Jujur saja Altaria tidak berharap banyak pada ajakan Ethnan. Namun siapa yang dapat menyangka bahwa pria ini justru membawanya ke pantai. Ya, pantai.
Altaria menatap Ethnan dengan ceria namun juga bingung. “Gimana bisa kamu kepikiran untuk bawa saya ke pantai?”
Ethnan yang berdiri bersisian dengannya di depan kap mobil itu memalingkan kepalanya menatap Altaria. Ia menyatukan kedua tangannya ke depan. “Kamu sepertinya butuh ketenangan dan satu tempat yang hadir di benak saya yaitu pantai.”
Tersenyum, Altaria menyunggingkan senyuman pada Ethnan. Pria itu yang mendapat senyuman Altaria merasa beruntung karena Altaria terkenal cukup pelit memberi senyuman.
“Sepertinya berhasil.” Altaria berkata. Ia memandang jauh ke depan. “Tapi langit sedikit mendung sepertinya sore nanti akan hujan.” Ia menatap gumpalan awan yang berwarna abu-abu itu.
“Kamu suka hujan?" Ethnan masih betah memandangi wajah Altaria yang terlihat lebih tenang dan sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Altaria menoleh sekilas sebelum mengembalikan pandangannya ke depan. “Lumayan. Udaranya jadi lembab dan sejuk.”
“Kita sedikit berbeda ya dalam hal itu. Saya nggak terlalu suka hujan.”
“Kenapa?”
Ethnan memandang langit yang masih sedikit berwarna biru. “Saya pernah kecelakaan waktu SMA dan saat itu sedang hujan deras.”
Penuturan Ethnan itu langsung membuat Altaria memandangnya dengan raut terkejut yang kentara.
Ethnan memalingkan kepalanya menatap Altaria lalu tersenyum kecil. “Udah cukup lama emang tapi masih sedikit trauma. Jadi tiap hujan yang udah deres banget saya lebih memilih untuk nggam ke mana-mana. Kecuali kalo keadaannya terpaksa seperti pekerjaan. Tapi saya baik-baik aja sekarang, nggak ada cacat sama sekali. Hanya tinggal bekas jahitan operasi saja.”
“Syukurlah kalau begitu.” Altaria mendesah lega. “Kalau begitu kita pulang saja ya? Sepertinya hujan nanti akan lebat. Lagipula saya udah cukup ngelihat lautnya.”
Ethnan masih memandangi Altaria yang sudah beranjak menuju pintu penumpang. Altaria yang sadar Ethnan tidak segera bergerak menatap pria itu yang sedang menatapnya.
“Pak Madu, jangan bilang kamu mau nunggu hujannya?”
Perlahan senyuman tertarik dari kedua sudut bibirnya. “Tentu saja tidak, Nona.”
Altaria berdecak pelan. “Kalau begitu ayo.”
Ethnan mengangguk lalu menyusul Altaria dan masuk ke kursi pengemudi. Tanpa menunggu lama Ethnan membawa mobilnya menjauhi kawasan pantai dan kembali ke kota sebelum hujan datang.
⭐⭐
Altaria baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan ketika ia hendak keluar terdapat ketukan di pintunya. Sehingga ia pun menyahut rendah mempersilahkan orang tersebut masuk.
Begitu pintu ruangannya terbuka seorang pria dengan setelan kemeja dan celana kain melangkah masuk.
Altaria yang melihat pria itu tersenyum kecil. “Sebuah kejutan ya?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)