42. KAREL

320 53 3
                                        

Buitenzorg, 1897

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Buitenzorg, 1897

Karel tersayang,
Dulu, pernah sekali waktu Constantijn bercerita tentang pemukiman kumuh di daerah pelabuhan. Seringkali diam-diam ia berkeliling di sana dan menolong orang yang sakit. Mengingat cerita-ceritanya membuatku merindukannya. Terdorong oleh kenanganku pada Constantijn yang berhati malaikat itulah maka aku masih pergi ke tempat-tempat kumuh di pelabuhan. Lama kelamaan, selain mencari jejak Thomas, aku mengamati kehidupan para inlander malang di tempat itu.

Berbeda dengan Dulo yang lebih banyak diam dan berjalan dengan langkah-langkah mantap, Kesih dengan enggan berjalan terseok-seok di belakangku dan mendesah setiap kali melihat sekumpulan anak-anak hitam kotor tanpa pakaian, yang langsung berjongkok ketika kami lewat.

“Apakah mereka benar-benar tidak punya pakaian?” Aku menoleh kepada Kesih. Ia dan Dulo selalu berjalan di belakangku seperti pengawal. “Di perkebunanku, anak-anak kuli pun nasibnya lebih baik dari anak-anak ini. Aku bermain dengan anak-anak kuli waktu masih kecil. Meskipun sehari-hari memilih bertelanjang dada, mereka punya pakaian meskipun hanya satu stel untuk acara khusus seperti Lebaran atau pergi ke mesjid.”

“Mereka terlalu miskin untuk membeli kain, Non Mietje,” sahut Kesih. “Biarpun cuma satu lembar kecil, kain itu barang mewah buat orang-orang yang tinggal di sini. Harganya terlalu mahal buat mereka. Untuk menenun sendiri pun mereka tidak mampu membeli benangnya. Karena anak-anak belum dianggap perlu menutup badan, jadi dibiarkan saja begitu.”

Batavia ternyata tidak selalu bagus dan mewah seperti lingkungan tempat tinggal paman dan bibi kita di Niew Gondangdia , dan para kenalan yang selalu mengundang kami ke pesta-pesta di kawasan Weltevreden. Di sini, aku melihat sisi lain Batavia yang tersembunyi. Gelap, kotor dan semrawut.

Suatu hari, aku punya ide untuk membawa beberapa potong kecil roti saat pergi ke kampung kumuh di pelabuhan itu. Jika ada anak yang begitu kurus kering dan tampak memelas, aku menyuruh Kesih memberinya sepotong roti. Sambil masih berjongkok, mereka mencuri-curi memandangku sebelum buru-buru menunduk lagi dan memasukkan roti itu ke mulutnya cepat-cepat.

“Dangke, yuprow.” Terkadang ada yang memberanikan diri berkata lirih sembari menyembunyikan mukanya. Entah dari mana anak itu belajar bahasa Belanda. Di telingaku, ucapannya terdengar lucu. Dan, entah bagaimana agak menghibur hatiku yang gundah karena memikirkan Thomas.

Aku tidak tahu sampai kapan aku menunggu. Thomas tak pernah lagi terlihat di mana pun. Mungkin dia sudah mati. Mungkin memang nasibku ditinggalkan orang-orang yang kusayangi, Karel. Setelah Mirah, Mama. Lalu Thomas.

Saat ini, Karel, aku pun sedang terancam oleh rencana pernikahan yang semakin dekat karena hari ulang tahun kedelapanbelasku tinggal beberapa bulan lagi. Tuan Van Heuvel sudah memastikan hal itu. Apakah Papa sudah bersedia meluangkan waktu untuk pertemuan membahas tanggal pernikahan itu? Surati aku segera, ya.

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang