Altaria tidak surut menatap Altair dengan tajam. “Mau tahu satu fakta lagi Tuan? Akan saya ceritakan.” Altaria menahan napasnya.
Sungguh berat sekali menceritakan ini. Sebuah fakta yang sangat menyakitkan, fakta yang membuatnya pernah tidak memiliki keinginan untuk hidup, tapi ia harus mengatakannya. Ia ingin membuat Altair menderita. Altaria ingin Altair hancur dalam kubangan penyesalan yang tiada habisnya.
“Dua belas tahun lalu.. Ketika Mama saya harus keguguran dan berusaha lapang dada, bersikap tidak pernah terjadi apa-apa dan meminta saya untuk merahasiakan fakta itu. Satu minggu Mama saya dirawat di rumah sakit dan Anda sibuk melampiaskan hawa nafsu Anda. Lalu enam bulan terlewati. Mama saya sudah benar-benar bisa menerima kehilangan itu, tapi Anda tidak ada perubahan. Mama saya bisa apa selain selalu memupuk kesabarannya dan berkeluh kesah pada Tuhan? Saya sakit hati pada Anda, tapi saya menahannya karna Mama saya. Namun semua itu berubah di suatu siang yang terik ketika saya baru pulang sekolah dan menunggu dijemput. Saya.., saya diculik oleh adik Anda.. Bulan. Dia menyuruh orang untuk menculik saya dan berniat melenyapkan saya. Lima hari saya disekap. Bukan hanya kekerasan fisik yang saya terima, tapi juga..” Altaria menarik napas kuat, tangannya bahkan seluruh tubuhnya bergetar hebat saat ini. Berat sekali menceritakan ini tetapi ia harus, ia sudah muak dengan semua beban ini.
“Saya diperkosa.” Altaria memejamkan matanya sejenak sebelum menatap Altair dengan tajam. “Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali.”
Altaria mulai merasa tidak mampu bercerita tetapi ia berusaha keras menahannya. Meski rasanya sesak, meski rasanya sangat sakit. Meski rasanya tercabik-cabik tapi tekadnya bulat ingin menambah penyesalan Altair. “Saya dijadikan boneka seks. Sebelum saya diperkosa, saya disiksa. Selama lima hari saya harus mengalami itu semua. Saat itu...., di dalam hati kecil saya, saya berharap Anda bisa peka dan menyadari saya tidak ada di rumah, saya hilang, saya diculik. Saya berharap Anda khawatir dan mencari saya. Tapi ketika adik Anda menunjukkan foto-foto Anda yang sedang berada di Jepang yang tengah bersenang-senang dengan selingkuhan Anda. Harapan yang saya punya pupus dan pasrah pada nasib.
Orang yang saya anggap pahlawan saya. Orang yang akan selalu melindungi saya. Orang yang selalu menjadi orang pertama yang menangis ketika saya terluka tidak pernah lagi peduli. Orang yang masih saya harapkan kehadirannya meski hanya kecil tidak pernah mengingat keluarganya lagi.”
Altaria tersenyum pahit. Air matanya tidak berhenti mengalir begitu pula tubuhnya yang gemetar. Ini cerita yang gelap dan menyakitkan. Dengan susah payah ia terus bercerita meski pun rasanya ia sudah ingin pingsan di sini. Ia memaksakan dirinya untuk sekuat tenaga tetap bertahan dan menyugesti dirinya bahwa ia baik-baik saja.
“Saya pun hanya bisa pasrah dan berdoa meminta pertolongan meski pun rasanya percuma. Tapi ternyata Tuhan masih baik karena mau mendengar doa saya. Feren.., Feren menemukan saya dan menyelamatkan saya, tapi Bulan tidak pernah masuk penjara. Keadilan tidak pernah saya terima karena Bulan menyuap para penegak hukum. Saya bisa apa saat itu, hanya seorang remaja berusia lima belas tahun yang rapuh dan sakit.. Mau meminta tolong pada seorang Papa pun Papanya sibuk bersenang-senang jadi yang bisa anak remaja itu lakukan hanya bertahan di kedua kakinya sendiri dengan bantuan sahabatnya. Saya harus membohongi Mama saya dengan tinggal bersama Feren karena keadaan saya yang kacau. Dengan bantuan Feren saya berhasil meyakinkan Mama saya bahwa saya baik-baik saja. Bahwa saya sedang mengambil pendidikan singkat di luar negeri. Sebegitu sayangnya saya pada Mama saya sampai saya tidak mau Mama tahu. Biarkan saya yang hancur tidak untuk Mama saya dan menambah beban hidupnya lagi.
Karena kejadian itu, saya.., saya depresi berat, berulang kali mencoba bunuh diri sampai enam belas hari kemudian, kepribadian saya tercipta. Saya menciptakan sosok di dalam diri saya. Feren yang tahu pun segera mencarikan saya Dokter. Saya menderita depresi berat, trauma berat dan gangguan kepribadian ganda. Saya berbohong pada Mama saya saat itu bahwa dengan berkata bahwa saya sedang liburan setelah ujian akhir nasional, tapi nyatanya saya pergi berobat.
Sampai saat ini saya masih terapi. Dua belas tahun.., Tuan Altair. Dua belas tahun.., saya menderita, saya jijik dengan diri saya sendiri. Saya membenci diri saya. Di pikiran saya hanya ingin mati, mati dan mati. Tapi sepertinya Tuhan tidak mengizinkannya dengan mengingatkan saya akan Mama saya dan adik saya barulah saya sadar. Sekuat tenaga saya menguatkan diri kalau saya harus menjaga Mama saya dan adik saya. Dua belas tahun saya hidup seperti ini dan tiga belas tahun Mama saya menanggung perasaannya sendiri.” Altaria bisa melihat tubuh Altair semakin bergetar dan menatapnya dengan nanar.
“Menyedihkan bukan? Menjijikkan juga? Kejam dan sangat amat pahit sampai selalu ingin mati. Saya sakit, Tuan Altair. Mama saya sakit dan saya tidak mau sampai adik saya juga sakit separah saya atau Mama saya.” Altaria menggeleng kuat.
“Saya tahu Anda selingkuh karna digoda dan Anda pun terlena apalagi ketika tahu selingkuhan Anda hamil seorang anak laki-laki. Semua bisikan dari saudara Anda membuat Anda buta mata dan buta hati. Anda mengabaikan keluarga yang selama ini Anda kumandangkan bahwa Anda sayangi. Sampai anak itu lahir, tapi.., saya bersyukur pada Tuhan. Ketika anak itu lahir dia ternyata sakit, hanya bertahan selama satu tahun kemudian meninggal. Baru saat itulah mata Anda seakan terbuka dan kembali pada Mama saya setelah kehilangan itu. Anda tidak melihat perjuangan Mama saya yang bertahan dan selalu sabar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
Literatura FemininaMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)