HALOOOO, selamat datang kembali!
Semangat puasanya!
YUKKK VOTE SEBELUM MEMBACA!
Selamat membaca, enjooooooyy!!
🎈🎈🎈
Agrio duduk mematung di balkon kamarnya. Sudah sebulan semenjak Havana menghilang tanpa jejak dan tanpa meninggalkan apapun. Sebulan ini Agrio sudah berusaha keras untuk menggunakan segala kekuatannya sebagai Surendra untuk mencari Havana. Namun, nihil. Tidak ada yang Agrio dapatkan. Tidak ada jejak atau petunjuk kemana Havana pergi.
Agrio menghembuskan asap rokoknya. Sudah lama ia tidak merokok. Pikirannya sudah berkecamuk. Setengah dirinya sudah lelah mencari gadis itu, namun setengah lagi meyakinkan Agrio kalau Havana tidak akan pernah meninggalkannya meskipun faktanya gadis itu melakukannya. Melakukan hal yang paling Agrio benci, meninggalkan tanpa sebab.
Tangannya mengusap kasar air matanya yang jatuh. Sebisa mungkin Agrio memantapkan hatinya untuk tidak membenci Havana atas apa yang sudah gadis itu lakukan. Entah Agrio yang selama ini terlalu bucin sehingga melakukan apapun untuk Havana termasuk selalu menjaganya ketika gadis itu sakit, atau memang Havana yang tidak melihat itu semua. Entahlah, Agrio hanya bisa menahan dirinya untuk tidak membenci Havana. Agrio kelewat menyayangi gadis itu.
"Belum ada kabar?"
Agrio menoleh dan langsung mematikan rokoknya saat Agria dengan senyuman berdiri di sampingnya. Agrio bergeser dan menuntun gadis itu untuk duduk di sampingnya.
Agrio menghela napasnya. Menghapus udara di sekitarnya yang mungkin masih mengandung asap rokok agar Agria tak terkontaminasi. Agria yang melihat itu tersenyum sedih.
Setulus ini kembarannya kenapa sulit sekali untuk lelaki itu bahagia?
Agrio menggeleng pelan. Tangannya mengepal erat dan lelaki itu memandang lurus ke depan.
"Bersih. Catatan di seluruh rumah sakit, penerbangan, semua transportasi, semua yang bisa dilacak dari dia bener-bener bersih," balas Agrio pelan.
Agrio menunduk. Ia tidak tahu apa kesalahannya sehingga segininya Havana padanya. Setidaknya, kalau gadis itu ingin pergi, Agrio mungkin akan lebih ikhlas apabila gadis itu memberitahunya. Kalau... kalau memang Havana ingin menjauh darinya atau meninggalkannya, setidaknya gadis itu bisa bilang padanya. Bukan menghilang tanpa sebab dan meninggalkan Agrio tanpa penjelasan apapun.
Agria mengusap dan merangkul bahu Agrio. Gadis itu menghela napasnya.
"Sebenernya gue pingin banget benci sama Havana, Gri. Apa yang dia lakuin gak jauh beda sama Eliana dulu. Padahal, semuanya udah lo kasih buat dia. Lo bahkan gak ninggalin dia di keadaan dia yang lagi susah dan sakit. Kalau aja Havana berotak, pasti dia gak akan kayak gini," kesal Agria.
"You've done everything for her. Tapi kayak gini balasan dia? Seharusnya dia sadar, Lo Agrio Surendra. Bisa aja lo ninggalin dia waktu dia sakit kalau aja lo mau. Tapi nyatanya lo milih ngerawat dia, ngebantu dia jalanin hari-harinya. Sebagai kembaran lo, gue kecewa dan kesel banget Gri,"
Mata Agria berkaca-kaca. Melihat Agrio yang menunduk dalam diam menyakitinya. Agria tidak ingin kehilangan Agrio lagi. Agria tidak ingin Agrio balik ke sosok yang tak tersentuh seperti pasca kejadian Eliana dulu.
Meski dalam keadaan sakit, Agria selalu tahu apa yang terjadi antara Agrio dan Havana. Agrio setiap pulangnya tak pernah absen untuk datang ke kamarnya meskipun hanya untuk melihat keadaannya atau bercerita tentang kejadian yang ia lalui hari itu, termasuk keputusan untuk mengikuti olimpiade atas kemauan Havana.
KAMU SEDANG MEMBACA
AGRIO
Fiksi Remaja[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Agrio, keturunan ke empat Surendra yang memiliki sifat yang berbeda dengan Papi, Opa, maupun pendahulu Surendra sebelumnya. Kalau dulu Opa dan Papinya adalah pemimpin geng yang brandal, kali ini Agrio ialah lelaki yang...
