Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 2013
Aku merasa akhir-akhir ini Elias menghindariku. Kami memang jadi sering bertengkar setiap kali bertemu. Aku tidak pernah puas dengan jawabannya atas tuntutanku untuk menceraikan Alana, setelah anaknya lahir.
“Apa kau gila?” tukasnya, pada pertemuan terakhir kami. “Aku menceraikan Alana. Kau menceraikan Caleb. Lalu, kita menikah begitu saja? Begitu saja? Tanpa memikirkan apa kata dunia di luar sana?”
“Ya!” sergahku. “Aku tidak peduli apa kata dunia! Kita saling mencintai. Kita berhak bahagia bersama!”
“Dunia itu isinya bukan cuma kau dan aku saja, Ghea. Ada keluargaku dan keluargamu. Mereka akan kena imbasnya. Ada bisnis yang dipertaruhkan dengan nama baik. Sedikit saja aku salah langkah, para klienku akan menganggapku sudah tidak kompeten. Kepercayaan terhadapku hancur dan mereka akan meninggalkan firma hukum kami!”
“Astaga! Aku benar-benar muak. Selalu itu saja yang kau dengung-dengungkan!“
“Tentu saja! For God’s sake, Ghea. Kau tidak tahu betapa susah payahnya aku membangun firma hukum itu sampai sebesar sekarang, sampai akhirnya Papa mempercayaiku sebagai calon penerusnya! Kau tidak tahu rasanya dianggap tidak mampu selama bertahun-tahun oleh orangtuamu sendiri, hanya karena kau punya adik yang lebih sempurna!”
“Tapi itu masalahmu! Ambisimu! Tidak ada hubungannya dengan percintaan kita! Aku cuma menagih janjimu, El. Aku mencintaimu, dan ingin bersamamu! Bukan bersama adikmu yang kau bilang sempurna itu. Yang sekarang sedang sibuk mengejar-ngejar mantan tunangannya! Kami akan bercerai setelah anak ini lahir, dan aku harus meminta kepastianmu dari sekarang. Apakah kau akan bersamaku dan anakmu, atau membuang kami, El?”
“Jadi sepertinya kau merasa terjebak sekarang?” Elias mendengus. “Aku sudah pernah memberimu solusi, Ghea. Aku menawarimu tempat yang nyaman di luar negeri sampai kau melahirkan. Paris, London, Amsterdam. Terserah. Aku akan rutin mengunjungi kalian di sana. Kau bisa tinggal di sana sampai kapan pun kau mau. Aku akan menanggung semua biaya hidup kalian sepenuhnya. Kau bisa memulai kantor barumu, buka cabang, atau apalah dari sana. Kita tidak perlu harus sembunyi-sembunyi di apartemen atau hotel seperti sekarang. Kau tidak perlu terganggu oleh ibuku dan bertemu Alana, dan tidak harus hidup dengan adikku.”
“Kau pikir aku mau hidup seperti itu? Aku tidak pernah berencana menjadi perempuan simpananmu!”
“Terserah!” Elias bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. “Aku lelah dengan semua pertengkaran ini, Ghea. Aku berharap pertemuan kita seperti dulu. Damai dan mesra. Bukan penuh dengan teriakan-teriakanmu. Aku pulang saja kalau begitu.”
“Pulang sana!” teriakku pada punggungnya. Kulempar bantalan sofa ke arahnya. “Pulang ke istrimu yang sok alim dan berlagak seperti ratu Inggris itu! Berengsek kau, Elias!”
Ia menghilang di balik pintu yang tertutup, dan aku menangis tersedu-sedu sampai suaraku habis. Menangisi kemalangan hidupku dan kebodohanku yang jatuh cinta pada seorang lelaki seperti itu.