Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Buitenzorg, 1896
“Mama, boleh aku ikut kalian berburu?”
Mama menyampirkan tali senapan anginnya di bahu, lantas menoleh padaku. Keningnya berkerut. “Tidak. Hari ini waktumu belajar menjahit, Mietje.”
“Tapi, aku bosan menjahit.”
“Mariana Cornelia, kau harus menjahit kebayamu sampai selesai hari ini. Mirah akan memasang rendanya, dan babu cuci bisa segera mencucinya. Paham?”
Aku hendak mendebat lagi, tetapi Mama sudah beranjak keluar. Di halaman, sudah menunggu tiga orang temannya di atas delman. Ukam, kusir Mama, turun untuk membantu Mama naik.
Perempuan-perempuan itu sudah mengganti kebaya dan sarung batik mereka dengan baju atasan dan rok panjang lama yang sudah usang. Yang tidak akan mereka sesali jika robek tersangkut batu atau sesemakan.
Mama menyingsingkan ujung roknya dan naik ke bagian belakang delman, ke sebelah Tante Ursula yang menyapaku dengan riang.
“Dag, Schat! Jangan nakal, ya!”
Demi sopan santun, aku tersenyum malas.
“Kami akan membawa daging burung yang banyak untukmu, Mietje!” Tante Liz, yang menurut Karel, adalah penembak paling bodoh di antara kelompok itu, melambaikan tangan kepadaku. Di sebelahnya, Tante Tineke Breekpot―isteri sinder pabrik kami yang paling pendiam di antara mereka juga melambai kepadaku.
Keempat perempuan itu membawa senapan angin masing-masing untuk menembak burung di tepi hutan kecil dekat perkebunan. Senapan angin Mama sangat bagus, buatan Jerman. Papa memesannya dari temannya, seorang pemilik toko importir terkenal di Batavia.
Di atas delman, Mama melambai. Ia paling cantik di antara yang lain. Tinggi semampai, bermata kelabu yang sayu, hidung kecil yang mancung, dengan wajah berbentuk hati dibingkai rambut yang bergelombang halus. Bibirnya yang tipis kemerahan tidak perlu memakai gincu.
Berlawanan dengan kesan yang ditampilkan oleh sosoknya, Mama adalah perempuan tangguh. Ia yang paling pandai menembak di antara mereka. Bahkan, sejak sebelum menikah, Mama dikenal di kalangan teman-teman dan keluarga dengan keahliannya itu.
Setiap kali ada acara perkumpulan, beberapa orang yang melihat Mama akan berbisik-bisik. “Itu Griet. Si jagoan menembak.”
Mama berseru sebelum delman itu pergi. “Selesaikan tugasmu, Mietje. Mama akan mengajakmu lain kali!”
Jadi, siang itu aku harus berkutat dengan benang dan kain. Langit sedang cerah. Pasti menyenangkan bermain dengan Thomas dan anak-anak kuli di perkebunan. Aku membayangkan air sungai yang mengalir jernih, sejuk untuk merendam kaki. Aku juga ingin menengok anak Belletje, yang sekarang sudah diberi nama Donder.
Yang kujahit adalah sebuah kebaya putih untuk kupakai ke gereja pekan ini. Mama yang mengajariku, selanjutnya Mirah yang mengawasi. Menyebalkan sekali bagiku kewajiban pandai menjahit ini.
“Bukankah lebih mudah kalau kita punya seorang jabit di rumah ini, ketimbang harus menjahit sendiri semua pakaian kita, Ma?” tanyaku suatu hari.