6. KAREL (revisi)

748 74 5
                                        

Buitenzorg, 1896

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Buitenzorg, 1896

Aku tidak tahu apa yang sesungguhnya dirasakan Griet―ibu tiriku terhadapku. Aku mesties, dan darah campuran inlander bukanlah sesuatu yang dihargainya. Aku juga anak nyai suaminya, meskipun saat itu ia belum menjadi nyonya di rumah ini.

Namun demikian, ia baik padaku dan bersikap seperti layaknya ibu. Mietje bilang, ibunya sayang padaku karena aku anak yang patuh dan pandai. Terkadang, aku berpikir, mungkin karena penampilanku tampak lebih Eropa seperti Papa, alih-alih mirip ibu kandungku si perempuan kampung.

Ada kalanya, aku juga merasa takut padanya. Takut pada kemarahan yang ia pendam selama bertahun-tahun, yang aku sangat tahu penyebabnya. Ia seperti seekor beruang yang sedang tidur di dalam gua. Kau tidak boleh mengusiknya. Sama sekali tidak.

Ketika ia marah, ia tidak akan meledak seperti Papa. Ia akan menjadi ratu es, dengan kemurkaan yang dingin dan tak kenal ampun.

Di depan mataku, tanpa basa-basi, ia menampar Mirah dengan keras. Babu itu jatuh tersungkur ke tanah, dan tidak berusaha bangkit lagi.

“Mama!”

Aku terlambat mencegahnya. Ia merentangkan sebelah tangannya, menghalangiku menghampiri Mirah. “Diam di situ, Karel. Jangan ikut campur,” ujarnya datar.

Aku terpaku di tempatku. Menatap tak berdaya kepada Mirah yang tersungkur ke tanah pekarangan, tempat kami berdiri. Ditatapi beberapa pasang mata para babu dan jongos, yang berkumpul menonton diam-diam dari balik pilar beranda.
Hatiku miris. Bagaimana pun, babu itu adalah orang yang telah memberikan air susunya kepadaku. Menyelamatkan aku dari mati kelaparan karena kehilangan ibu. Aku menyayangi Mirah, sekalipun ia seorang pribumi yang statusnya rendah.

“Aku sudah bilang, jaga Mietje. Jangan biarkan ia kabur dan pergi ke barak kuli. Kau, bukannya mengejarnya dan membawanya kembali, malah membiarkannya pergi.”

“Maafkan saya, Nyonya.”

Mirah sudah memberitahuku, bahwa ia mengejar Mietje dan menyuruhnya pulang. Mietje tidak mau dan malah mengancam akan pulang malam kalau diikuti. Namun, Mirah tidak akan mengatakan hal itu kepada Griet. Seorang babu tidak punya hak membantah dan berdebat.

“Apa susahnya mematuhiku?” desis Griet. “Bukankah pekerjaan yang mudah mengawasi seorang anak perempuan? Selama ini kau terlalu memanjakan anak-anakku. Siapa kau ini? Kau cuma babu di rumah ini, Mirah. Kau tidak berhak bersikap seperti kau yang memiliki mereka.”

“Maafkan saya, Nyonya….”

Mirah masih menggumamkan kalimat yang sama. Satu-satunya kalimat yang boleh ia ucapkan ketika majikannya memarahinya. Tubuhnya bersimpuh di tanah, gemetaran.

“Aku yang salah,” sahutku, tak tahan hanya berdiam diri. “Seharusnya, aku mengawasi Mietje dan memaksanya pulang waktu tahu ia kabur. Aku berpikir, itu tidak apa-apa. Ia masih suka bermain. Jadi….”

“Umurnya sudah enam belas, Karel. Ia sudah tidak pantas bersenda gurau dengan anak-anak kuli di sungai atau di barak. Ia harus banyak belajar keterampilan yang sudah menjadi keharusannya, bukannya bermain. Kau harus mengawasinya dengan benar.”

“Ya, ini memang salahku,” gumamku. “Kalau begitu, tolong biarkan Mirah. Mietje memarahinya, sehingga Mirah tidak berani menyeretnya pulang. Mama kan, tahu kalau Mietje bisa sangat kasar.”

“Tidak. Babu bodoh ini juga salah,” sergah Griet. “Kau tentu saja membelanya, karena ia ibu susumu.”

Suara tapak kuda terdengar mendekat. Lalu ringkikan yang kukenal. Itu Zeus, kuda Papa. Ketika kuda itu sampai di jalan setapak berbatu menuju rumah, kulihat Papa menungganginya bersama Mietje.

“Mirah!” Mietje melompat turun dan berlari menghampiri Mirah yang terduduk dengan wajah menunduk dalam. “Ada apa ini?” Ia menoleh kepada Griet, yang balik menatapnya dengan geram. Pemahaman melintas di wajah Mietje. “Mama memukul Mirah?”

“Dasar anak nakal!” Griet mengangkat tangannya, seolah hendak memukul Mietje. Anak itu berjongkok dan bergulung di sebelah Mirah sambil melindungi kepalanya dengan kedua lengan. “Siapa yang mengajarimu tidak patuh? Sudah Mama bilang, sekarang kau tidak boleh bermain dengan anak-anak kuli itu!”

“Griet, sudahlah!” Papa turun dari kuda. “Kau selalu marah untuk hal-hal yang tidak penting. Anak itu tidak melakukan kejahatan. Ia cuma masih senang bermain, dan tidak pergi terlalu jauh. Aku menemukannya sedang bersama Thomas. Anak itu selama ini selalu membantu menjaga Mietje.”

“Aku tidak suka ia masih bermain dengan anak-anak kuli. Terutama anak mesties itu. Ia bergaul terlalu rapat dengan Mietje. Ia bisa membawa pengaruh buruk untuk Mietje, dengan perilakunya yang kurang didikan itu. Mereka sudah remaja. Kau tidak akan pernah tahu apa yang bisa ia lakukan kepada anak perempuanmu, Piet.”

Kulihat pipi Mietje memerah. Ia seperti hendak menangkup wajahnya, tetapi tak jadi. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang sudah terjadi. Adikku yang galak dan ekspresif, jarang tersipu-sipu seperti itu.

“Ma, marahilah aku. Jangan marahi Karel, Mirah, atau Thomas. Aku yang berbuat salah. Mirah sudah mengejarku dan menyuruh pulang, tapi aku malah membentaknya dan menyuruh dia pulang sendiri.” Mietje memohon.

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang