HAII selamat datang lagi di cerita AGRIO!
Pastiin kalian udah vote sebelum membaca bab ini!
Selamat membaca, enjoy!
🎈🎈🎈
"Havey! Kenapa mukanya ditekuk sih,"
Havana menoleh pada Liza, sahabatnya. Gadis itu datang membawa satu nampan yang berisi tiga piring batagor. Di samping Liza terdapat Keiza atau yang biasa dipanggil Ijah membawa satu nampan berisi tiga es teh manis. Saat ini sedang jam istirahat dan keadaan kantin lumayan ramai.
"Nih makan dulu," ucap Ijah memberikan makanan itu pada Havana yang diterima dengan baik oleh gadis itu.
"Kayaknya suasana lo lagi gak baik hari ini. Kenapa sih?" tanya Liza.
Havana menekan-nekan batagornya tidak minat. Ia menatap kedua sahabatnya.
"Kalian tau Agrio gak sih?"
Kedua sahabatnya saling memandang satu sama lain.
"Siapa juga yang gak tau Agrio?" balas Ijah.
Kening Havana berkerut. "Gue baru tau hari ini,"
Liza membelalakan matanya. "Serius? Orang secakep Agrio lo gak tau keberadaannya di sekolah ini?"
Havana mendecak mendengar kata cakep dari mulut Liza walaupun jujur ia mengakui ketampanan Agrio di dalam hatinya.
Havana menggeleng. "Lo kan tau gue gak tertarik cari info tentang cowok,"
Liza mengangguk. "Iya sih, tapi kalau gak tau Agrio itu siapa ya kebangetan Vey,"
"Emang siapa sih?"
Ijah menghela napas dan meletakkan sendoknya. "Agrio si kesayangan semua guru gara-gara bocahan olimpiade, pinter, penurut, kebanggaan sekolah banget deh,"
Liza mengangguk setuju. "Jangan lupain nama belakangnya,"
"Nama belakangnya Surendra," tambah Ijah.
"Surendra?" tanya Havana seperti tidak asing dengan nama tersebut.
Ijah mengangguk. Menyuap satu batagor ke mulutnya dan mengunyahnya.
"Siapa juga yang gak tau keluarga Surendra di Negeri ini," ucap Ijah setelah menelan makanannya.
"Tumben lo nanyain cowok, naksir?"
Havana membulatkan matanya. "Najis! Gak mungkin lah gue naksir Agrio meskipun dia cakep sekalipun,"
Liza terkekeh. Hafal kelakuan sahabatnya. "Terus?"
Havana memakan batagornya kesal. "Nilai gue kacau lagi,"
Ijah mengangguk. "Udah biasa bukan?"
Havana mendecak. "Bu Karwita bikin kelas tutor buat gue,"
"Rajin juga tuh guru mau ngajar di luar jam pelajaran," ucap Liza.
Havana menggeleng. "Dia nyuruh Agrio jadi tutor gue dan sialnya cowok itu nerima,"
Ijah yang sedang meminum es tehnya langsung tersedak. Gadis itu terbatuk-batuk mendengar ucapan Havana.
"A-apa tadi?"
Havana menghela napasnya dan menepuk punggung Ijah. Membantu gadis itu bernapas kembali normal.
"Agrio jadi tutor gue, katanya Bu Kar sih biar nilai gue naik. Padahal lo pada tau kan? Siapapun yang ngajar gue, ya percuma. Soalnya gue tetap bakal gak ngerti,"
"Dan Agrio nerima gitu aja?" tanya Ijah heran.
"Lo kok kaget gitu sih Jah?" kesal Havana.
Ijah menggaruk rambutnya. "Gini ya Vey, seganteng-gantengnya Agrio, dia itu manusia paling susah buat dideketin,"
KAMU SEDANG MEMBACA
AGRIO
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Agrio, keturunan ke empat Surendra yang memiliki sifat yang berbeda dengan Papi, Opa, maupun pendahulu Surendra sebelumnya. Kalau dulu Opa dan Papinya adalah pemimpin geng yang brandal, kali ini Agrio ialah lelaki yang...
