Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bandung, 1897
Suratku untuk Thomas. Ditulis di Bandung.
Thomas yang baik,
Saat menulis ini, kami sudah berada tiga hari di Bandung. Beberapa hari lagi, kami harus menghadiri resepsi pernikahan yang diselenggarakan di Societeit Concordia, sementara upacara pemberkatan nikah akan dilakukan di gereja satu minggu sesudahnya. Cukup banyak yang diundang dalam resepsi, begitu yang kudengar. Janus de Jonge—calon suami Pauline, rupanya cukup terpandang di Bandung. Keluarganya berasal dari Breda. Mereka kaya dan memiliki banyak kapal.
Ternyata, Papa dan Tuan Bruyn pernah berteman pada suatu masa, ketika mereka masih muda. Nyonya Bruyn mengundang keluarga kami secara khusus. Hanya saja, Papa masih disibukkan dengan bibit-bibit kinanya yang baru tiba. Karena itu, hanya Mama dan Karel yang menemaniku dalam perjalanan ini. Mama akan terhibur dengan pestanya, dan Karel bisa berkenalan dengan gadis-gadis kota. Sementara aku… yah, aku yang tidak suka keramaian harus mulai belajar bersikap seperti seorang gadis dewasa, kata Mama.
Tadinya, Pauline meminta aku menjadi kroonmeisje . Namun, aku tidak suka menjadi pusat perhatian, terutama jika setengah tamu yang hadir adalah juga kenalan keluarga kami dan mereka tahu tentang kisah pertunanganku yang malang. Karena itu, kuserahkan posisi itu kepada adik perempuan mempelai laki-laki.
Saat ini, kami tinggal di rumah sepupu Tante Lijs Matelief yang besar dan nyaman di Ciateulweg . Tuan Simon Bakker bermata biru dan berambut pirang seperti Tante Lijs. Istrinya, Agnes, berambut gelap, montok dan keibuan. Ia menjamu kami dengan makanan-makanan enak dari dapurnya. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali di pesta-pesta Tante Lijs, dan sejak itu menyukai pembawaannya yang ramah.
Untuk kami, keluarga Bakker menyiapkan paviliun besar dengan tiga kamar, menghadap ke arah taman yang diteduhi pohon bougenville merah dan kuning, dihiasi deretan semak mawar dan kolam air mancur kecil. Kamar Karel berperabotan serba jati yang divernis mengkilap berwibawa. Kamarku bernuansa merah muda pucat, dengan jendela tepat menghadap kolam. Kamar Mama sangat bagus, bernuansa hijau dengan ranjang besar berkelambu renda Prancis yang membuatku kagum.
“Ini terlalu berlebihan,” desah Mama kepada Tante Agnes yang mengantarnya ke kamar itu. “Maaf, Agnes. Kau jadi repot dengan kedatangan kami. Tadinya, kami akan menyewa rumah, tetapi Lijs…”
“Tentu saja kalian tidak boleh menyewa rumah kalau masih ada rumahku yang bisa kalian tinggali, Griet.” Tante Agnes menukas sembari tertawa. “Begitu Lijs mengabari kalian akan berada di Bandung, aku langsung mengusulkan padanya untuk meminta kalian menginap di sini. Kita sudah cukup lama tidak bertemu, dan aku rindu pada Mietje. Lihat, sebentar lagi tentu kau yang akan mengundangku ke pesta pernikahan putrimu.” Tante Agnes menepuk-nepuk bahuku dengan sayang.
“Tante tahu di mana keluarga Bruyn tinggal selama di Bandung?” tanyaku. Aku ingin sekali bisa menemui Pauline dan mengobrol dengannya sebelum hari pernikahannya.