Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Buitenzorg, 1897
Aku memutuskan meninggalkan pabrik menjelang makan siang, berkuda pelan-pelan ke rumah sambil mengamati para kuli pemetik teh kami bekerja di kiri dan kanan jalan setapak.
Beberapa orang menyapa dan aku tersenyum sembari terus memerintah kuda agar berjalan maju. Biasanya, aku turun dan sedikit mengobrol, mendengar mereka melaporkan hal-hal remeh sehari-hari. Namun, pikiranku sedang kacau. Itu sebabnya aku memutuskan pulang untuk makan siang dan beristirahat sebentar.
“Gan Anom!” Aku mengenali Mandor Samin yang berdiri di pinggir jalan. Ia menatapku sekilas, lalu buru-buru menunduk hormat.
“Ada yang tidak beres?”
“Ah, tidak. Semua beres, Gan Anom. Saya akan ke pabrik sebentar.” Ia menunjuk ke jalan yang baru saja kulewati. “Meneer Both memanggil.”
“Ah, baiklah.” Aku mengangguk dan meneruskan perjalanan.
Mandor Samin yang menggantikan tugas-tugas Thomas mengawasi kuli-kuli baru di lahan kina. Sementara, untuk pencatatannya kuambil alih. Thomas sendiri sudah meninggalkan Haur Panjang. Dua hari yang lalu, ia menemuiku di ruang kantorku di pabrik. “Aku mau berpamitan,” ujarnya. “Besok aku meninggalkan Haur Panjang menuju Stasiun Buitenzorg, dari sana menumpang kereta api ke Batavia.”
“Aku senang kau memutuskan menerima tawaran ayahmu, Thomas,” sahutku. Kutepuk bahunya. “Kau layak menerima kepeduliannya, meskipun agak terlambat. Semoga sukses.”
Ia mengangguk. “Pendidikan dan pengakuan ayahku menjadi penting bagiku sekarang, Karel. Aku punya banyak rencana. Mietje ada di dalamnya.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku tidak terlalu yakin dengan kedua orangtuamu.”
“Yah, kurasa tidak akan terlalu sulit dengan Papa. Masalahnya ibu tiriku. Kau tahu dia, pendiriannya sangat sulit diubah.”
“Karena itu aku akan berusaha menjadi lelaki yang layak untuk anak perempuannya.”
“Berusahalah dengan keras. Aku selalu mendukung kalian.”
“Terima kasih, Karel. Kau selalu baik padaku. Seandainya aku juga punya saudara kandung, seperti Mietje yang mempunyai kau.”
Aku tertawa. Lalu tiba-tiba teringat sesuatu dan membuka laci mejaku. “Ini untukmu.” Aku menyodorkan sebuah kotak padanya. “Akan berguna di Belanda.”
“Apa ini?” Ia tercengang, lalu membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya, sebuah syal dari bahan wol yang halus. “Ah!” Ia berseru senang. “Tentu akan sangat berguna. Terima kasih.”
“Aku membelinya di Bandung. Teringat yang dikatakan orang-orang bahwa cuaca di Belanda jauh lebih dingin daripada Hindia Belanda.”
“Benar. Mietje juga memberiku baju hangat.” Ia tersenyum geli. “Jangan-jangan kalian berdua berkomplot untuk memberiku hadiah yang kegunaannya sama.”