Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 2013
Tiga hari sebelum pernikahanku dilangsungkan, Mama memintaku datang ke rumah untuk makan malam. Hal yang sangat mengherankan bagiku, karena kukira ia tidak terlalu peduli dengan pernikahanku. Mengingat untuk mengukur pakaian yang akan dikenakan di pelaminan saja, aku harus mendatangkan penjahit dan asistennya ke kantor orangtuaku, di sela-sela rapat-rapat yang tak mau mereka tinggalkan.
Mama juga meminta agar aku mengajak Caleb. Dengan susah payah, aku berhasil membujuk Caleb. Sedikit berbohong bahwa perutku terasa agak tidak enak, sehingga dengan sedikit merengut ia akhirnya mengantarku ke rumah masa kecilku.
“Apa kabar kalian?” Mama menyambut kami dengan tenang di ruang tengah. Ia memakai rok terusan santai berbahan batik, mengenakan anting-anting berliannya yang tampak berkilauan di antara rambutnya yang dipotong sedagu, dan sandal rumah yang serasi.
“Baik, Ma.” Aku mencium pipinya sekilas. Mencoba tidak memberinya tatapan keheranan.
“Baik, Tante.”
Mama tersenyum sedikit, tanpa berusaha mengoreksi panggilan itu. Mereka bahkan tidak bersalaman. Hubungan mereka berdua sejak awal dingin dan berjarak, tanpa seorang pun sudi mencairkannya lebih dulu.
“Bagaimana persiapan pestanya?” Mama menatapku. Anehnya, aku seperti mendengar perhatian dalam suaranya.
“Semuanya beres,” sahutku. “Wedding organizer yang kami sewa profesional. Biasa menangani pesta-pesta para pejabat dan selebriti. Mama tidak perlu sekhawatir itu.” Aku tidak tahan untuk tidak menyindirnya.
Mama tersenyum. Kalaupun ia mengerti sindiranku, ia mengabaikannya. Padahal biasanya ia akan menatapku tajam kalau sedikit saja aku bersikap kurang ajar. “Kalian pasti sudah lapar.” Ia menggamit lenganku. “Ayo, kita makan dulu sebelum mengobrol. Sayang sekali, papamu sedang pergi ke luar kota. Tapi, Bi Uti sudah memasak sup asparagus kesukaanmu. Kamu sudah lama tidak makan di rumah.” Ia menuntunku ke ruang makan. Caleb mengekor di belakang kami. Aku yang tadinya ingin langsung bertanya apa maksudnya menyuruh kami datang, terpaksa menutup mulut untuk sementara.
***
Waktu aku masih kecil, bagiku Mama adalah orang yang tidak bisa ditebak. Ia jarang di rumah dan menyerahkan pengasuhanku pada pembantu sepenuhnya. Aku nyaris tidak mengerti apa-apa tentang dirinya, selain bahwa ia lebih suka berada di kantornya daripada bersamaku. Aku juga tahu Mama cantik. Orang-orang selalu memujinya. Tubuh Mama tinggi semampai, berwajah oval dengan dua mata besar berbinar dan alis tebal alami. Bibirnya yang selalu bersaput lipstik merah jambu seolah-olah selalu menyembunyikan senyum geli. Hidungnya bangir dengan pucuknya yang sedikit mencuat, membuatnya tampak sedikit angkuh―hidung yang diturunkannya kepadaku.
Namun, sejak aku mulai beranjak dewasa, ia bukan lagi sosok yang tidak bisa kupahami sama sekali. Sejak mengetahui perselingkuhannya, aku akhirnya sadar Mama sama seperti aku, sosok yang kesepian. Aku tahu ia menyayangiku, tetapi kebutuhannya terhadap perhatian untuk dirinya sendiri terlalu besar sehingga tak banyak yang bisa diberikannya kepadaku. Ia tak mendapatkan apa pun dari ayahku yang sibuk dan abai, sehingga mencari sosok lain yang memberi apa yang ia inginkan. Setahuku, ia masih bersama lelaki yang dulu itu.