Seperti biasa Altaria makan sendirian di sebuah restoran. Saat ini Altaria sedang menginginkan makanan Cina jadi tempat yang ditujunya tentu harus berhubungan dengan masakan Cina.
Altaria menatap sekitar dimana terdapat dengungan suara orang seperti biasa. Altaria memakan mienya dengan perlahan.
Ia menikmati waktunya ini sendiri.
Sebelum nanti bertemu dengan pria yang selama lima tahun tidak dilihatnya. Altaria tidak terlalu mempercayai pertemuan tanpa disengaja dalam hidupnya meski ia sering mengalaminya, namun lebih baik ia membuat janji temu.
Es jeruk menjadi pilihannya untuk menetralisir rasa makanan di tenggorokannya. Setelah selesai dengan makanannya Altaria memainkan sebentar ponselnya sampai seseorang menarik kursi dan duduk di depannya.
Altaria mengangkat wajahnya, pria itu sudah duduk di hadapannya.
“Hai, Altaria.”
Altaria tersenyum. “Hai, Hananiah.”
Ethnan ikut mengulum senyum. Ia memandang gadis di depannya dengan seksama. Altaria terlihat jauh berbeda dan binar di matanya terlihat lebih hidup dari lima tahun lalu. Serta jauh lebih cantik apalagi dengan warna kulitnya yang menjadi kecoklatan.
“Gimana kabar kamu?”
Altaria menatap Ethnan. “Baik. Kamu?”
“Aku juga baik. Ngomong-ngomong maaf ya aku baru samperin kamunya sekarang. Aku udah berusaha cepat tapi tetap saja terlambat.”
Altaria mengangguk. “Santai. Aku enjoy nunggu kok.”
Sungguh, perempuan di depannya ini berbeda dari yang sebelumnya.
“Udah nikah?”
Ethnan menjadi tertawa pelan karena pertanyaan Altaria. Rasanya baru Altaria yang selalu membuatnya takjub karena sikap tanpa basa-basinya. “Selalu to the point.”
Altaria mengendik tak acuh. “Aku udah pernah coba belajar buat basa-basi tapi—” Altaria menggeleng, “—nggak cocok sama aku.”
Dan ia jadi lebih banyak bicara. Maksudnya Altaria dulu cukup ekspresif dan cukup berbicara tetapi tidak seperti sekarang ini.
Ethnan menyadari itu dan ia merasakan perasaannya menghangat melihat perubahan Altaria ini. Ethnan menemukan sosok yang baru atau mungkin sosok asli Altaria.
“Nggak papa. Nggak semua orang bisa seperti kamu. Aku contohnya dan aku jadi belajar hal itu dari kamu.” Ethnan mengulum senyuman kecil.
Ethnan selalu mengerti dirinya dan berusaha mengimbangi pola pikirnya yang terkadang tidak sama seperti perempuan kebanyakan. “Tapi aku di belakang sangat sering dimaki-maki karena sikapku yang nggak ada manis-manisnya.”
“Nggak perlu jadi manis, terkadang memang basa-basi itu perlu katakanlah hanya sebagai kalimat pembuka dan terlihat sopan.”
“Jadi kamu sudah menikah atau belum?” Tentu saja Altaria tidak melupakan pertanyaan yang belum dijawab itu dan mengabaikan kalimat bijak Ethnan.
Ethnan tersenyum tertahan lalu berdehem pelan. “Kalau belum masih mau sama aku?”
Altaria tertawa mendengar pertanyaan blak-blakan mantan kekasihnya itu. “Status kamu dulu. Siapa tahu aja kamu masih single dan aku mau sama kamu.” Altaria berucap sambil mengendik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)