Setiap manusia pasti punya perjalanan hidupnya masing-masing. Ada yang datar-datar saja, ada yang penuh derita, ada yang penuh sukacita. Namun begitu di setiap cerita itu semua rasa akan bercampur, hanya mungkin ada cerita yang sedikit lebih porsi rasanya.
Hidup Altaria pun begitu. Selama 16 tahun hidupnya ia bahagia meski selalu direndahkan, lalu 15 tahun terakhir justru terasa miris. Dimana ia harus berjuang dengan penyakit mentalnya.
Memiliki penyakit mental atau penyakit jiwa bukan berarti bahwa seseorang itu gila. Mentalnya hanya sedikit terguncang oleh suatu hal yang membuat trauma dan membuat otak terus-menerus mengulang hal tersebut. Jika segera ditangani tidak akan membuat seseorang hilang akal. Penyakit mental bukanlah hal yang harus dianggap tabu, harus mulai dinormalkan. Karena penyakit mental bisa berujung gangguan jiwa alias gila kalau tidak segera ditangani. Tentunya dengan kesadaran dari orang tersebut dan peran orang-orang di sekelilingnya untuk membuat seseorang termotivasi untuk sembuh atau merasa lebih baik.
Sama seperti Altaria yang saat itu harus mengalami hal yang mengguncang jiwanya, membuatnya menyerah untuk hidup dan hampir gila. Akan tetapi uluran tangan Feren yang tidak pernah meninggalkannya dan terus membantunya itu membuat Altaria bisa melewati semua itu. Meski ia masih harus rutin untuk konsultasi.
Dan pada 6 tahun terakhir, ia merasa jauh lebih baik. Memaafkan dan mencoba melepas bayang-bayang masa lalu, meski berat namun ia harus melakukannya demi dirinya sendiri. Walau alter egonya masih ada tetapi masih bisa diatasi selama pikirannya tenang dan tetap berkonsultasi. Karena penyakitnya itu tidak bisa hilang dan akan terus berada di hidupnya.
Altaria belajar untuk memeluk hidupnya, mengumpulkan setiap kepingan dan menyusunnya kembali. Meski kusut dan banyak retak, dengan tambalan di mana-mana akan tetapi itu lebih baik dari pada membiarkannya hancur.
“Kak.”
Altaria menengok ke sisinya begitu sebuah suara masuk melalui indra pendengarannya. “Hmm?”
“Shopping yuk. Gue udah ajakin Kak Feren juga.”
Kening Altaria mengerut. “Hah? Bisa-bisanya lo, La. Gue lagi mager, pengin memanfaatkan waktu ini untuk bersantai di rumah dimana hal yang sulit gue lakukan karna udah kembali ke sini.”
Altaria mengalihkan pandangannya ke depan dimana pada layar itu tengah terputar sebuah film komedi romantis. Genre yang kurang diminati Altaria namun akhir-akhir ini ia mulai suka. Karena ternyata genre seperti itu bisa membuatnya rileks dan tenang, endorfinnya pun naik.
“Nggak bisa. Lo harus, kudu, ikut kita jalan. Enak aja gue membuang kesempatan dimana gue bisa jalan-jalan kayak gini.”
Suara itu terdengar cukup keras. Altaria memalingkan kepalanya dan melihat sahabatnya yang berdiri di depan pintu.
“Ya udah kalian berdua aja. Gue beneran males. Pengin leha-leha aja gue.”
Feren berdecak keras, ia lalu mendekati kedua saudari itu. “Nggak ada ya. Mending lo bangun, mandi dan siap-siap sebelum gue seret.”
Altaria tidak menggubris ancaman itu, ia malah menggeleng kuat kepalanya pertanda enggan menuruti Feren.
“Minta diseret emang.” Omongan Feren bukan sekedar ancaman belaka karena kini ia benar-benar merealisasikannya. Altaria tentu tidak tinggal diam. Ia berusah melepas cengkraman Feren di pergelangan tangannya yang ternyata kuat itu.
“Kok lo kuat banget sih? Aaaa!!! Gue nggak mau, Feren. Gue nggak mau. Hey, lepasin, Feren!”
Feren tersenyum culas. “Menjadi seorang Ibu buat gue lebih strong sekarang jadi jangan macem-macem lo sama gue.”
Feren tentu dibantu oleh Helva untuk menyeret Altaria.
“Iya, iya, iya! Gue ikut, lepasin.”
Feren dan Helva saling menatap lalu tersenyum kemudian mereka melepas Altaria.
Altaria mendengkus pelan. Dipegangnya pergelangan tangannya dan dilihatnya memerah sebelum kembali menatap kedua orang itu. “Sejak kapan kalian sekuat itu? Ck, sejam. Kalo nggak mau nunggu selama itu nggak pergi.”
“Dua jam juga kami tungguin, Kak.” Helva menyahut yang justru membuat Altaria mendessh pasrah.
Tanpa berlama-lama lagi beradu debat dengan mereka Altaria langsung pergi ke kamarnya untuk bersiap akan keluar dengan Feren dan Helva.
⭐⭐⭐
Air mata tanpa izin mengaliri pipi melihat pemandangan di depan.
Raline dan Helva saling berpegangan tangan menatap ke depan sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh. Siapa sangka, saat seperti ini akan terjadi. Dengan lika-liku dan ujian di hidupnya, ia bisa masuk dalam fase baru yang mungkin tidak pernah dibayangkannya.
Setelah melayani para tamu, keduanya menghampiri meja keluarga.
“Lapar, Nak?”
Altaria, yang hari ini telah resmi menjadi seorang istri mengangguk. “Tapi lebih ke haus sih. Pengen es buah.”
Raline sudah menyiapkannya jadi ia memberikan segelas es buah pada Altaria dan menyuruhnya duduk.
“Ma.”
“Ethnan, makan juga ya kamu? Itu Tira lagi makan juga.”
Ethnan Hananiah, duduk di samping Altaria yang tengah menyantap es buahnya sambil bercerita dengan Tantenya.
“Itu di meja punya kamu sama Tira. Mama udah siapin tadi. Makan ya?”
Ethnan mengangguk seraya mengulum senyuman. “Makasih, Ma.”
“Abis ini kalian langsung ke bandara?” Ibunda dari Ethnan yang memang satu meja dengan besannya itu bertanya pada pengantin baru itu.
“Iya, Mi. Biar sekalian capeknya.” Altaria yang menjawab sembari mengunyah perlahan makanan yang disuapkan Ethnan padanya.
“Jadi ke Bulgaria?” Kini giliran Ayah dari Ethnan yang bertanya.
Ethnan menggeleng. “Enggak, Altaria mau ke Kanada aja katanya.”
“Kanada juga bagus,” sahut seseorang di belakang Ethnan.
Begitu Altaria berbalik ia melihat Johansson dan keluarganya juga sahabatnya dan keluarganya juga. Kedua keluarga muda itu menyapa kedua belah pihak keluarga pengantin di meja.
“Abang, udah makan?”
Johansson mengangguk.
“Aunty Tiya, mau jalan-jalan?” Altaria menatap putri sulung Johansson dengan gemas. Ia mengulum senyuman lembut.
“Iya, Sayang. Merry, mau nitip apa?”
“Coklat yang banyak.” Altaria terkekeh gemas lalu mengangguk. “Oke. Nanti Aunty Tiya bawain buat Merry sama Lucas.”
“Gaun nikah lo bagus ya. Siapa sih yang bantuin?”
Altaria mendelik. “Entah. Lupa gue siapa yang bantuin.”
Feren berdecak pelan.
“Ibu bayangin penampilan kamu pake gaun pernikahan ternyata cantik sekali.” Pujian itu berasal dari Ibu Feren.
Altaria berdiri lalu memeluk erat Rini. “Makasih. Ibu, juga cantik banget. Ayah, juga ganteng.”
Puji Altaria pada kedua orang tua sahabatnya yang dengan tangan terbuka menyambutnya dan selalu berada di sisinya memastikan bahwa Altaria tidak pernah sendirian.
“Selamat ya, Tira. Ayah, bangga liat anak Ayah yang ini karna sudah naik level. Semoga kebahagiaan senantiasa berada di jalanmu, Nak.”
“Makasih, Ayah.” Altaria gantian memeluk Jevan, Ayah dari Feren.
Kehangatan seorang Ayah yang hilang selalu diisi oleh Jevan. Jadi Altaria tidak benar-benar kehilangan sosok Ayah karena ia memiliki Jevan.
“Bibi Tira, cantik. Kevin suka.” Celotehan itu membuat seisi meja tertawa.
Dan di sore hari itu di acara pernikahan yang sederhana kehangatan melingkupi dan Altaria merasa dipeluk yang membuatnya nyaman. Hatinya yang kosong sudah penuh oleh cinta dari orang-orang di sekelilingnya. Bahkan mungkin sampai tumpah saking banyaknya, limpahan kasih sayang itu.
⭐⭐⭐
“Manis, bangun yuk. Sarapan.”
Kedua mata yang terpejam perlahan terbuka dan netranya mendapati seorang pria sedang menatapnya, suaminya.
“Capek, Madu. Gerak aja rasanya males.”
Ethnan tersenyum lembut. Ia membantu Altaria untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang. “Aku tahu, tapi kamu tetep harus makan, buat ngisi keletihan dan kamu nggak drop nantinya.”
Altaria berdehem pelan.
Ethnan memberi segelas air yang langsung diminum Altaria hingga tandas. “Aku suapin kamu, jadi kamu cuma perlu menggunakan mulutmu untuk mengunyah.”
“Kamu udah makan?” Altaria bertanya sebelum menerima suapan pertama dari Ethnan.
“Udah.”
Altaria kemudian meneliti Suaminya. “Udah mandi, udah rapi juga wangi lagi. Cakep bener. Mau ke mana kamu?”
Ethnan terkekeh pelan. Ia kembali menyuapkan makanan pada Altaria. “Aku tadi ke bawah nyariin kamu dessert. Masa iya aku keluar penampilanku acak-acakan.”
“Oh.”
“Tadi Mama sama Mami telpon nanyain kabar kita juga titip salam buat kamu.”
“Hmm.. Nanti aku telpon mereka.” Altaria lalu menoleh ke jendela. Pemandangan yang disuguhkan dari kamar hotelnya sangat indah.
“Cerah, Madu. Pengen keluar, tapi aku capek.”
Ethnan tersenyum ia mengusap pelan pipi Altaria. “Sore atau malam aja gimana? Kalo emang kamu pengen keluar.”
Altaria kembali menatap pria yang ternyata telah menjadi suaminya itu. Siapa sangka Altaria justru berlabuh pada pengacara ini. Cara kerja alam semesta memang penuh misteri.
“Dua jam lagi. Aku mau keluar dua jam lagi karna langitnya cantik banget.”
“Yakin?”
Altaria mengangguk tegas.
“Oke, abisin dulu makanan kamu ya?”
“Kamu juga makan.” Altaria meraih sendok dan balik menyuapi Ethnan yang diterima pria itu dengan senang hati.
“Aku udah makan loh, Manis.”
Altaria tak acuh. “Tau, ‘kan kamu udah bilang tadi tapi aku mau kamu makan lagi bareng aku.”
Ethnan tersenyum gemas dengan tingkah istrinya ini. “Uu.. Istri siapa sih ini. Gemesin jadi tambah sayang.”
Kedua tangan Altaria terulur dan memeluk leher Ethnan. “Istri dari Ethnan Hananiah. Sekarang aku jadi Nyonya Hananiah. Cakep juga yaa nama baruku.”
Ethnan membalas pelukan itu sambil mengelus punggung Altaria dengan lembut tak lupa beberapa kali kecupan di pelipis Altaria.
“Makasih ya kamu sudah bersedia menemaniku di petualangan baru ini. Aku nggak janji kalo aku nggak bakal buat kamu nangis tapi aku usahain untuk terus buat kamu bahagia, menciptakan memori indah yang banyak sama kamu.”
Altaria yang tadinya hendak melepas pelukan menjadi urung dan justru memeluk Ethnan dengan erat. “Iya. Kamu juga sekarang tau kekurangan aku, masa laluku yang kotor dan menjijikkan itu, jadi aku pinta jangan pernah sakitin aku dengan mengungkit kekuranganku kalau nantinya kita bertengkar, karna aku bakal sakit hati banget kalo kamu lakuin itu.”
“Enggak. Aku nggak akan pernah berbuat seperti itu. Kamu itu definisi perempuan kuat yang bener-bener kuat dengan semua yang sudah kamu alami jadi aku nggak akan ngungkit masa lalu kamu itu.”
“Makasih, Madu.”
Ethnan sedikit mengurai pelukan tanpa melepas. Ia menatap netra Altaria yang jernih. “I love you.”
“I love you too.”
⭐⭐⭐
Ikan-ikan itu melahap makanan yang dilemparkan pada mereka dengan cepat sehingga harus dilemparkan lagi.
Karena lelah berdiri, ia memilih duduk di pinggir kolam sambil menonton ikan-ikan yang tengah berenang itu.
“Cassie.”
Panggilan itu sontak membuat Altaria menoleh.
“Nggak jadi keluar kamu?”
Altaria menggeleng pelan lalu kembali memusatkan perhatian ke kolam.
“Kamu seminggu lagi akan menikah. Papa nggak nyangka, anak perempuan Papa akan segera menjadi seorang istri dan bukan lagi tanggung jawab Papa.”
Altaria diam tidak menanggapi perkataan Altair.
Pria yang pernah menjadi cinta pertama Altaria itu mengambil tempat di samping Altaria, duduk di sisinya.
“Papa minta maaf karna pernah mengkhianati Mama kamu, pernah menyakiti kalian.”
Altaria dapat mendengar desahan napas pelan dari Altair namun ia tidak menoleh sama sekali.
“Papa juga obsesi pengen punya anak cowok. Tidak.. Tidak.. Papa tidak akan menjadikan itu alasan. Papa memang tergoda dan merasakan kenyaman itu. Papa jatuh cinta dan meski terlarang Papa masa bodoh dan meneruskannya bukannya berhenti.”
“Papa semakin lupa Mama kamu, lupa pada kamu dan Helva. Papa terbuai cinta terlarang yang memang terlarang itu. Terus sampai perempuan itu hamil anak Papa. Papa semakin enggan melepasnya bahkan ketika tau dia hamil anak laki-laki Papa berpikir untuk meninggalkan kalian.”
Meski sudah tahu hal itu namun tetap membuat Altaria merasa sesak. Ia tidak mau mendengar kisah masa lalu lagi. Sudah cukup deritanya selama ini, ia tidak mau lagi mengingat-ingat masa lalu yang mengenaskan itu.
“Sampai kami kehilangannya di usianya yang masih sangat muda dan entah bagaimana Papa seolah sadar dan teringat kalian. Semua dosa Papa seakan diingatkan dan sebelum semakin jauh lagi Papa seolah diingatkan untuk kembali dan Papa mendengarkan itu. Papa meninggalkannya dan kembali pada kalian.
Papa mulai menata kembali hidup Papa sama kalian tapi di tiap hari Papa selalu berdoa minta ampun sama Tuhan atas dosa-dosa Papa. Perasaan bersalah tidak pernah lepas dari hati Papa karna berbuat jahat di belakang kalian. Untuk sikap kamu pun jika memang Papa yang salah, Papa mohon ampun sama Tuhan, Papa tidak mau menyalahkan kamu.
Bertahun-tahun Papa dilingkupi rasa bersalah, dibayangi dosa yang pernah Papa lakukan. Perasaan itu tidak pernah hilang, padahal Papa selalu minta Tuhan untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Tapi ternyata Tuhan menolak karena ingin membukakan dosa Papa pada kalian yang ternyata kamu dan Mama sudah tau.
Ternyata Tuhan mau Papa bukan hanya meminta ampun pada-Nya namun juga mengatakan semua dosa Papa pada kalian, agar terjadi perubahan dan pemulihan.
Mama, kamu dan Helva yang terpisah jauh dari Papa selama beberapa tahun membuat Papa dikubangin rasa bersalah yang tiada habisnya. Papa rindu, tapi Papa tau diri, sampai Papa dengan berani menemui kalian dan ketika kamu mencoba memaafkan Papa, semua beban itu seakan terlepas dari pundak Papa.
Dengan begitu saja Papa sangat bersyukur karna kamu mau mencoba menerima Papa.
Papa mengecewakan, Cassie. Papa minta maaf untuk semua kesalahan Papa. Ketidakhadiran Papa dan ketidakpedulian Papa, Papa minta maaf.
Dalam rumah tangga kamu nanti jangan belajar dari Papa, belajarlah dari Mama kamu yang sangat sabar dan punya hati seluas samudera. Papa mau kamu bahagia sama pria pilihan kamu itu. Papa harap dia bisa bertanggung jawab dan menggantikan posisi Papa dalam menjaga kamu dengan memberi kamu kebahagiaan tanpa menyakiti kamu.
Papa memang menyakiti kamu tapi Papa nggak mau kamu disakiti laki-laki. Jadi kalau dia menyakiti hati kamu, cari Papa. Papa akan membalasnya karna sudah berani menyakiti kamu. Meski pun mungkin nggak akan kamu lakuin tapi ingat saja ini. Karna kamu tetap putri kesayangan Papa, permatanya Papa, yang tidak mau lagi melihat kamu terluka.”
Altair mengusap air matanya yang jatuh karena menangis sambil berbicara itu. Semakin diusap semakin deras air matanya. Ha, putri sulungnya yang dulunya selalu mengekorinya dan menjadikannya panutan akan menikah. Cepat sekali rasanya. Altair menyesal melewatkan masa kuliah Altaria dan masa pendewasaannya. Belum banyak menghabiskan waktu bersama putrinya akan segera menikah.
Altaria ternyata dalam diamnya juga menangis, ia memalingkan wajahnya lalu mengusap air matanya. Baru kali ini ia mendengar isi hati Papanya dan harapan-harapannya. Hati Altaria menangis mendengarnya, ia terharu dan juga marah jika mengingat kelakuan Papanya dulu.
“Anda yang mengiring saya nanti. Saya mewajibkan itu. ”
Hanya itu yang Altaria ucapkan lalu berdiri dan sebelum masuk rumah ia berhenti kemudian berbalik menatap Altair yang masih menunduk. Ia menatap Papanya dengan sendu. “Udara mulai dingin, jangan lama-lama di sini.”
Altair menangis mendengarnya, bahkan terdengar isakan kecil. Dalam tangisannya ia mengingat semua masa kecil Altaria sehingga di sela tangis ia tertawa kecil.
Putrinya sudah besar ternyata.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Hayo ngaku siapa yang nangis?
Haaa ini bonus part nya ya. Abis ngetik langsung aku publish jadi kalau ada kata yang amburadul, acak kadut, maafkan, aku gak sempet baca lagi soalnya..
Yeayyy Altaria nikah gaes. Rela gak dia nikah sama Ethnan? Rela aja yaa 🙊 harus rela kalo mau Altaria hepi 😌
Revised: June, 9th 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)