47. An Amusement Date

2.6K 286 11
                                        

Wahana bermain merupakan salah satu tempat wisata yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Keseruan dan keceriaan bahkan teriakan ketakutan pun ada di sana namun sama sekali tidak melunturkan kebahagiaan yang ada.

Oleh karena itulah wahana bermain menjadi kesepakatan bagi Altaria dan Ethnan untuk menghabiskan akhir pekan bersama. Seperti saat ini, keduanya sudah sekitar sembilan puluh menit berada di taman bermain dan baru mencoba wahana biasa yang bukan menguji adrenalin atau ketakutan.

Namun itu tadi karena sepertinya sekarang mereka hendak mencoba salah satu wahana yang wajib dan terkenal untuk dinaiki.

Altaria melihat Ethnan yang diam sambil menatap wahana yang terlihat meliuk-liuk di atas ketinggian dalam kecepatan tinggi.

Ethnan melirik Altaria. Wajahnya terlihat kaku dan sedikit pucat.

“Kamu tau ‘kan aku takut wahana gini?”

Altaria mengangguk. “Iya. Terus kenapa?”

“Dan kamu masih nyuruh aku nemenin kamu naik ini?” Suara Ethnan naik setengah oktaf sambil menunjuk roller coaster yang terlihat mengerikan di matanya.

Altaria tersenyum kecil. “Iya.” Ia memerhatikan wajah Ethnan yang terlihat tidak santai itu. “Setakut itu kamu?”

“Iya.” Ethnan berbalik pada Altaria dan menatapnya. “Rumah hantu aja, atau yang lain. Jangan yang itu. Aku takut, Aria.”

Ethnan tidak merasa malu dalam menceritakan atau berbagi akan ketakutannya. Ia hanyalah manusia biasa, bukan berarti ia laki-laki jadi harus sok kuat, ia pun bisa lemah dan memiliki kekurangan, contohnya seperti ini. Ethnan takut menaiki wahana ekstrim.

Altaria pun tidak menghakimi atau merendahkan Ethnan. Ia justru senang karena Ethnan tidak bersikap seperti tidak punya kelemahan sama sekali.

“Tapi aku pengen naik itu, Hani. Kita naik itu aja deh, setelah itu sisanya terserah kamu. Ya?” Altaria menyunggingkan senyuman manisnya untuk membujuk Ethnan. Bisa saja Altaria bersikap lebih agresif akan tetapi saat ini mereka sedang mencoba dengan pelan-pelan jadi tindakan seperti itu sangat tidak disarankan.

Ethnan menatap roller coaster dan Altaria bergantian. Ia mengusap keningnya untuk mempertimbangkan dirinya atau Altaria.

Yang dimana ia sampai di keputusan. “Oke. Hanya ini. Hanya wahana ini. Sisanya aku yang tentukan.”

Jawaban itu membuat senyuman sangat lebar dan membuatnya terlihat indah. Ethnan bahkan tertegun karena ia melihat percikan kebahagiaan di mata Altaria.

Hanya karena jawabannya tersebut membuat Altaria sebahagia itu.

“Makasih, Hani.”

Mau tak mau senyuman Ethnan pun ikut melebar. Raut wajah itu terlihat sangat cerah dan berlipat kali cantik. Kulitnya yang jauh lebih eksotis dari sebelumnya, rambut panjangnya yang diikat cepol dan wajahnya yang dirias natural membuatnya terlihat bersinar.

“Sama-sama, Aria. Jadi... Ayo. Kita naik itu.”

Untuk menghindari kegilaan yang ada dalam pikirannya, Ethnan memilih untuk mengambil langkah terlebih dahulu dalam mengantri. Ia juga sekalian menetralkan detak jantungnya yang bekerja berkali lipat itu.

Altaria memandang punggung lebar Ethnan. Pria itu masih tetap sama, mengedepankan dirinya dan itu hal yang susah Altaria dapatkan dari seorang pria. Kesalahan Ethnan mungkin cukup fatal, tetapi matanya tidak bisa tertutup karena masih ada kebaikan padanya.

–––––––

Ethnan melahap makanan tanpa terlalu banyak berpikir. Tenaganya habis karena berteriak-teriak dan sempat muntah tadi.

Altaria [Completed] || RevisedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang