Sudah terhitung seminggu Altaria, Helva dan Raline pindah ke sebuah rumah yang berada di pinggir kota dan tentunya jauh dari rumah utama.
Altaria sengaja memilih rumah itu agar akses orang yang ingin berkunjung minim bahkan kalau perlu tidak harus ada yang datang. Rumah itu pun terhitung modern minimalis jadi memang tepat untuk ditempati mereka bertiga.
Pada awalnya Helva enggan karena ia sedang mengerjakan tugas akhir kuliahnya tetapi dengan paksaan—tentunya—–sehingga pada akhirnya Helva pun mau pindah. Helva tidak diberikan alasan oleh kakaknya akan kepindahan mereka. Hanya saja kekeraskepalaan dan ketegasan Altaria untuk pindah tidak bisa membuatnya membantah. Bahkan Raline pun hanya bisa pasrah dan membiarkan Altaria yang mengaturnya.
Setelah seminggu pindah Altaria merasa lebih lega. Bahkan ia bisa lebih cepat pulang ke rumah dan tentunya lebih senang berada di rumah. Inilah yang diimpikan Altaria selama ini. Tidak harus lagi menanggung kesesakan yang dialaminya selama sepuluh tahun lebih.
“Kak Tira! Ada paket!” Teriakan di lantai bawah dari Helva membuat Altaria yang sedang berada di kamarnya langsung berlari turun.
Di ruang tengah, Altaria melihat Helva sedang memegang karton berukuran sedang. Mata Altaria langsung berbinar melihatnya. Dengan langkah cepat ia mengambil karton itu dan bergegas membawanya ke atas.
“Barang bekas lagi ya?” Seru Helva pada Altaria yang sudah berada di tengah-tengah tangga. Altaria yang mendengar itu berhenti dan menatap Helva dengan tajam.
“Ini antik bukan barang bekas.” Setelahnya ia berlari menuju ruangan yang sudah disediakannya untuk menyimpan hartanya.
“Tetap saja itu bekas, Kakak,” gumam Helva pelan yang hanya dapat didengarnya. Karena kalau Altaria sampai mendengarnya habislah sudah ia dengan ceramahan kakaknya itu.
Begitu menutup pintu dan tidak lupa menguncinya, Altaria membawa karton tersebut ke atas bangku panjang yang disandar ke dinding tepat di depan jendela. Menaruh karton tersebut pada sebuah meja kecil yang berada di sisi bangku, Altaria membuka lacinya untuk mengambil gunting. Setelah mendapatkannya ia segera membongkar paketnya dengan penuh semangat dan tidak sabar.
Keempat tutup karton dibukanya dan Altaria langsung menjerit senang melihat isinya. Sebuah miniatur kereta dan lintasannya di pegunungan Alpen. Butuh waktu tiga bulan untuk mendapatkan miniatur ini.
Dengan semangat Altaria membongkar benda antiknya dan mulai fokus untuk menyusunnya.
Altaria yang sedang berkonsentrasi dalam membentuk lintasan kereta api tersebut harus berhenti karena suara dering ponselnya. Altaria meraih ponselnya dan melihat sang penelpon yang ternyata Feren.
“To the point,” katanya ketika mengangkat telpon tersebut dan menyalakan mode pengeras suara sambil tetap menyusun lintasan kereta.
“Hmm.. Gue udah dapet tiket meet and greet A.C.E.”
Altaria membelalakan matanya mendengar perkataan sahabatnya itu. “VIP sama Hi-touch ‘kan?”
“Iya. Eh, tapi lo ‘kan CEO sekaligus VVIP mereka jadi bisa ke backstage juga tanpa perlu tiket.”
“Iya tapi gue pengen jadi penggemar yang beradab dan biasa aja.”
“Gaya lo. Entar gue kasih tau mereka kalo lo dateng biar lo disuruh ke backstage.”
Altaria berdecak pelan. “Nggak asik banget lo. Hari ini lo sibuk nggak? Gue pengen traktir.”
“Lagi seneng nih pasti dan gue tebak bukan cuma karna tiket itu ‘kan?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)