Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 2013
Aku bahkan sudah tahu ini akan terjadi sebelum Caleb membuka mulut dan mengatakannya kepadaku. Tak ada air mata di wajahku. Hanya tubuh yang mendadak lemas dan mulut yang terasa kering dan pahit. Sepahit perasaanku. Jadi beginilah, pada akhirnya takdir mempermainkan aku lagi. Mengambil semua yang kucintai dari sisiku.
Ia baru saja datang dan kami duduk berhadapan di meja makan. Aku bahkan belum sempat membuatkannya minuman, karena wajahnya yang begitu muram.
“Elias tak bisa membujuk Ghea. Dia sudah menemuinya, tetapi perempuan itu malah histeris dan tetap mengancam akan menggugurkan kandungannya.” Suara Caleb bergetar. Ada rasa bersalah dalam suaranya. “Jadi, sekarang keputusan ada di tanganku. Mama rupanya sudah tahu karena Kak Lana jatuh sakit sejak Ghea meneleponnya, dan akhirnya berhasil memaksa Elias mengatakan hal yang sebenarnya. Papa diberitahu, dan beliau tidak ingin janin itu digugurkan. Orangtuaku sudah lama menunggu cucu dari putera sulung mereka.” Caleb menatapku dengan wajah kuyu dan sedih. “Tetapi, aku tidak mau menerima tanggung jawab itu tanpa pertimbangan darimu. Katakan sesuatu, Ima. Aku harus bagaimana?”
Aku menggeleng. “Kau melimpahkan kesulitanmu memutuskan kepadaku, Caleb. Apa itu adil?”
“Aku tidak ingin menyakitimu.” Caleb meraih tanganku di atas meja. “Kau bebas untuk berkata tidak. Kalau itu keputusanmu, maka saat ini juga aku akan menelepon Mama untuk menolak mengambil tanggung jawab itu.”
Aku menggeleng dengan kalut.
“Katakan tidak, Ima. Tolong katakan kau tidak akan membuatku bertanggungjawab atas kesalahan Elias.” Genggaman tangannya semakin erat.
“Kau harus mengatakannya sendiri kepada mereka.”
Caleb menggeleng dengan kalut. “Aku tak bisa. Aku tak bisa menjelaskan perasaanku saat ini. Karena itu tolonglah aku. Bantu aku memutuskan.”
“Bagaimana kalau aku memutuskan untuk melepaskanmu?”
“Ini hanya sementara, Ima. Aku hanya menikahi Ghea sampai bayi itu lahir. Itu perjanjiannya.”
“Tega sekali kau melakukan ini padaku!”
Sungguh. Di antara kepedihanku, aku ingin tertawa. Betapa entengnya Caleb mengatakan itu semua. Seolah-olah ini hanyalah permainan saja, sementara hatiku tercabik-cabik seperti layar perahu diterpa badai.
“Kenapa mamamu yang biasanya selalu baik dan sayang kepadaku tidak bertanya langsung untuk meminta pendapatku?”
Caleb menunduk. “Mama… Mama merasa tidak enak hati padamu. Ia tahu permintaannya terlalu besar. Terlalu egois untuk diterima.”
“Kalau begitu, artinya Mama juga sangat tahu bahwa ini sangat menyakitkan buatku.” Aku menarik tanganku dari genggaman Caleb. “Kurasa, aku bisa memahami betapa pentingnya anak itu bagi orangtuamu. Aku hanya orang luar. Aku belum jadi isterimu, dan tentu saja tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk dinasti keluargamu. Aku akan membiarkanmu pergi, Caleb. Ambillah tanggung jawab itu agar keponakanmu bisa hidup.”