Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Buitenzorg, 1897
Ini pertama kalinya aku bicara atas nama Karel van den Berg. Papa yang memintaku membantunya mengurusi banyak hal untuk keluarga Van den Berg, karena saat ini Karel dalam kondisi yang sangat tidak baik.
Sebaiknya, aku menceritakan perkara ini dari awal. Yaitu ketika suatu pagi perkebunan dihebohkan oleh hilangnya Pieter van den Berg, sang pemilik perkebunan. Seorang jongos dari rumah mereka berlari-lari mencari ayahku atas suruhan Karel. Papa saat itu baru saja selesai sarapan dan hendak berganti pakaian.
“Celaka, Tuan Both!” Si jongos duduk di tanah, karena berjongkok membuatnya susah mengatur napasnya yang tersengal-sengal. “Juragan hilang!”
“Yang mana?” tanya Papa.
“Agan Pit!”
Papa mengerutkan kening. “Mungkin sudah berangkat lebih pagi ke pabrik, atau melihat lahan percobaan.”
“Hilangnya sejak pagi-pagi buta. Sudah kami cari ke pabrik dan lahan sekitar rumah tidak ketemu. Agan Anom sudah mencari ke lahan percobaan baru saja, tidak ketemu juga. Lalu, saya disuruh ke sini untuk minta bantuan.”
“Di mana Karel sekarang?”
“Agan Anom tadi pulang untuk mengambil kuda. Tuan Both diminta naik kuda juga, menyusul ke arah sungai.”
“Baiklah. Saya akan menyusul.” Aku memperhatikan dari ambang pintu. Papaku tetap tenang, seperti sifatnya yang biasa. Ia menoleh kepadaku. “Sophie, panggil adikmu. Dia bisa ikut membantu mencari. Tuan Van den Berg mungkin cuma mabuk dan tergeletak tak sadarkan diri entah di lahan sebelah mana.”
“Aku juga mau ikut mencari, Papa.”
Papa menggeleng. “Seperti Papa bilang tadi. Tuan Van den Berg kemungkinan hanya terlalu mabuk. Bukan perkara besar. Ini tidak akan lama.”
Ah, nyatanya yang dikatakan ayahku salah besar.
Pencarian itu berlangsung sampai sore. Seluruh perkebunan disisir puluhan orang untuk mencari keberadaan Pieter van den Berg. Aku akhirnya ikut melakukan pencarian juga, berkuda bersama beberapa jongos keluargaku, menyisir sepanjang aliran sungai.
Aku berpapasan dengan Karel. Ia sedang mengarahkan teropongnya ke arah hilir. Aku kasihan melihat mukanya yang bingung dan letih. Kutuntun kudaku ke arahnya. Ia menurunkan teropongnya dan mengangguk saat melihatku.
“Halo, Sophie.”
“Menurutmu ada kemungkinan ayahmu jatuh ke sungai dan hanyut?”
“Aku harus memastikan segala kemungkinan.Tidak biasanya dia menghilang begini lama, meskipun sedang mabuk. Dia akan segera siuman dan pulang ke rumah bagaimana pun keadaannya.”
“Dari mana kau tahu ayahmu menghilang dari rumah?”
“Aku terbangun dini hari, karena kurasa aku mendengar sesuatu. Jadi, aku keluar dari kamar untuk memeriksa. Kulihat pintu depan rumah terbuka. Angin kencang masuk dan menjatuhkan satu boneka keramik di atas bufet. Itulah suara yang kudengar. Lalu, aku masuk lagi ke kamar. Tetapi, beberapa jam kemudian hatiku merasa tidak enak. Jadi pukul lima pagi, ketika para babu dan jongos bangun untuk salat, aku ikut bangun dan memeriksa kamar ayahku. Aku melihat kamar itu kosong. Dan, yah… aku menyesal kenapa saat aku menemukan pintu depan terbuka, aku tidak segera memeriksa kamar itu.”