Gelimangan harta yang diwariskan padanya tidak serta merta membuat Altaria bahagia. Memang semua kebutuhannya terpenuhi tetapi masih ada bagian di dirinya yang terasa kosong. Maka dari itu Altaria selalu mencari kesibukan di luar dan yang selalu dilakukannya adalah bekerja.
Namun hari ini Altaria memilih cuti sehari dan menghabiskan waktunya di sasana tinju. Sekitar tiga puluh menit Altaria pemanasan sebelum mulai bermain dan kini ia sedang duduk di sebuah bangku panjang yang tersedia sambil meminum air mineralnya.
Johansson yang baru saja selesai mengajar salah seorang pemuda menghampiri Altaria lalu duduk di sebelahnya.
“Kali ini kenapa?” Johansson sudah sangat tahu kebiasaan Altaria yang tidak pernah berubah. Jika sesuatu terjadi maka ia akan datang kemari dan menghabiskan waktu selama berjam-jam meninju samsak.
Altaria melirik Johansson dan memusatkan perhatiannya pada beberapa orang yang sedang latihan di atas ring, entah secara individu mau pun sparing.
“Ada yang korupsi. Udah ada titik terang. Ketemu tu orang habis sama gue,” katanya dengan pelan namun terdengar serius.
“Oh.” Johansson meneguk air mineralnya dengan rakus. “Apa cuma itu?”
Altaria berdecak pelan. “Gue nggak suka kalo lo udah tahu gue kayak gini.” Yang mengundang tawa renyah dari Johansson yang sambil mengelap keringatnya memakai handuk.
“Siapa suruh setia ke sini selama hampir sepuluh tahun?”
“Mau menyesal juga percuma,” ujar Altaria. Ia mengalihkan pandangannya pada Johansson. “Gue lagi nggak tenang di rumah.”
Johansson yang melihat wajah serius Altaria mengerutkan keningnya dengan raut bertanya. “Lalu?”
“Pengen keluar tapi nggak bisa. Mama siapa yang lihat nanti?” Altaria mendesah pelan.
“Sudah hampir sepuluh tahun lo ngomongin hal yang sama, Tira. Dan saran yang sama dari gue, keluar aja kalau mau keluar. Bawa Nyokap sama adek lo. Kelar masalah,” ucap Johansson sambil menatap Altaria yang terlihat seperti sedang memikirkan ucapannya barusan. “Atau selama ini memang lo nggak bisa karna bokap lo?”
“Buang-buang waktu gue mikirin dia.” Altaria membuang mukanya. “Dan gue nggak punya orang dengan panggilan itu.”
“Ya sudah kalo enggak. Pindah aja. Rumah lo ‘kan banyak. Udah hampir sepuluh tahun lo investasi sana-sini, usaha sana-sini, beli properti yang gue udah hilang hitung berapa banyak itu.” Johansson mengalihkan pandangannya dari Altaria pada ring tinju.
“Mama, ke psikiater, Bang.” Setelah diam beberapa saat Altaria kembali membuka mulutnya dan berkata dengan lirih tanpa menatap Johansson. Bibirnya bergetar saat mengatakan itu. “Udah empat tahun Mama nggak ke sana tapi lima bulan belakangan Mama ke sana lagi.” Lirih Altaria berucap. Ia menyanggah kedua tangannya di atas lutut dengan kepala yang tertunduk.
Johansson menatap Altaria dengan iba. Ia menepuk pelan pundak Altaria memberikan dukungan moral. “Jangan terlalu sibuk bekerja. Nyokap lo kayaknya lagi butuh teman bicara. Di rumah sebesar itu pasti dia selalu merasa sendirian karena semua anggota keluarga sibuk dengan urusan masing-masing.”
Perkataan Johansson itu seakan menjadi suatu tamparan untuk mengembalikan kesadaran Altaria. Benar. Selama ini, ia lebih menyibukkan dirinya dan hanya melihat dirinya saja. Ia berkata peduli dan sayang pada Mamanya tetapi nyatanya Altaria berbuat hal yang jauh dari ungkapannya itu.
“Lusa, kami pindah.” Altaria menegakkan tubuhnya lalu menatap Johansson dengan lekat. “Seminggu setelahnya gue bakal ajak Mama dan Helva liburan.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)