Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 2013
Rustic outdoor adalah konsep pesta ini. Meski dipersiapkan dengan sangat mendadak dan waktu yang begitu singkat, wedding organizer yang disewa Ghea bekerja dengan sangat profesional dan jauh dari kata mengecewakan. Kami hanya mengundang seratus orang tamu, yang terdiri dari keluarga dan teman-teman dekat. Pernikahan diselenggarakan di sebuah vila cantik dan moderen di pinggir kota Bogor, yang dipilih Ghea atas persetujuan ibuku. Jamuannya dari katering terbaik yang dipilih ibuku berdasarkan rekomendasi teman-temannya―para istri konglomerat.
Namun, tetap saja ini bukan pesta pernikahan yang kuharapkan. Bukan dengan perempuan yang satu jam lalu duduk di sebelahku saat aku mengucapkan ijab kabul di depan penghulu. Perempuan itu saat ini sedang berdiri di dekat kolam renang bersama ibuku, memperdebatkan sesuatu dengan suara yang tidak terlalu pelan.
“Ini cukup pantas kok dengan kebayaku, Ma.”
“Modelnya terlalu kuno,” kecam ibuku. “Tidak sesuai dengan kebaya pengantinmu. Sebelum ijab kabul tadi Mama sudah ingin menyuruh kamu menukarnya dengan satu set perhiasan yang Mama berikan semalam.”
“Mama saya yang memberikannya, Ma. Saya harus pakai, takut kualat.”
Diam-diam aku menggelengkan kepala. Bagiku soal perhiasan adalah masalah yang terlalu remeh untuk diurusi. Pernikahan ini adalah masalah besar. Pernikahan yang membuatku harus kehilangan orang yang kucintai, demi menyelamatkan muka abangku dan nyawa keponakanku. Tidak adakah yang memikirkan bagaimana perasaanku saat ini? Begitu banyak tamu undangan datang. Sebagian kukenal, sebagian tidak. Berdiri di sebelah Ghea yang tersenyum ceria menerima ucapan selamat setiap orang, membuatku muak.
Teman-temanku tentu saja terkejut ketika melihat pengantin perempuan yang bersanding denganku. Sebagian besar dari mereka tahu aku bertunangan dengan Padma. Yang lebih menjengkelkan, mereka kemudian tertawa dan meledekku. Seolah-olah aku ini cassanova beruntung yang bisa menukar calon istri dengan begitu mudah.
“Yang ini lebih cantik dan seksi, Cal. Nemu di mana?” bisik seorang kolegaku dengan seringai yang membuatku ingin menonjok mukanya.
Saat ini, di tengah begitu banyak orang yang sedang bergembira merayakan pernikahanku, aku merindukan Padma dan sangat mengkhawatirkannya. Kekhawatiran itu bahkan mengalahkan rasa bersalah yang merongrong diriku sejak aku memutuskan mengambil alih tanggung jawab Elias. Nomor teleponnya selalu tidak bisa dihubungi. Beberapa hari yang lalu, aku memutuskan mendatangi rumahnya. Aku masih memegang kunci cadangan yang dia berikan padaku, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa canggung menggunakannya untuk masuk ke rumahnya.
Ia seolah-olah menghilang. Tak ada jejak kehidupan di dapurnya, seperti yang biasanya kutemukan jika aku datang saat ia sedang pergi keluar. Tak ada piring dan cangkir kotor di bak cuci, tak ada remah-remah roti dan sereal. Bahkan, ketika aku masuk ke kamarnya, ranjangnya yang biasanya berantakan malah sangat rapi.