11. GHEA (revisi)

540 67 7
                                        

Jakarta, 2013
Aku dibesarkan oleh dua orang pengacau

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jakarta, 2013

Aku dibesarkan oleh dua orang pengacau. Dua orang yang mencintai dirinya sendiri, tidak pernah mengikutsertakan aku. Karena itu, jangan salahkan aku jika kemudian aku menjadi pengacau juga seperti mereka. Meskipun aku tidak terlalu bangga dengan hal itu, tetapi rasanya cukup menyenangkan.

Seperti saat ini, ketika aku mendengar teriakan marah Alana Athira dari ponsel yang menempel di kupingku.

“Siapa namamu? Apa hubunganmu dengan suamiku?”

“Maaf, saya sedang tidak ingin memperkenalkan diri. Tolong sampaikan saja pada Elias apa yang tadi saya katakan. Ia sudah cukup lama tidak berkunjung ke apartemen saya. Pakaian cadangannya yang terakhir masih saya simpan di lemari. Katakan saja begitu.”

“Kenapa ada  pakaiannya di rumahmu? Ia sering menginap di rumahmu?”

“Silakan simpulkan sendiri, Nyonya Alana.”

“Saya tidak akan menyampaikan apa-apa kepada Elias,” desisnya, mencoba menggertak.

Aku tertawa. Terdengar datar di telingaku sendiri. Ini sesungguhnya bukan permainan yang mengasyikkan. Alana terlalu lemah untuk dijadikan bulan-bulanan. Bukannya aku tidak berperasaan. Namun, aku harus melakukannya. Ini perang psikologis untuk mereka semua.

“Tentu saja Anda akan memberitahunya, Nyonya Alana. Semua yang saya katakan ini sudah membuat Anda penasaran. Saya berani taruhan, Anda akan bertanya kepada Elias ketika dia pulang nanti.”

“Jangan sok tahu. Kau pasti cuma seseorang yang sengaja memancing keributan antara saya dan suami saya! Apa maumu sebenarnya? Kalau ini ada hubungannya dengan kasus hukum yang dikerjakannya, bukan meneror seperti ini penyelesaiannya!”

Aku tertawa mendengar kepanikan dalam suaranya. “Saya tidak ada hubungannya dengan perkara hukum apa pun yang dikerjakan suami Anda. Hubungan saya dengan Elias adalah hubungan pribadi,” sahutku. “Tetapi mungkin Anda benar. Saya akan senang sekali jika kalian berdua bertengkar karena saya.” Aku tersenyum lebar, meski tahu Alana tidak akan melihatnya. “By the way, apakah ruam alergi di pinggang Elias sudah sembuh? Waktu itu kondisinya lumayan parah. Saya sudah mengolesinya dengan salep dari apotik. Kasihan sekali kalau sampai meluas. Seharusnya Anda lebih memperhatikannya.”

Aku mendengar suara napas tersentak, sesuatu terbanting, kemudian hening. Alana pasti terkejut mendengar fakta keintimanku dengan suaminya. Kurasa ia menjatuhkan telepon sampai sambungannya terputus.

Aku berhasil mengacau. Aku senang. Namun, entah bagaimana, rasa hampa menyelinap di hatiku seperti hantu yang ingin menetap.

***

Seperti sudah kuduga sebelumnya, Caleb meneleponku satu jam kemudian. Ia terdengar sangat gusar.

“Seharusnya kau tidak menelepon kakak iparku,” semprotnya tanpa basa-basi. “Di mana hati nuranimu? Dia sudah cukup menderita sejak lumpuh. Sekarang kau membuatnya tambah menderita gara-gara teleponmu. Dia tak pantas menjadi lawanmu. Kak Lana cuma perempuan yang tidak berdaya!”

“Kalau kau menganggapnya perempuan yang tidak berdaya karena kakinya, lalu apakah aku ini tidak berdaya juga?” sahutku. “Aku perempuan hamil yang dicampakkan ayah bayinya. Aku hanya sedang mencari keadilan untukku dan anakku.”

“Tapi, kakak iparku tidak tahu apa-apa, Ghea. Jangan libatkan dia.”

“Kau ini aneh sekali, Caleb. Aku tidak akan membiarkan Elias lepas tangan terhadap anak dalam perutku. Dalam hal ini, istrinya harus terlibat, bukan? Ia harus mengizinkan suaminya menikahi aku dan menerima anak ini.”

“Kau tidak bisa mengatur sesuai keinginanmu. Bersabarlah sedikit. Kau kan, bisa menunggu Elias pulang dan mengajaknya bicara sekali lagi. Membujuknya, mengancamnya atau apalah. Aku setuju Elias memang berengsek. Tapi, kau tidak perlu menelepon Kak Lana dan mengatakan tentang perselingkuhan kalian padanya!”

Aku tertawa sumbang. “Kau dan Elias benar-benar mirip, ya. Aku benar-benar tidak mengerti. Kalian berdua sangat protektif terhadap Alana, sampai menutup mata dari fakta bahwa yang ada di rahimku sekarang adalah keturunan keluarga kalian juga.”

Dan, seolah telepon dari Caleb belum cukup menjengkelkan, Padma meneleponku sorenya. Aku sedang menggambar rancangan baru untuk sebuah pagelaran busana akhir tahun  di ruang kerjaku. Butik sengaja kututup lebih awal. Semua pegawai sudah pulang. Aku nyaris urung  menerima teleponnya. Namun, ini Padma. Aku ingin tahu dia mau bicara apa. 

“Kau pikir perlu ya, menelepon Kak Lana dan membeberkan hubunganmu dengan Elias?”

“Tidak segamblang itu, kok. Aku cuma memberi clue.”
Clue?” Kudengar Padma mendengus. “Kau tidak suka main teka-teki. Kau senang hal-hal yang dinyatakan dengan gamblang. Kau pasti memberitahu langsung.”

“Terserah kalau kau nggak percaya. Ini caraku. Kau tidak akan mengerti.”

“Aku memang tidak akan pernah bisa mengerti semua tingkah laku dan batasan moralmu yang rendah itu, Ghea.”

“Yah, kau memang tidak perlu repot-repot memahamiku. Bukan kau yang hamil dan diminta untuk menghilang ke negara antah berantah, agar kelahiran anak ini tidak diketahui siapa pun. Bukan kau juga yang harus membuang semua jerih payah yang sudah dirintis dari nol. Karir sebagai desainer, label busana, klien-klien yang semuanya orang penting.” “Seharusnya kau memikirkan semua itu sebelum pacaran dengan suami orang.”

“Aku sudah bilang kalau dari awal aku tidak tahu Elias sudah menikah, kan?”

“Kau seharusnya curiga. Padahal kau itu tidak bodoh. Kau cuma masa bodoh.”

Aku menghela napas. “Hentikan. Aku tidak punya waktu berdebat seperti anak kecil denganmu. Sebaiknya, mulai dari sekarang kau menyiapkan mentalmu. Karena jika Elias tidak mau bertanggung jawab, aku akan menuntut Caleb menggantikannya.”

“Aku tidak akan membiarkanmu!”

“Kalau begitu, aku akan menggugurkan janin ini. Aku serius.”

“Anak itu tidak berdosa, Ghea!”

“Mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa membesarkan anak ini sendirian. Aku punya karir dan reputasi yang harus kujaga. Dan, aku tidak akan bisa menjadi orangtua yang baik. Kau sudah tahu itu.”

Aku mematikan sambungan. Kubayangkan wajah Padma yang mungkin sedang merah padam menaham emosi. Dulu, ia tidak pernah mengomel seperti ini. Dulu, Padma selalu mengalah.

***

Selama ini, orang-orang menganggap keluargaku adalah keluarga yang ideal dan harmonis, berkelimpahan harta dan saling mencintai. Waktu kami masih berteman, Padma yang ayahnya hanya seorang manajer di perusahaan kecil dan ibunya bukan wanita karir seperti ibuku, selalu berkata hidupku sangat beruntung.

“Sepatu baru lagi, ya? Modelnya cocok untukmu, Ghe!”

Setiap kali ibuku membelikan aku sesuatu, yang senang bukan cuma aku. Padma juga. Matanya selalu berbinar melihat barang-barang baru itu. Sepatu, tas, boneka, alat-alat tulis, majalah-majalah dan novel-novel―yang sesungguhnya tidak pernah kubaca. “Wah! Ini novel yang sudah lama ingin kukoleksi! Aku masih harus menunggu minggu depan. Tabunganku belum cukup.”

“Mau baca duluan?”

Mata Padma terbelalak. “Sungguh? Ini masih disegel plastik. Aku nggak enak dong, Ghe. Yang punya aja belum baca.”

“Nggak apa-apa, kok. Nih, baca aja. Uang tabunganmu bisa untuk beli barang lain, kan?” Aku mengedipkan mata.

Waktu SMP, aku selalu meminjamkan novel-novel itu kepada Padma. Semuanya. Karena aku membelinya hanya supaya tampak keren ketika teman-teman di sekolah membicarakan buku-buku yang sedang ingin mereka beli.

“Ibumu keren lho, Ghea! Beruntung banget deh, jadi anaknya.”

Padma selalu berkata begitu, tetapi bukan dengan nada iri. Sejak dulu, ia baik hati, sederhana dan tulus. Keluarganya adalah keluarga yang hangat dan sangat kompak. Aku masih ingat, waktu kami masih kecil dan aku masih sering datang untuk bermain, kedua orangtua Padma selalu menyambutku dengan pelukan dan belaian lembut di kepala. Padmalah yang beruntung, bukan aku.

Bahkan, saat sekecil itu pun aku sudah mulai meragukan kebahagiaan keluarga kami yang selama ini diperlihatkan di depan semua orang.

Aku baru saja masuk SMA, ketika menemukan beberapa kartu dengan kata-kata penuh cinta di laci meja kerja ibuku di kantornya. Ditandatangani seorang lelaki yang namanya tidak pernah kukenal. Tertulis di sana, kartu itu menyertai hadiah-hadiah kecil untuk ibuku. Kalung emas dengan rantai tipis berliontin bunga, jam tangan, pemberat kertas dari sebuah negara di Eropa, pena bergrafir nama ibuku, dan lukisan sketsa wajah ibuku saat ia masih muda.

Betapa manisnya hadiah-hadiah itu. Bahkan aku yang masih bau kencur pun langsung paham, ibuku pasti sangat berarti baginya. Ayahku tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu untuk istrinya. Ia terlalu sibuk dengan perusahaan-perusahaannya, sampai aku tahu belakangan bahwa ia juga sibuk dengan perempuan-perempuan simpanannya.

Suatu hari, aku sengaja bolos sekolah untuk memata-matai ibuku dari sebuah kafe di seberang gedung kantornya. Hari itu, aku membuntutinya dengan mobil sewaan ketika ia meninggalkan kantor pada jam makan siang. Sopir mobil sewaan itu―seorang lelaki setengah baya entah bagaimana seolah mengerti apa yang sedang kulakukan. Ia mematuhi semua instruksiku tanpa banyak bertanya. Mungkin juga karena kujanjikan pembayaran dua kali lipat.

Ibuku ternyata makan siang dengan seorang lelaki seusia ayahku. Aku menduga dialah si pengirim kartu dan hadiah-hadiah itu. Setelah makan, mereka pergi ke sebuah hotel di Bogor. Hotel itu bukan hotel bintang lima yang biasanya menjadi pilihan keluarga kami. Hanya sebuah hotel kecil yang asri. Terlihat cukup menyenangkan, jika saja aku tidak sedang menguntit ibuku dan pacar gelapnya.

Aku dan sopir itu menunggu mereka keluar dari hotel. Namun, setelah beberapa jam mereka tak muncul juga, aku meminta sopir itu mengantarku pulang ke rumah.

Hari itu, akhirnya aku memahami apa yang terjadi dalam keluargaku. Ibuku tidak sekedar jatuh cinta pada lelaki lain. Seperti ayahku, ibuku juga ikut andil mengacaukan hidup kami.

Kurasa, sejak itulah aku mulai membenci Padma.

***

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang