8. THOMAS (revisi)

699 73 7
                                        

Buitenzorg, 1896
Ma menjatuhkan dirinya ke tanah, ke dekat kaki Pieter van den Berg

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Buitenzorg, 1896

Ma menjatuhkan dirinya ke tanah, ke dekat kaki Pieter van den Berg. Ia merintih-rintih memohon pengampunan atas diriku. Kami berada di depan barak kuli perkebunan. Ditonton puluhan pasang mata para kuli.

“Ma, sudahlah.” Aku tak tega melihatnya. Bagaimana pun, meskipun seorang inlander, ia adalah ibuku.

“Maafkan anak saya, Tuan. Maafkan anak saya, Tuan. Hukum saja saya.” Ma menggerung-gerung, masih dengan tubuh telungkup. Nyaris rata dengan tanah.

Tuan Piet, demikian para kuli inlander di perkebunan ini memanggilnya, menghela napas. Kumisnya yang melintang membuat sikap diamnya terasa seram. Semua kuli itu selalu menundukkan kepala di depannya. Menunggu titah majikannya.

Aku tidak sepengecut mereka. Aku juga bukan penjilat. Selain itu, aku tahu watak Pieter Van den Berg yang sebenarnya. Ia tidak segalak penampilannya. Tuan Piet bukan majikan yang sewenang-wenang. Ia tegas dan disiplin, tetapi dalam dirinya juga ada sifat peduli.

“Tuan, tolonglah―”

“Ma!” Aku menarik lengan ibuku, memaksanya berdiri. “Kau tidak salah. Kalau ada yang harus dihukum, akulah orangnya.” Aku memandang Tuan Piet. “Tuan boleh memberi hukuman apa saja kepada saya. Asal jangan menghukum ibu saya dan Mietje. Saya seharusnya segera mengantar Mietje pulang ketika tahu ia kabur dari rumah. Maafkan saya.” Aku menunduk, berusaha menunjukkan rasa bersalahku.

“Ya, kau seharusnya bersikap lebih bijak, Anak Muda,” sahut Tuan Piet. “Mietje sedang belajar menjadi perempuan dewasa sekarang. Ia sudah bukan anak-anak lagi. Ia tidak bisa lagi bermain sesuka hati, berenang di sungai, atau memanjat pohon. Kalau ia memaksa kalian melakukan itu, kalian seharusnya menolak.”

“Saya minta maaf, Tuan Piet. Selanjutnya, saya akan mengingatnya.”

Wajah Pieter melunak. Ia menghela napas panjang. “Sebenarnya, aku menaruh harapan dan kepercayaan yang besar padamu, Anak Muda. Kau juga jangan terlalu banyak bermain. Bagaimana pun juga, kau punya darah Belanda. Karena itu, kau kusuruh belajar dengan anak-anak keluarga Both supaya otak encermu tidak sia-sia. Paham?”

Aku mengangguk, mendongak sedikit untuk menatap ke arahnya. Wajahnya tampak letih.

“Saya tidak akan menghukum siapa-siapa hari ini,” ujarnya kepada para kuli yang sedang menonton kami. “Ah, kalian pasti sangat kecewa, bukan?” Ia terkekeh. “Kalian mengira akan mendapat tontonan bagus. Menonton hukuman anak separuh Belanda yang diam-diam kalian benci ini akan membuat hati kalian puas, kurasa.”

Itu adalah salah satu hal yang kusukai dari ayah Mariana. Pieter memiliki selera humor yang sarkas, yang diumbarnya bukan hanya kepada para kuli inlander dan staf perkebunan, tetapi juga kepada orang-orang Belanda kenalannya, tanpa pandang bulu.

Sementara itu, para kuli inlander menunduk mendengar sindirannya. Aku sama tahunya dengan Pieter, bahwa apa yang dikatakannya itu benar.

Sejak ayahku meninggalkan kami, hanya ibuku yang aku punya. Ketika Ma kembali ke kampung halamannya di sini, ia menghadapi segala macam makian dan cercaan dari orangtua, sanak saudara dan sebagian penduduk. Ia dianggap pezina, karena menjadi gundik seorang lelaki Belanda, tanpa dinikahi. Ibuku menjadi orang buangan.

Kakek dan nenekku, serta saudara-saudara Ma semua menghindari kami. Sehingga, meskipun kami tinggal di kampung halaman Ma, seakan-akan kami berada di tempat yang asing dan hampir tidak punya siapa-siapa yang mengakui kami sebagai keluarga. Dan, itulah sebabnya kami tinggal di barak kuli.

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang