Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Buitenzorg, 1896
Surat balasanku untuk Mietje. Dikirim seminggu setelah suratnya kuterima.
Mietje yang baik, Aku senang sekali kau menikmati semua pengalaman barumu dengan sepenuh hati. Aku berusaha membayangkan semua yang kau ceritakan tentang Batavia itu, tetapi sulit sekali jika aku belum pernah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Mungkin, suatu saat nanti aku pun akan punya kesempatan pergi ke sana.
Tentu saja saat ini aku masih tinggal di rumah Keluarga Both. Mereka sangat baik kepadaku. Pelajaranku meningkat pesat, meskipun guru kami bukan lagi Tuan Pieters, yang berhenti mengajar karena kecelakaan berkuda menyebabkan kakinya patah. Tuan Berlage yang menggantikannya, punya cara yang berbeda dalam mengajar. Ia lebih tegas, membuat Johan tidak berkutik. Ia tidak berani lagi bersikap malas-malasan sekarang. Syukurlah. Sedangkan Sophia, ia serajin biasanya.
Aku senang mengetahui kau akan mencoba lebih akrab dengannya nanti. Sophia memang tidak akan mau ikut berenang di sungai atau memanjat pohon untuk memetik buah. Ia tidak punya keahlian-keahlian semacam itu. Namun, kau bisa belajar beberapa hal menarik darinya, yang aku pun baru mengetahuinya. Sophia pandai berbahasa Inggris dan Perancis. Dia juga pandai berdansa, ibunya yang mengajarinya. Sekarang kau tahu, hidupku menjadi lebih baik setelah tinggal bersama mereka. Aku sangat berterima kasih kepada ayahmu, Mietje.
Tentang perjanjianmu dengan Constantijn van Heuvel, aku merasa lega. Setidaknya, ada jaminan bahwa kau masih akan kembali ke sini, ke perkebunan. Dan, kita masih bisa bersama-sama lagi. Perkebunan sedikit sepi tanpamu. Begitu juga pendapat anak-anak kuli, teman-teman kita. Mata Usep dan Amru kemarin agak berkaca-kaca ketika selesai memetik jambu air di pohon depan barak kuli. Kami dapat sekarung! Mereka berkata, Non Mietje akan senang sekali melihat jambu sebanyak itu dan memakannya paling banyak. Ah, kami semua merindukanmu.
Mirah juga sangat merindukanmu. Kurasa, ia yang paling merasa kehilanganmu. Selama kau tidak ada, kalau aku bertemu dengannya, wajahnya agak sedikit murung. Ia langsung berseri-seri ketika kusampaikan pesanmu. Kurasa yang membuatnya gembira bukanlah oleh-oleh yang kau janjikan itu, melainkan kepulanganmu.
Sementara itu, ibumu kembali sibuk berburu dan berkumpul dengan teman-temannya. Kudengar dari Sophia, keponakan perempuan Tuan Matelief akan datang dari Belanda. Ia lebih tua beberapa tahun dari kita. Keluarga Matelief sedang menyiapkan pesta perkenalan, dan teman-teman Nyonya Matelief, termasuk ibumu, sama bersemangatnya. Kudengar, nona Matelief itu mungkin cocok untuk Karel. Ah! Kau menjulurkan lidahmu, ya? Kalau kau tidak terlalu menyukai Nyonya Matelief, kau tidak boleh menghakimi Nona Matelief itu sebelum mengenalnya. Siapa tahu dia sangat menyenangkan.
Kudengar kuda-kuda balap yang dibeli ayahmu sudah datang. Ada lima ekor kuda Arab dan semuanya sangat gagah! Karel tak henti-hentinya menceritakannya kepadaku. Dia juga memberitahuku berikutnya akan datang lagi beberapa ekor kuda balap ras lokal. Tampaknya ayahmu bersungguh-sungguh tentang lomba pacuan kuda itu. Ia sedang mencari seorang joki sekarang.
Meskipun sibuk mengurus kuda-kuda baru itu, Karel masih sempat mengajakku ikut berburu babi hutan. Seminggu setelah kau berada di Batavia, sekawanan babi hutan dari lereng gunung menyerbu ladang orang-orang kampung. Kebun percobaan ayahmu yang sedang ditanami bibit teh dari Ceylon sebagian hancur terinjak-injak dijadikan perlintasan mereka. Ayahmu mengamuk dan memerintahkan orang-orang memburu hewan-hewan itu.
Perburuan itu dipimpin Tuan Both dan beberapa orang kampung. Beberapa mandor perkebunan ikut serta. Karel ikut karena ingin menggunakan senapan laras panjangnya yang baru. Ayahmu tidak bisa ikut karena pencernaannya sedang tidak beres (ia sangat kesal dan uring-uringan karenanya). Ia lantas menyuruh Karel mengajakku agar aku tidak hanya tahu soal menghitung jumlah karung teh di gudang (aku mengutip kata-katanya).
Kami juga membawa empat ekor anjing pemburu milik ayahmu. Meskipun tak ada ayahmu, mereka mematuhi Karel. Perburuan itu sangat menegangkan dan menyenangkan. Ini bukan perburuan kecil menembaki burung-burung seperti yang dilakukan ibumu dan teman-temannya. Kau pasti tidak akan mengira, Tuan Both telah dinobatkan sebagai pemburu terbaik di wilayah ini. Tembakannya jitu dan mematikan. Kami mendapatkan dua ekor babi hutan besar! Anjing-anjing itu menggiringnya kepada kami dengan cukup sulit. Si Raung dan si Gembol yang paling cekatan mengejar kawanan itu. Ayahmu sangat bangga kepada mereka saat kami pulang, dan memberi tulang domba paling besar untuk kedua anjing itu. Aku akan bercerita lebih banyak lagi tentang perburuan itu kalau kau pulang nanti.
Seperti kau juga, maka ini saatnya aku menceritakan hal yang paling penting di akhir surat. Kemarin, ayahmu mengajakku bicara tentang surat yang diterimanya dari Willem de Wit. Ya, kau tahu. Itu dari ayahku yang sudah lama kulupakan keberadaannya. Katanya, ia menyesal telah menelantarkan aku dan hendak menawariku pergi ke Belanda untuk melanjutkan pendidikanku.
Sebelumnya, Karel sudah membocorkan isi surat itu padaku. Aku punya cukup waktu merenungkannya sebelum ayahmu mengajakku bicara. Aku berpikir untuk menolak kebaikan Tuan De Wit. Entah apa yang ia inginkan dariku. Aku tidak bisa meninggalkan ibuku sendirian menghadapi sanak saudara yang memusuhinya selalu. Meskipun ia hanyalah seorang pribumi yang rendah dan bernasib buruk, tetapi ia selamanya adalah perempuan yang melahirkan dan merawatku.
Namun, ibuku menangis karena senang saat aku menceritakan tentang surat itu. Ia sangat berharap aku menerimanya dan bertemu dengan ayahku. Itu adalah hal yang paling diinginkannya di dunia ini. Ia merasa sangat bersalah karena keadaan dirinya menyebabkan ayahku meninggalkan kami dan aku menjadi seperti sekarang. Meski berulang kali kukatakan, yang bersalah adalah lelaki itu.
Rupanya Sophia juga berpendapat aku bodoh jika menolak tawaran itu. Semua orang Belanda dan mesties ingin menginjakkan kaki di negeri leluhurnya meskipun hanya satu kali. Kenapa kau tidak mau? Tanyanya. Bahkan Johan pun ikut-ikutan kesal. Kalau kau ada di sini sekarang, kau pun pasti mengomeliku, Mietje. Kau selalu ingin mengenal dunia. Jika menjadi aku, kau tidak akan berpikir panjang untuk segera pergi ke Belanda.
Yah, kurasa memang akan sulit menolak tawaran berharga itu. Sebuah kesempatan emas untuk seorang mesties bodoh, anak tidak sah seorang Belanda, yang bekerja seperti kuli inlander ini. Aku ingat janjiku kepadamu untuk selalu bersamamu. Lebih dari apa pun, aku ingin menjaga dan melindungimu. Perjodohanmu (meskipun kau dan Constantijn van Heuvel sepakat membatalkannya) memberiku pelajaran berharga, bahwa Thomas yang sekarang hanyalah seorang pemuda tak berarti yang selalu dipandang sebelah mata. Apa yang kumiliki? Apa yang bisa kubanggakan? Apa yang bisa kulakukan agar bisa memenuhi janjiku kepadamu? Tak ada.
Karena itu, Mietje, aku akan bersekolah ke negeri Belanda. Aku akan menuntut ilmu setinggi-tingginya, dan meminta hak lahirku sebagai seorang De Wit disahkan secara hukum. Aku akan kembali ke Hindia Belanda sebagai Thomas yang baru, yang masa depannya lebih baik.
Hanya saja, ada satu perkara yang mengganggu pikiranku. Apakah kau bersedia menungguku kembali? Apakah kau bisa bersabar sampai aku bisa memenuhi janjiku kepadamu? Aku berharap kau berkata iya.