahuinya sebagai Altaria itu. Altaria memang tidak pintar berbasa-basi dan bermulut manis apalagi ia pernah mengecewakan kekasihnya tersebut. Jadi Ethnan tidak terlalu banyak berharap akan sikap manis Altaria atau yang ada saat ini adalah Andhita—tanpa diketahuinya tentu saja—.
“Aku mau nanya tapi aku terlalu yakin kamu nggak akan mengatakannya padaku di mana kamu berlibur. Mau nanya sahabat kamu tapi aku nggak dekat sama dia Jadi pilihan satu-satunya melacak kamu.”
Ethnan sudah cukup tahu bahwa Altaria atau Andhita itu masih sangat tertutup padanya dan juga sangat mandiri. Jadi Ethnan mengambil inisiatif mencari sendiri keberadaan Altaria. Jika pun ia bertanya pasti tak akan mendapat jawaban yang diinginkannya.
Andhita memandang Ethnan dengan lekat. “Apa kamu khawatir padaku sampai melakukan itu?”
Ethnan mendesah pelan. “Tentu saja aku khawatir. Kamu tiba-tiba cuti dan sehari setelahnya muncul berita-berita seperti itu bagaimana aku tidak khawatir, Manis?”
Ketika mendengarnya secara langsung Andhita justru merasa geli dengan panggilan itu. Bahkan raut wajah Ethnan saat mengatakan kekhawatirannya tidak disukai Andhita. Pria ini terlalu manis untuknya. Andhita tidak habis pikir dengan keputusan Altaria dalam memacari Ethnan. Lama tak muncul selera Altaria sudah berubah.
“Kamu benar khawatir padaku?”
“Sangat, Manis. Sebenarnya aku ke sini juga untuk mengajakmu kembali karna kamu sebentar lagi pasti akan dicari oleh pihak kepolisian,” ujar Ethnan kemudian.
“Untuk apa? Mau diliput media? Cukup pengacaraku saja.”
“Memang ada pengacaramu, tapi keteranganmu tetap dibutuhkan dan bukan untuk diliput media.”
Andhita berdecak pelan. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menyilangkan kakinya. “Jadi kamu ke sini karna khawatir, ingin aku pulang tanpa diseret polisi atau...., karna kamu disuruh seseorang?” Andhita berbicara dengan lembut namun di sudut bibirnya terdapat senyuman miring.
Ethnan menatap Andhita dengan serius. “Dua yang pertama benar tapi yang terakhir tidak. Kamu sungguh berpikiran aku bekerja untuk seseorang dalam perusahaanmu, Manis?”
Dengan cepat Andhita mengangguk. Ia tersenyum manis. “Bukan spekulasi tapi aku punya buktinya. Kamu mau tahu?”
Andhita dapat melihat salah satu tangan Ethnan yang berada di atas meja kini terkepal. Andhita memandang Ethnan dengan binar cerah. “Kamu diuntungkan ‘kan dengan hal itu? Dan imbalannya kamu mencari tahu tentang aku, menguak setiap rahasiaku lalu jika kamu tahu kamu akan membeberkannya pada mereka dan..., imbalan yang dijanjikan padamu diberikan deh.” Andhita bertepuk tangan pelan.
Raut wajah pria itu perlahan memutih, yang tadinya merah. Ethnan menatap Andhita dengan lekat. Ia menelisik kedua bola mata Andhita yang tidak pernah bisa dibacanya itu namun kali ini ia melihat hal berbeda.
“Kamu terlihat...” Ethnan memandangi Andhita dari mata sampai ke bawah tubuhnya. “Kamu... berbeda.”
Andhita masih setia menatap Ethnan dengan ketenangan yang sangat terlatih. “Berbeda? Tidak ada yang berbeda dariku.”
Ethnan menggeleng. “Kamu senang, Manis. Senang karena menuduhku.”
Andhita sontak tertawa pelan, tawanya terdengar lembut dan cantik. “Aku tentu senang mengintimidasi seseorang apalagi dengan suatu fakta.”
Sama sekali tidak ada perubahan sikap dari Andhita dan itu semakin membuat Ethnan melihat perbedaan Andhita. Biasanya Altaria ketika ia mengintimidasi seseorang tatapannya dan sikapnya akan terasa dingin meski juga senang tetapi ini.. justru tenang dan lembut. Perbedaan yang kontras.
“Kita bukan membahas tentang aku, tapi kamu. Kamu sudah berani bermain-main denganku. Awalnya aku ingin membiarkannya saja karena kamu yang awalnya memang murni ingin berkenalan denganku. Tapi saat kamu semakin dekat aku jadi tahu kamu juga menjadikanku bahan taruhan dengan teman-temanmu itu.” Andhita menutup mulutnya dengan anggun karena tertawa kecil. “Wah.. Asal kamu tahu ya.. Aku tahu banyak soal kamu bahkan soal kamu.., dan Dona,” tandasnya tanpa menyurutkan raut lembutnya.
Ethnan yang tadinya hendak membantah kini mematung karena perkataan terakhir Andhita. Ia menatap Andhita dengan kaget, kedua matanya terlihat membesar.
Andhita menurunkan senyumnya dan memandang Ethnan dengan teduh. “Permainan yang cantik, Madu, tapi sayang.., kamu salah sasaran. Harusnya kamu belajar dulu tentang aku bahwa aku nggak mudah jatuh apalagi.., untuk seorang pria.” Andhita menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan tingkat kepercayaan diri Ethnan. Ingin rasanya Andhita tertawa dengan puas tetapi sebisa mungkin ditahannya.
“Lusa barulah aku balik, tenang saja kamu nggak usah panik ya? Kalau begitu.., aku pamit.. Kamu butuh waktu sepertinya untuk semua kejutan yang baru kamu dengar dariku.” Andhita lalu berdiri sambil mengambil tasnya ia menatap Ethnan yang matanya mengikuti gerak tubuh Andhita. Mulutnya seakan bungkam, otaknya tidak dapat bekerja karena penuturan Andhita yang bertubi-tubi itu.
Andhita tersenyum. Ia mendekati Ethnan mengecup bibirnya. “Sampai jumpa, Madu.” Kemudian berlalu meninggalkan Ethnan yang masih diam.
Di jalannya Andhita bersenandung kecil. Suasana hatinya saat ini menjadi sangat sangat baik.
Ethnan mengerjapkan kedua matanya lalu secepat mungkin mengejar Andhita. Namun ketika tiba di luar restoran Ethnan sudah tidak mendapati siluet Andhita.
“Sial!”
Andhita baru saja menyadarkan Ethnan bahwa ia telah membuat Andhita yang diyakininya sebagai Altaria itu sakit hati.
Di dalam mobil Andhita mengelus dada kirinya sambil menatap keluar. Tadinya ia menatap pemandangan dengan binar senang kini kosong dan tak lama kemudian kepalanya berpaling melihat ke depan.
Altaria mengetatkan rahangnya, tangannya pun mengepal erat. Meski pun ia tahu, tetap saja menyakitkan.
Apa yang harus dilakukannya pada Ethnan?
Bersambung..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Hey! It's already June!
I hope this month will be an amazing month for all of us.
Sebenarnya aku belum mau publish ini tapi... Hah! Ketidaktenangan kembali hadir dan itu buat aku cukup terganggu jadi untuk melampiaskannya aku pilih untuk publish ini (walau sebenarnya masih belum tenang juga hahaha)
Anyway, adakah dari kalian yang psikolog, mahasiswa psikolog, atau punya kenalan psikolog yang free tanpa bayaran hahahaha? Aku mau coba kenalan..
Published: June, 1st 2021
Revised: June, 6th 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)