19. Ulang Tahun

2.3K 236 3
                                        

Altaria tidak pernah menyangka bahwa charity event yang dibuatnya akan seramai itu. Sehingga kini membuatnya kelelahan dan memilih mengistirahatkan diri dengan duduk di salah satu kursi yang ada karena malas bergerak seusainya kegiatan. Kendra sendiri tidak pernah meninggalkan sisi Altaria sedari tadi.

“Coba kamu bantu saya jawab, Ken.”

Kendra yang duduk di sebelah Altaria langsung menoleh. “Apa itu, Nona?”

“Kenapa saya harus membuat acara ini? Untuk apa? Kalau tahu begini lebih baik tidak usah buat acara. Saya capek, Ken.”

Kendra mengulum senyum karena dumelan Altaria juga wajahnya yang merengut itu. Jika saja orang-orang dapat melihat bahwa dibalik sifat Altaria yang angkuh, ia adalah sosok yang hangat dan baik hati.

“Karna Nona menganggap acara ini berguna dibandingkan hanya pesta tidak jelas,” jawab Kendra lugas.

Altaria mencibir pelan. “Memang berguna tapi saya capek. Kalo saya pegal, punggung saya sakit karna harus berdiri terus.”

“Mau saya pijat, Nona?”

Altaria mengernyit lalu menggeleng. “Bisa-bisa dipenggal saya kalo kamu sampai menyentuh saya. Inget, pacar kamu itu galak.”

Tentu saja ucapan Altaria itu mengundang tawa dari Kendra yang terbiasa memasang wajah datar itu. “Tenang saja, Nona. Dia sudah terlalu paham jadi tidak akan mengamuk.”

Altaria tersenyum kecil. “Kamu benar. Oh ya.., Kendra, tolong kamu suruh orang-orang kepercayaan kita untuk memantau portal media. Saya tidak mau ada satu pun berita mengenai kegiatan hari ini yang keluar di media mana pun.”

Kendra mengangguk patuh. “Sudah saya lakukan, Nona. Kami akan mengawasi sampai tujuh hari ke depan, memastikan tidak ada satu pun berita yang naik.”

“Bagus.” Altaria mengangguk puas. Ia memijat keningnya dengan pelan karena kepalanya terasa sakit. “Makan yuk, Ken.” Ia membuka matanya dan kembali menatap Kendra.

Kendra segera berdiri lalu mengulurkan tangannya yang langsung disambut Altaria untuk berdiri.

“Saya ingin yang manis-manis. Hmm.. Sepertinya kue tidak jadi masalah ‘kan, Ken?” Altaria menatap Kendra yang dengan setia berjalan di belakangnya.

“Asal, Nona, harus makan makanan berat terlebih dahulu.”

“Oke.”

Altaria kembali menegakkan kepalanya dan berjalan dengan tegas tanpa peduli tatapan para karyawan padanya.

Baru saja Altaria hendak masuk ke dalam mobil tangannya tiba-tiba ditarik dan ia terkejut melihat Ethnan.

“Madu?”

“Kamu kenapa nggak pernah bilang hari ini ulang tahun kamu dan kamu juga bikin acara?”

Altaria mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mengulum senyum tipis. “Kita bicara di mobil.”

Ethnan memandang Altaria beberapa saat sebelum mengangguk dan masuk ke dalam mobil Altaria setelah meminta supirnya untuk keluar.

“Jadi kamu udah balik?”

“Tadi pagi.”

Altaria mengangguk. “Oh..”

“Kamu.., kenapa kamu nggak bilang sama aku?”

Altaria menoleh pada Ethnan lalu mendesah napas pelan. “Kamu sibuk, Madu. Aku juga bukan tipikal perempuan yang suka menuntut sama orang lain.”

“Aku tahu itu, Aria. Tapi coba kamu bayangkan jadi satu-satunya orang yang nggak tahu hari ulang tahun orang yang dia sayang bahkan nggak tahu juga mau dirayakan. Sedih, merasa bodoh dan merasa tidak dianggap, Aria,” jelas Ethnan dengan lugas dengan tatapan yang tegas tertuju pada Altaria.

Ethnan menjadi orang bodoh karena tidak tahu menahu perihal ini. Hal ini ia tahu pun karena tanpa sengaja dikatakan oleh salah seorang pimpinan direksi pusat padanya.

“Maaf. Bukan maksud aku kayak itu, tapi aku akui aku salah karna nggak ngomong apa-apa sama kamu. Jujur aja aku masih harus beradaptasi karena terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Aku salah jadi apa yang harus aku lakukan supaya kamu nggak marah lagi sama aku?” Altaria mendekat pada Ethnan sambil memandangnya dengan lembut.

“Dari kapan kamu rencanain acara ini?”

“Dua minggu lalu.”

Kening Ethnan mengerut. “Kamu...” Ethnan seolah kehabisan kata dengan Altaria. Ia memandang gadis itu. “Apa kamu benar-benar.., sama sekali nggak mikirin buat kasih tahu aku?”

Altaria menipiskan bibirnya lalu mengalihkan pandangannya dari Ethnan. “Maaf..”

Ethnan sudah tahu pasti itu jawaban dari pertanyaannya dan meski pun sudah tahu tetap saja ia merasa kecewa. Ia tahu meski mereka sudah menjalin hubungan namun itu bukan berarti Altaria akan membuka dirinya pada Ethnan. Namun Ethnan tidak menyangka bahwa Altaria benar-benar setertutup itu.

“Aku nggak bisa bilang kalo aku udah maafin kamu atau memakluminya. Aku butuh waktu.” Ethnan berkata. “Aku antar kamu pulang sebelum itu kita makan malam dulu.” Ethnan sudah hendak keluar dari mobil Altaria namun segera ditahan oleh sang kekasih.

Perkataan Ethnan itu jujur membuat Altaria bingung karena ia tidak ingin siapa pun tahu tempat tinggalnya, kecuali Feren dan Kendra. Ia hanya ingin tinggal dengan nyaman bersama adik dan Mamanya.

“Aku aja yang antar kamu pulang. Kamu ke sini pake taksi ‘kan? Dari pada repot kamu anterin aku terus pulangnya naik taksi mending aku yang anter kamu,” ujar Altaria tak lupa tatapannya yang sendu.

Saat ini Altaria tidak sedang bersandiwara karena hatinya memang merasa bersalah pada Ethnan bahkan ia tidak suka melihat raut kekecewaan kekasihnya itu. Meski begitu Altaria belum bisa atau mungkin tidak bisa bertindak gegabah begitu saja. Ia tidak bisa menerima sembarang orang masuk dalam hidupnya.

Ethnan menatap Altaria dengan intens sambil memikirkan perkataan kekasihnya. Ia tahu ada alasan lain tetapi Ethnan tidak akan memaksa Altaria untuk jujur. Jadi yang bisa dilakukan Ethnan adalah menyetujui usulannya.

“Baiklah.”

Altaria tersenyum mendengar jawaban itu. Ia lalu memanggil supirnya untuk kembali masuk ke dalam mobil yang membawa mereka berlalu dari tempat parkir khusus untuknya di basement perusahaan itu.

“Kamu mau pasang muka kayak gitu terus sama aku, Madu?”

Ethnan yang sedang menyesap winenya menatap Altaria dengan kerutan di dahinya. “Maksud kamu?”

“Bahkan kamu juga nggak ngomong sama aku dari tadi.”

“Kamu mau aku ngomong apa memangnya?”

Altaria meletakkan sendok dan garpunya. “Apa aja. Biasa juga setiap kamu habis dari luar kota pasti cerita.”

Ethnan belum menanggapi Altaria dan memilih diam sambil menatap gadis itu.

“Aku salah. Maaf untuk itu, tapi hari ini aku masih ulang tahun. Kamu mau hariku berakhir kayak gini?” Altaria menatap Ethnan dengan lekat.

Jujur saja tidak diacuhkan seperti ini oleh Ethnan rasanya sangat tidak enak. Biasanya pria itu akan melempar pembicaraan apa pun namun sedari mereka di mobil bahkan sampai di restoran, Ethnan enggan membuka mulutnya.

Ethnan mendesah pelan. Ia menyesap air putihnya. “Tentu saja aku nggak mau.”

“Kalo gitu jangan diemin aku terus. Aku kangen loh sama kamu, nggak ketemu dua hari.”

Hati Ethnan terenyuh melihat sikap dan tatapan Altaria yang penuh harap. Sebenarnya Ethnan masih kesal tetapi melihat Altaria yang lesu seperti itu pun tidak disukainya. Apalagi seperti yang dikatakan Altaria, ia tidak ingin hari lahir Altaria berakhir tidak baik dan di sisi lain Ethnan juga rindu kekasihnya.

Perlahan senyuman merekah di wajahnya. Ia menatap Altaria dengan teduh. “Manis. Aku belajar untuk ngertiin kamu. Aku bakal berusaha lebih keras lagi supaya kamu bisa membuka diri sama aku. Aku kecewa sama kamu tapi aku berusaha memahami itu. Jadi hari ini adalah hari kamu aku nggak mau membuatnya berakhir jelek. Juga aku maafin kamu.”

Senyuman Ethnan tertular padanya pun perkataan Ethnan yang semakin membuat Altaria tersenyum lebar. “Makasih.”

Ethnan mengangguk kecil. Ia lalu memanggil pelayan dan membisikkan sesuatu sebelum kembali menatap Altaria. “Selesaikan makannya, Manis.”

“Aku jadi benar-benar lapar sekarang.”

Lalu Altaria mulai menikmati makanannya setelah tadi hanya membolak-balik sendok dan garpu di atas piring dan hanya menyuapkan sedikit makanan ke mulutnya.

Ethnan menatap Altaria dengan lembut dan ia pun melanjutkan makannya sambil menunggu pelayan yang tadi dibisikinya.

Altaria yang baru saja menyelesaikan makanan penutupnya dibuat terkejut dengan sebuah nyanyian selamat ulang tahun dari beberapa pelayan restoran. Satu orang memegang kue kesukaan Altaria yaitu roll cake yang dihias sederhana dengan lilin-lilin yang menyala di atasnya, seorang lainnya memegang kamera, satunya lagi memegang sebuah botol sampanye dan yang lain memegang sebuket besar bunga tulip merah.

“Madu..” Altaria menatap Ethnan dengan haru. Ini perasaan tulusnya, perasaan jujurnya karena ulah dari Ethnan itu.

“Selamat ulang tahun, Manis. Buat harapan dan tiup lilinnya,” kata Ethnan halus.

Altaria tersenyum manis, ia memejamkan sejenak matanya untuk mendoakan harapan-harapannya lalu ia meniup lilin-lilin itu. Para pengunjung restoran yang menyaksikan event kecil itu turut bertepuk tangan dan terdengar ucapan-ucapan selamat ulang tahun untuk Altaria.

“Oh.. Makasih, Madu.” Altaria berdiri lalu mendekati Ethnan yang juga langsung berdiri. Altaria memberi kecupan di pipi Ethnan dan memeluknya.

Ethnan mengecup sisi kepala Altaria dengan sayang. “Sama-sama. Selamat ulang tahun, Manis. Semoga kamu selalu diberi kesehatan, makin sukses dan selalu bahagia.”

Altaria mengangguk dalam pelukan itu lalu melepas pelukan Ethnan. Ia menatap Ethnan sambil tersenyum manis sebelum mengambil buket bunga tulip merah itu. Sedangkan kuenya diambil oleh Ethnan dan mereka berfoto beberapa kali dengan dibantu oleh pelayan dalam beberapa gaya.

Senyuman manis tak lepas dari wajah Altaria. Sesekali ia menoleh pada Ethnan. Tangannya yang memeluk lengan Ethnan itu sesekali dielus lembut oleh tangan Ethnan yang lain.

“Aku nggak nyangka kamu bakalan buat hal kayak barusan, Madu.”

“Sebenarnya aku pengen bikin lebih dari itu tapi waktu yang mepet jadi apa adanya aja.”

Altaria menatap Ethnan dengan hangat. “Maaf udah buat kamu kesel bahkan kecewa ya?”

Ethnan mengelus rambut Altaria dengan sayang lalu mengecup keningnya. “Iya.. Tapi, aku mau kamu belajar untuk sedikit ngelibatin aku dalam hidup kamu ya? Kita sama-sama berusaha karna hubungan ini yang jalanin kita berdua.”

Altaria mengangguk. “Iya.. Aku coba.. Tapi aku nggak jamin bisa cepet. Aku cuma minta kamu sabra sama aku.”

“Aku bakal sabra. Tapi kalo misalkan kamu lihat aku kayak udah mulai hilang kesabaran ingatin aku ya. Tapi kalo misalkan aku bener-bener udah nggak bisa sabar itu berarti aku bener-bener udah cape.”

“Iya.” Altaria mengerti yang dikatakan oleh Ethnan itu jadi ia tak meminta lebih banyak lagi. Karena manusia tentu memiliki batas kesabaran masing-masing.

Ethnan mengulum senyuman hangat dan tatapannya yang teduh tertuju pada Altaria. “Manis banget ya kamu kalo lagi bersalah kayak gini.”

Altaria sontak mendengkus. “Tapi kamu suka ‘kan?”

“Iya suka dong, tapi jangan cuma karna merasa bersalah aja kamu kayak gini sama aku.”

Altaria tertawa kecil. “Aku usahakan.”

Ethnan menggeleng pelan lalu mengecup bibir Altaria dan dalam perjalanan pulang itu keduanya sesekali mengobrol dan terdapat tawa renyah di antara mereka.

Bersambung..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Happy Sunday My Royal
Aku pengen rekomendasi lagu..
Baru dapet lagu baru judulnya: God Only Knows by for Kings and Country buat yang lagi pusing sama masalahnya.. God is with you..

Published: April, 18th 2021
Revised: 25th 2024

Altaria [Completed] || RevisedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang