Namanya adalah Andhita, berjenis kelamin perempuan, pekerjaannya adalah seorang pemain flute, berusia tiga puluh dua tahun.
Andhita adalah sosok alter-ego Altaria.
Andhita hadir ketika kekelaman hidup mengambil alih Altaria.
Jika Altaria terkesan angkuh, sombong, cuek dan tegas, penuh amarah. Maka Andhita adalah versi yang lebih tenang, licik, penuh senyum namun tidak tersentuh. Andhita sangat feminim tetapi hampir tidak memiliki empati. Sehingga dapat dikatakan Andhita lebih nekat dan menakutkan dari pada Altaria.
Andhita pertama kali diketahui ketika Feren merasa sahabatnya berbeda dari biasa dan setelah mengatakan kejanggalannya, Andhita pun mengakui bahwa ia bukan Altaria.
Jika Altaria berbicara penuh ketegasan dan tajam terkadang blak-blakan, maka Andhita lebih suka berbicara lemah lembut dan manis lalu akan berteriak jika marah.
Yang jelas Andhita adalah versi berbahaya dari Altaria.
Andhita bisa hadir karena Altaria hampir menyerah dengan hidupnya. Ketika itu ia ingin sekali bersembunyi, melarikan diri namun suatu tuntutan tak kasat mata membuat Altaria harus bertahan dan karena itulah Andhita hadir. Menjadi kekuatan bagi Altaria dan memberinya waktu untuk menenangkan diri.
Andhita tidak pernah ingin mengambil alih. Ia tulus menyayangi Altaria dan ingin membantunya. Selama hidupnya yang dihadapi Altaria adalah perbuatan tidak mengenakkan. Seperti saat-saat ini. Sebenarnya Andhita sudah ingin hadir tetapi ia menunggu saat yang tepat, pemicu yang tepat dan kemarinlah waktunya.
Feren menatap Andhita dengan tajam. “Kenapa lo muncul?”
Andhita menatap Feren dengan tenang sambil meniup-niup kuku yang baru dirawat Altaria kemarin. Andhita mengendik tak acuh. “Nggak boleh?”
Feren menggeram pelan. “Tentu saja nggak boleh. Lo pikir lo disambut di sini hah?”
Andhita tersenyum lembut. “Aku nggak perlu disambut sama siapa pun apalagi dari kamu.”
Feren mendengkus keras. “Mending lo balik, gue perlu ketemu sama Altaria bukan sama lo.”
“Altaria nggak mau ketemu sama siapa pun.”
“Pasti lo ‘kan yang bujuk-bujuk dengan semua tipu muslihat lo?!” Tuding Feren karena ia benar-benar kesal dengan Andhita. Ia tidak pernah suka Andhita karena wanita itu menenangkan yang berbahaya. Andhita membawa pengaruh buruk bagi Altaria, itu yang selama ini dilihat Feren.
“Aku nggak pernah membujuk ya.. Justru Altaria yang bujuk aku.”
“Apa?!”
Andhita menurunkan kedua tangannya lalu ditautkan di atas pahanya dengan anggun. Feren melihat itu dan harus ia akui, Andhita berkali lipat lebih lembut dan manis dibanding Altaria.
“Aku nggak suka bohong, Fe.”
Feren mendecih pelan. “Katakan itu kalau gue nggak kenal lo. Lo itu penuh muslihat, pandai bersilat lidah dengan sikap manis lo itu, Andhita.”
Andhita tertawa pelan yang mengalun lembut. Feren mengumpat dalam hati. Meski pun dalam tubuh yang sama namun dapat terlihat dengan jelas Andhita dan Altaria adalah dua pribadi yang sangat berbeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
Chick-LitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)