Dengan kedua tangan yang bersidekap Altaria menatap tetesan-tetesan air yang jatuh dari langit untuk membasahi bumi. Dari mulai ringan hingga kini menjadi deras.
Saat ini Altaria sedang berada di kafe sahabatnya, sekedar bekerja dan menyegarkan pikiran. Dengan ditemani segelas teh merah hangat dan sepotong roll cake, Altaria menikmati sorenya.
Sambil mengamati hujan dan dalam sesapan tehnya bayang-bayang masa lalu lewat dalam penglihatannya. Meski bertahun-tahun terlewati tetap saja ia geram dan itu membuatnya menggenggam gagang cangkir dengan gemetar dan erat.
Feren yang baru datang dan melihat Altaria seperti akan mematahkan gagang cangkir pun menarik paksa cangkir itu darinya. Sehingga membuat Altaria langsung menatap Feren dengan bingung.
“Lo nggak tiba-tiba punya hobi melukai diri sendiri ‘kan setelah putus dari si brengsek itu?” Tanya Feren setelah duduk di hadapan Altaria dan menaruh cangkir tersebut di meja.
“Dia nggak seberharga itu. Lagipula gue ‘kan pernah bunuh diri beberapa kali? Nggak usah sok heran gitu.”
Dengan cepat Feren memukul lengan Altaria dengan kuat.
“Aw! Sakit!”
Feren tidak peduli. Ia menatap Altaria dengan tajam. “Enteng banget tu mulut ngomong ya.”
Altaria memutar bola mata jengah. “Lo yang mulai ngebahasnya.” Dengan santainya ia kembali meraih cangkirnya dan meminum tehnya dengan nikmat.
“Lo....?! Gue sampe histeris waktu itu, Tira!” Gemas Feren dengan sikap sahabatnya yang sekarang justru sedang menikmati kuenya.
Gadis berparas cantik dan berambut sepundak itu justru tersenyum kecil. “Gini ya, Reren.” Altaria mengangkat kepalanya setelah beberapa kali menyuap potongan kue ke mulutnya, memusatkan perhatiannya pada Feren. “Itu memang pengalaman yang sangat gelap dan kelam. Tapi gue nggak pernah mau menyembunyikan. Bukan karna gue nggak takut lagi, tapi buat orang-orang sadar kalo gue bertahan dan bakal balas semua itu.”
Feren menatap Altaria dengan malas. Ia tidak mau menanggapi perkataan Altaria yang sudah berubah serius itu. Ia lebih memilih mengalihkan topik. “Okeyy!! Sekarang ceritain soal pengacara tampan itu.”
Dengan senyuman menggoda Feren melihat Altaria. “Kepo.”
“Asem! Kasih tau, Tira!”
Mau tak mau Altaria dibuat tertawa pelan. “Penasaran nih yee...”
“Tiraaaa...”
“Oke-oke. Pergerakannya dia itu smooth. Pengalamannya dengan perempuan nggak main-main. Cara dia lihatin gue itu ramah dan teduh, caranya ngomong tenang dan caranya dia memperlakukan gue gentle. Ck, takut gue bisa-bisa jatuh cinta sama dia,” kata Altaria dengan serius.
“Bukannya lo nggak mau terlibat dulu dalam asmara?”
Altaria mendesah pelan. “Mau gue juga begitu tapi sikap dia susah untuk diabaikan.”
Feren mengangguk-angguk paham. “Ada potensi brengsek nggak?” Ia menatap sahabatnya dengan serius.
“Dari kata-kata gue tadi lo simak nggak?” Sikap seriusnya langsung berubah kesal karena pertanyaan konyol Feren.
“Oh iya. Sorry. Tapi, Tir?”
“Hmm?”
“Lo akan jatuh cinta sama dia. Nggak diragukan lagi.”
Altaria mengerutkan keningnya tidak suka dengan penuturan Feren. “Gue mohon jangan. Feeling gue kali ini kalo jatuh cinta gue bakal jatuh yang parah. Gue takut.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
Literatura FemininaMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)