Nama lengkapnya adalah Altaria Cassiopeia Gavea, nama yang diberikan seseorang yang lebih dari sepuluh tahun lalu dipanggilnya Papa. Nama dari sebagian besar keluarga Bima merujuk pada langit. Tidak ketinggalan Altaria.
Altaria sendiri adalah sebuah bintang, dan Cassiopeia adalah sebuah rasi bintang belahan utara yang melambangkan legenda ratu Ethiopia yang berasal dari mitologi Yunani. Meski pun di mitologi tersebut menceritakan akan keangkuhan Cassiopeia. Namun arti namanya bagi orang yang memberikannya nama itu adalah seorang perempuan yang cantik, bersinar terang dan berkarisma.
Gavea sendiri diambil dari nama sebuah air terjun di Brazil ketika Altair dan Raline bulan madu di sana.
Altair menamakan Altaria seperti itu dengan harapan Altaria akan menjadi seorang bintang cantik yang bersinar terang dan berkarisma di mana pun gadis itu berada dan selalu memberi kesejukan diiringi ketegasan dalam hidupnya.
Dulunya Altaria dipanggil Cassie oleh Altair, mengingat namanya dan Altaria sangatlah mirip. Sehingga Altair memilih memanggil putri sulungnya seperti itu. Lagipula Altaria suka dengan nama Cassiopeia itu.
Altaria adalah anak yang sangat cantik dan manis. Ia begitu patuh dan tegas, seperti arti namanya.
Altaria dulu adalah gadis yang membawa keceriaan di dalam rumah. Ia selalu berceloteh banyak hal dan sangat manja pada Altair. Sampai-sampai Altair dibuat kewalahan namun ia justru menyukai itu. Sifat manja Altaria yang hanya akan ada jika sudah bersama dengan Altair.
Namun semakin besar Altaria semakin paham terhadap cemoohan, cibiran, sindiran dan kata-kata kasar yang didengarnya di dalam keluarga besar Bima. Altaria melihat perlakuan mereka pada Mamanya dan pada dirinya sendiri. Terlebih ditambah kehadiran anggota di keluarga mereka yaitu Helva membuat sikap mereka semakin kasar.
Saat masih kecil itu Altaria yang terus menyaksikan Mamanya dihina pun tak ketinggalan ia dan adiknya, membuatnya mengambil sikap. Altaria menjadi lebih tekun lagi untuk belajar. Sehingga buah dari itu ia dapat mencetak berbagai macam prestasi baik itu secara akademik mau pun non akademik.
Altaria tiga kali ikut kelas akselerasi karena kecerdasannya itu namun cibiran tidak henti dilayangkan. Mereka menutup mata akan semua pencapaian yang diraih Altaria.
Usahanya yang tidak dianggap tentu membuat Altaria geram. Tapi saat itu ia hanyalah seorang anak yang belum memiliki kekuatan apa-apa sehingga yang bisa dilakukannya hanyalah belajar, belajar dan terus mencetak prestasi.
Kasih sayang dan dukungan Raline terus mengalir padanya mau pun pada adiknya. Dengan berpegang pada dukungan Mamanya dan bantuan Papanya, Altaria menutup kedua telinganya dan hanya melihat ke depan.
Namun beberapa tahun kemudian ketika ia menginjak sekolah menengah atas di tahun terakhir betapa terpukulnya Altaria saat itu.
Disaat itu Altaria melihat seseorang yang selalu memanjakannya, seseorang yang selalu mengajarkan Altaria untuk tidak mendengarkan omongan orang dan membalasnya dengan prestasi, mengecewakannya.
Di dalam ruangan itu, Altaria melihat sosok yang selalu dipanggilnya Papa itu sedang bercumbu mesra dengan seorang wanita.
Hancur sekali hatinya saat melihat itu.
Altaria baru pulang sekolah dan ia ingin sekali mengajak Altair untuk menemaninya mencari es krim karena cuaca sedang panas-panasnya. Namun ia justru menemukan sesuatu yang tidak akan pernah disangkanya.
Altaria kemudian menatap sekretaris Papanya dan menyuruh pria itu untuk tutup mulut bahwa Altaria pernah datang kemari. Lalu setelah itu ia mulai menanyakan semuanya pada sekretaris Altair itu.
Awalnya sekretaris Papanya itu tidak mau membuka mulut. Tapi dengan bujukan sedemikian rupa, pria berusia tiga puluh tahun itu pun menceritakan semuanya. Semua fakta-fakta yang diterimanya membuatnya sangat terkejutnya. Seseorang yang selama ini diketahuinya sangat mengasihinya telah mempermainkan janji pernikahannya bersama Ibunya dengan bermain gila bersama wanita lain selama tiga tahun lebih.
Selama dua tahun itu memang tidak kelihatan, tidak ada kecurigaan karena Altair selalu memberi perhatian dan kasih sayang padanya, Mamanya dan adiknya. Namun pada satu tahun terakhir itu, sikap Ayahnya menjadi berbeda. Ayahnya sering pulang subuh, di rumah pun lebih banyak diam dan sibuk dengan laptopnya. Bahkan yang biasanya di akhir pekan akan mengajak keluarganya liburan singkat atau setiap dua bulan sekali mereka akan liburan selama satu minggu namun tahun itu tidak sama sekali.
Perhatian Altair menjadi dingin namun Altaria tidak terlalu ambil pusing, ia berusaha tetap bersikap seperti biasanya pada Altair sampai fakta itu diketahuinya.
Altaria pun diam-diam mengikuti setiap kegiatan Altair. Baik itu dicari tahunya sendiri mau pun dari orang suruhannya. Dan hatinya semakin hancur berkeping-keping setiap mengetahui fakta-fakta mengenai Altair.
Altaria pun tahu identitas selingkuhan Altair. Wanita itu berdarah Indonesia dan Italia, mereka bertemu saat Altair memiliki pekerjaan di Spanyol lalu perlahan mulai terjalinlah hubungan terlarang itu.
Altair membelikan wanita itu dua buah rumah mewah yaitu di Indonesia dan di Italia. Membelikannya beberapa mobil, semua kebutuhan wanita itu pun dipenuhi dan sering mengajaknya liburan bersama.
Setiap melihat foto-foto, video, rekaman suara yang didapatkannya, Altaria selalu menangis diam-diam di kamar.
Jahat sekali Papanya. Kurang apa Mamanya selama ini pada Papanya? Raline selalu menjadi istri yang berbakti, lembut dan Raline itu sangat cantik, tapi kenapa Altair berkhianat?
Altaria yang mengetahui semua itu memilih diam dan tidak mengatakannya pada siapa pun. Ia tetap bersikap seperti biasa pada Ayahnya. Meski begitu hatinya tidak bisa dibohongi ia sakit hati dengan pria itu.
Dalam keadaan hatinya yang tidak pernah baik, Altaria masih setia mengikuti Altair. Hingga di suatu hari ketika Altaria mengikuti Altair secara diam-diam—seperti biasanya—betapa terkejutnya ia ketika melihat Raline yang menyaksikan kegilaan Altair dari jarak jauh di sebuah restoran bintang lima.
Altaria tidak menyangka Raline selama ini ternyata menaruh curiga pada suaminya atau mungkin sudah tahu. Bahwa suaminya bermain gila.
Altaria tidak tahu harus mengambarkan perasaannya seperti apa pada saat itu. Diam-diam ia menemani Raline pulang, meninggalkan Altair bermesraan dengan wanita lain.
Altaria masuk ke dalam rumah dan ia melangkah dengan perlahan menuju kamar orang tuanya. Pintu kamar tidak tertutup rapat sehingga ia dapat mendengar isakan keras Mamanya. Altaria menutup matanya dengan rapat sambil mengepalkan tangan saat mendengar tangisan pilu itu.
Altair sangat keterlaluan. Mamanya dibuat menangis seperti itu. Tidak pernah Altaria mendengar Raline menangis seperti itu namun untuk pertama kalinya ia mendengarnya. Sekasar apa pun cacian keluarga besar Bima, Altaria tidak pernah mendapati Raline menangis. Karena ia tahu bahwa Raline memiliki seorang pria yang selalu menemaninya dan menguatkannya. Tapi ternyata tempatnya berlari dan bersandar menyakitinya sungguh luar biasa.
Altaria tidak bisa membayangkan sehancur apa perasaan Raline karena ia sendiri sehancur itu. Bagaimana dengan Mamanya?
Mendengar tangisan Mamanya itu membuat Altaria sangat tidak terima akan kelakuan bejat Altair, tetapi ia tetap diam. Bukan karena ia tidak menyayangi Ibunya, namun Altaria memilih untuk selalu berusaha menemani Ibunya dari pada memikirkan kelakuan Altair.
Bersama Helva, mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama entah itu hanya ke mall atau ke luar negeri sekali pun. Meski begitu pengawasan Altaria pada Altair tidak pernah berhenti. Ia yang terkadang masih bisa melihat sendiri memilih untuk membiarkan orang suruhannya mengirimkan semua jenis bukti saja padanya. Mamanya lebih penting dari apa pun.
Selama ini Altaria mengabaikan sikap brengsek Altair, berusaha terlihat baik-baik saja dan memilih memerhatikan Mamanya.
Hingga dua kejadian itu terjadi di hidupnya.
Raline terpeleset di dapur saat sedang memasak dan mengakibatkan keguguran. Altaria terus menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga Mamanya dengan baik saat itu. Harusnya ia tidak melepaskan pengawasan dari Mamanya. Jika saja ia tahu Raline hamil pasti mereka tidak akan kehilangan calon anak Raline dan calon adiknya itu. Akan tetapi mau menyesal pun percuma sudah terjadi sehingga ia hanya bisa berusaha menerima dengan lapang dada. Disaat itu Altaria mengutuki Altair karena tidak bisa dihubungi. Setidaknya jika Altair datang Altaria akan berpikir untuk sedikit mengurangi rasa bencinya pada Ayahnya namun harapan tinggal harapan.
Altair tidak bisa dihubungi, setelah bisa dihubungi itu pun satu minggu kemudian ketika Mamanya sudah di rumah. Dengan polosnya Altaria bertanya pada Papanya itu mengapa ia tidak bisa dihubungi. Altair beralasan ia sedang perjalanan bisnis padahal sebenarnya ia tahu. Ia tahu kalau Altair sedang menemani wanita itu di Italia. Bersikap manis pada Raline, Altaria dan Helva padahal nyatanya busuk.
Insiden keguguran itu membuat Raline meminta Altaria untuk merahasiakan hal tersebut dari Helva dan juga Ayahnya. Awalnya Altaria tidak mau, tetapi pada akhirnya ia pun menurut.
Sejak itu Altaria berusaha menghibur Raline, menjadikan bahunya tempat sandaran Mamanya. Awalnya Altaria mengira Raline sudah baik-baik saja, menerima kehilangan itu, dan memilih bersabar dengan kelakuan Altair. Namun ternyata diam-diam Mamanya sering ke psikolog untuk membantunya dalam menghadapi depresi yang ternyata dideritanya.
Harusnya Altaria sudah dapat memprediksinya karena ia sering mendapati Mamanya menangis diam-diam di dapur sambil meminum setengah botol wine.
Sakit sekali Altaria jika mengingat ternyata apa yang dilakukan Raline tiap tengah malam itu untuk membuatnya tetap waras. Pengkhianatan suaminya membuat Raline hancur, ditambah Mamanya harus kehilangan calon anaknya. Semakin sakit hatilah ia dan membuatnya depresi.
Semua yang dialami Raline membuat Altaria sedih dan marah. Tapi ia tidak tahu harus marah pada siapa. Ia tidak suka melihat Mamanya menderita seperti itu, tetapi sebagai anak sulung yang bisa dilakukannya saat itu adalah menjadi anak yang berprestasi dan menjadi sahabat Raline.
Sampai kejadian mengerikan yang menimpanya membuat rasa toleransi dan sayang yang masih ada meski hanya sedikit pada Altair itu lenyap.
Ketika sedang menunggu dijemput supirnya, Altaria yang duduk di bangku akhir sekolah menengah atas itu, di siang hari yang terik..., diculik.
Altaria diculik oleh adik pertama Altair yaitu Bulan. Ia disekap di sebuah gudang yang letaknya cukup jauh dari kota. Dalam gudang kecil itu Bulan dan suaminya, mengata-ngatainya, mencaci makinya dan berkata akan membunuhnya, tetapi sebelum itu akan mereka siksa Altaria. Dan selama lima hari Altaria disiksa baik secara fisik mau pun batin.
Ketika diculik saat itu juga Altaria berharap ada yang menyelamatkannya. Pada hari pertama ia memberontak. Membalas semua cacian Bulan. Tapi satu hari berganti menjadi dua hari menjadi tiga hari, Altaria mulai tidak berdaya. Disetiap detik yang bisa dilakukannya hanyalah meneriak dalam hati pada Tuhan dan Papanya di setiap doa. Namun tidak ada yang terjadi. Ayahnya tidak akan pernah peduli karena ternyata sedang bersenang-senang dengan kekasih gelapnya. Ia bisa tahu dari beberapa foto yang ditunjukkan Bulan padanya. Altaria sudah mulai merasa menyerah. Tuhan seolah menutup telinga tidak mendengar doanya.
Hingga di hari kelima ketika Altaria baru saja selesai diperkosa lagi, saat itu ia sudah pasrah karena Altaria tahu ia akan segera dilenyapkan. Ia pasrah dengan hidupnya. Lebih baik ia mati dari pada terus disiksa dan dipakai secara bejat. Tetapi sepertinya disaat ia sudah tidak mau berharap itulah ternyata Tuhan mendengar doanya.
Feren sahabatnya, ketika tidak mendapat kehadiran Altaria di sekolah selama dua hari menjadi khawatir. Ia pun langsung menghubungi kediaman Altaria tapi kata kepala asisten rumah tangga yang ada Altaria tidak pulang karena menginap di rumah Feren. Dari situlah Feren mulai merasa curiga dan mulai mencari Altaria. Dengan bantuan dari saudara sepupunya yang seorang polisi dan juga seorang preman pencarian mereka pun membuahkan hasil. Mereka menemukan Altaria di gudang itu dan ketika masuk ke dalam, Feren gemetar. Altaria terbaring lemas di atas ranjang lusuh. Polisi yang bersama-sama dengan Feren pun langsung mengamankan para tersangka dan tempat itu.
Feren meraung keras melihat kondisi sahabatnya. Ia dengan sigap langsung membawa Altaria ke rumah sakit dengan mobilnya. Di sepanjang jalan Feren memeluk Altaria dengan erat sambil menangis.
Kalau Feren tidak tepat waktu menemukan Altaria saat itu mungkin Altaria sudah tidak ada di dunia ini. Ia bersyukur karena dapat menemukan Altaria tepat waktu, meski pun dalam kondisi yang mengenaskan. Feren tidak habis pikir manusia seperti apa yang tidak punya hati menyiksa Altaria sedemikian rupa. Tapi mereka sudah tidak pantas disebut manusia. Lebih tepatnya mereka adalah iblis. Karena iblis tidak punya hati dan belas kasihan.
Dari kejadian mengerikan itu membuat Altaria menjadi orang yang sangat berbeda. Meninggalkan trauma yang sangat berat dan mendalam pada Altaria. Ia yang sudah lelah karena mengingat perbuatan-perbuatan biadab itu pun tanpa sadar menciptakan sosok di dalam dirinya. Saat itulah Jolika muncul. Jolika yang menggantikannya yang takut menghadapi dunia, takut melihat orang dan ingin melupakan semua kejadian mengerikan itu. Maka caranya adalah menciptakan sosok lain di dalam dirinya.
Untuk sesaat Altaria merasa lega, tetapi ingatan itu tidak pernah sekali pun hilang dari dalam kepalanya disaat dirinya sendiri yang kembali muncul.
Di setiap malamnya Altaria akan susah tidur dan berteriak histeris. Ia menjauhi topik bercinta, seks, penculikan dan pembunuhan karena itu akan menimbulkan efek kecemasan yang hebat pada dirinya. Semua itu tidak mudah dilewatinya. Setiap ingin bangun kungkungan memori gelap itu selalu membuatnya kembali tenggelam dalam ketidakberdayaan.
Feren yang setia berada di sisi Altaria tidak menyerah. Melihat semua yang dilewati Altaria ia tentu langsung membantu sahabatnya itu. Perlahan Altaria mulai mau bangun.
Sambil ditemani Feren dua tahun sudah lewat. Setelah kejadian itu Altaria bertemu dengan Johansson secara tidak sengaja di sebuah gedung olahraga. Ia sedang melihat pertandingan tinju lalu tiba-tiba ia memiliki keinginan untuk belajar tinju. Hingga dengan kebulatan tekad Altaria minta diajari tinju oleh Johansson dan sejak saat itu Altaria menggeluti olahraga itu. Tinju menjadi salah satu hobinya dalam membantu pengobatannya.
Namun tidak mudah. Berat sekali rasanya, meski pun sudah berlatih tinju, tetapi perasaan amarah dan putus asa tetap ada pada dirinya. Tanpa bisa dicegah Altaria tmelakukan percobaan bunuh diri. Bukan sekali dua kali percobaan bunuh diri dilakukannya, berkali-kali, tetapi selalu gagal. Ia seolah tidak diizinkan untuk mati.
Dengan semua aktivitasnya yang positif, didampingi Feren dan juga Dokter Mia serta Johansson ia perlahan berhenti melakukan percobaan bunuh diri. Namun itu pun bukan sebentar usahanya. Butuh waktu tujuh tahun untuk membuatnya berhenti mencoba bunuh diri. Apalagi setiap ia berobat, dokternya selalu mengingatkan Altaria akan kehadiran Mamanya dan Helva. Hingga ia pun benar-benar berhenti mencoba untuk mengakhiri hidupnya.
Lebih dari sepuluh tahun sudah Altaria berteman dengan ingatan gelapnya, ingatan yang membuatnya merasa jijik. Sepuluh tahun lebih Altaria hidup bersama depresi dan rasa traumatis ditemani dua kepribadiannya yang lain. Menjalani hidup dengan tidak pernah merasa tenang dan harus terus mengonsumsi obat.
Semenjak saat itu Altaria tidak pernah menganggap Altair. Sikapnya semakin hari semakin dingin dan seperti ada tembok tak kasat mata yang dibangunnya. Melihat Altair justru menimbulkan amarah besar dan perasaan jijik. Sejak saat itu juga Altaria tidak sudi dipanggil dengan nama Cassie dan menghilangkan nama Cassie dari hidupnya.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun dan lebih dari sepuluh tahun luka Altaria dan Raline pun tersingkapkan. Terlebih lagi karena Helva mengalami hal yang serupa.
Altaria tidak mau lagi menahan amarahnya, ia ingin lepas maka malam itu ia mengatakan semuanya.
Ada perasaan lega ketika bisa jujur, namun ia pun merasa bersalah lagi pada Raline dan Helva.
Jika saja ia bisa sedikit sabar dan bisa mengendalikan emosinya pasti jadinya tidak akan seperti itu.
“Tira.”
Altaria langsung menoleh menatap Raline. “Iya, Ma?”
“Lagi apa kamu malam-malam di sini?” Raline berjalan mendekati Altaria yang sedang duduk di gazebo dekat kolam renang.
Terkejut adalah ekspresi Raline ketika melihat air mata putrinya. Raline dengan lembut menghapus air mata Altaria. “Sakit ya?”
Raline seakan mengerti perasaan putrinya. Ia menatap Altaria dengan sendu namun sangatlah hangat.
Kembali tetesan air matanya mengalir. Altaria mengangguk kecil. “Aku nggak bisa sembuh, Ma.”
Raline menggeleng. Ia memeluk putrinya dengan erat. “Nggak papa. Kamu masih punya Mama kok. Kamu nggak sendiri lagi, Sayang. Kamu punya Mama. Jadi nggak papa, Nak. Nggak papa.”
Tangisannya yang semula tanpa suara pun langsung terisak lirih dan pilu di pelukan Raline. Selama ini ia harus berusaha agar tidak ketahuan Raline, tetapi sekarang Altaria bisa dan bebas menangis, mengutarakan isi hatinya pada Raline. Ia membiarkan Mamanya mengetahui penderitaannya yang bertahun-tahun dipendamnya.
Dalam dekapan hangat Mamanya, Altaria mengadu akan perasaannya, ketakutannya.
“Maafin Mama ya yang nggak tahu apa-apa. Maaf Mama lalai dalam menjaga kamu dan juga Ela. Andai saja Mama lebih kuat dan tegas pasti tidak akan seperti ini.”
Altaria menggeleng di pelukan Raline dengan tersendat ia bicara, “Mama, udah ngelakuin yang terbaik, jangan menyalahkan diri Mama lagi.”
Raline ikut menangis. “Mama, nggak tahu kalau kamu selama ini tahu Papamu seperti itu dan hidup kamu pun hancur.”
“Mamaa...” Altaria terisak kuat. Ia tidak suka Mamanya terus menyalahkan dirinya seperti itu.
Raline menarik napas dengan susah payah. “Papamu itu orang yang sangat penyayang dan selalu berpikir dengan jernih. Dia tidak pernah menyesal sudah memilih Mama, dia tidak pernah menyesal memiliki kamu dan Ela. Tapi yang namanya manusia pasti ada rasa tidak puasnya apalagi tekanan dari keluarga.
Mama sakit hati dengan Papa kamu, Tir. Mama pikir Papa kamu sudah merasa cukup dan bersyukur dengan adanya kita bertiga, tetapi ternyata tidak sama sekali. Mama kecewa sekali, Tira. Bukan salah Mama kalau tidak bisa memberikan seorang anak laki-laki ‘kan? Oleh sebab itu Mama membalasnya dengan berusaha keras menjadi Istri dan Ibu yang baik, tapi justru dibalas dengan cara semenyakitkan itu apalagi ternyata kamu pun dikecewakannya. Kamu menjadi korbannya dan harus melalui semua ini, adikmu juga begitu.
Mama sudah berusaha memaafkan Papa kamu selama belasan tahun ini, tapi kenapa ini sakit sekali, Tira. Lebih sakit lagi karena Mama tahu kamu dan Ela diperlakukan seperti itu. Kedua putri yang Mama besarkan dengan penuh kasih sayang, yang selalu menjadi penerang Mama, yang selalu menguatkan Mama, yang selalu menemani Mama diperlakukan secara tidak manusiawi.
Sakit sekali hatinya Mama, Tira. Harusnya cukup Mama saja yang sakit hati dan menderita bukan kalian. Mama tidak dapat membayangkan apa yang kamu dan Ela alami. Andai bisa biar Mama yang merasakan sakitnya.”
Altaria menggeleng kuat sambil mengeratkan pelukannya dan terus menangis keras. Ia tidak akan pernah mau jika Raline yang mengalaminya. Bisa-bisa Altaria menghabisi nyawa Ayahnya sendiri jika itu terjadi, jadi biarkan ia saja, meski pun ia harus hidup dalam gelap. Dan kejadian Helva itu cukup pertama dan terakhir kalinya terjadi pada orang-orang yang dikasihinya. Altaria tidak akan sanggup jika Helva atau Raline disakiti lagi.
Raline mengusap kepala Altaria dengan sayang sambil menangis. “Tira, kamu mau ‘kan mengabulkan keinginan Mama?”
Altaria mengangguk dalam pelukan mereka. Tentu saja, apa pun akan dilakukan Altaria demi Raline.
“Kita pindah dari sini. Kita obati sakit hati kita, jauh dari tempat ini. Mama, kamu dan Ela, kita bisa meski pun hanya bertiga. Kita pindah sejauh mungkin tanpa diketahui Papa kamu. Kamu mau ‘kan?”
“Iya, Ma. Kita pergi sejauh-jauhnya. Mama, aku dan Ela.”
Raline mengangguk pelan.
“Aku sayang banget sama, Mama. Mama aku nggak boleh disakiti lagi. Aku nggak suka Mama nangis.”
Raline tersenyum kecil. Ia melepas pelukan mereka lalu menghapus air matanya begitu pula air mata putri sulungnya. “Mama juga sayang banget sama kamu dan Ela dan Mama akan melindungi kalian dengan segenap kekuatan Mama. Nggak akan Mama biarkan putri-putri cantik Mama disakiti lagi.”
Altaria memberikan senyumannya pada Raline.
Ya, mereka harus bebas dan mengobati hati mereka. Tidak ada yang terlambat, selama masih bisa, selama masih ada kesempatan maka segala sesuatu mungkin.
Sejauh dan selama apa pun mereka harus sembuh.
Bersambung..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Jadi gitu yaa, Royal, ceritanya Altaria dan Mamanya.
Sakit ya? Banget.. Aku gak bisa bayangkan jadi Altaria gimana
Pernah gak sih kalian di posisi di mama rasanya dideketin sama orang, tapi dianya tiba" deket sama teman baik kalian waktu SMA? Sakit, Makk..
Apa gue yang selama ini salah nangkap sinyal apa gimana? :'( hikss
Harus kah gue ngalah lagi buat temen gue?
Published: June, 17th 2021
Revised: June, 8th 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)