Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 2013
Sore itu lebih berangin. Laut memantulkan warna langit yang memerah saat senja menjelang. Matahari mirip bulatan raksasa di ufuk barat. Tak tergesa-gesa, perlahan turun menuju batas tak terlihat di ujung langit. Kelebat burung-burung camar di atas kepalaku yang hendak pulang membuatku iri. Mereka tahu ke mana mereka harus kembali. Sementara aku, sampai hari ini, detik ini, tak tahu kemana harus pulang.
“Jangan pergi terlalu jauh, Nona. Sudah gelap, nanti susah kembali!” Seseorang―salah satu penjaga pulau berteriak di belakangku. Suaranya nyaris lenyap tersapu angin.
“Jangan khawatir,” desahku tanpa menoleh. “Kalian tidak perlu mencari dan menjemputku lagi seperti kemarin-kemarin.”
Aku melangkah mantap di atas pasir pantai dengan kaki telanjang. Pasir-pasir lembap menggelitik telapak kakiku. Sesekali ujung jari kakiku terantuk batu karang yang menonjol di antara pasir. Aku tak peduli dan meneruskan langkah sembari melamun.
Selalu ada obat untuk kesedihan. Seseorang pernah berkata begitu padaku, dulu sekali. Entah siapa. Ingatanku memburam akhir-akhir ini. Bagaimana pun, sekarang aku tak lagi meyakininya. Aku merasa sebatang kara di dunia yang kejam ini. Sungguh mengerikan jika aku harus berada di sini lebih lama lagi.
Aku duduk di atas pasir, menatap matahari yang semakin sembunyi di balik lautan. Langit yang oranye semakin memerah sewarna saga, lalu semakin cepat menggelap ketika matahari pergi dengan terburu-buru. Aku masih duduk cukup lama menatap air yang gelap, sampai kusadari langit kini menjadi tahta bulan, jauh di puncak langit. Aku memutuskan sudah waktunya beranjak.
Bahkan, tanpa cahaya temaram bulan yang sedang purnama pun, aku hapal di mana batu karang besar itu berada. Batu itu berdiri kokoh di tanjung kecil di ujung pulau, menghadap ke laut. Tempat yang kusukai untuk duduk termenung setiap hari. Laut di bawahnya seperti kolam raksasa berair gelap, dengan semburat perak sinar bulan di permukaannya. Aku berdiri di atas karang besar, merasakan terpaan angin berbau garam.
Bagaimana rasanya menyelam ke dalam sana? Apakah airnya akan membasuh semua kepahitanku? Aku menunduk. Memperhatikan jari-jari kakiku yang telanjang penuh pasir. Kaki-kaki yang pucat dan terlampau lelah untuk melangkah lagi. Gaunku melambai-lambai diterpa angin. Warnanya putih, seperti sapu tangan tanda menyerah. Menyerah pada hidup yang tak berbelas kasih kepadaku.
Segala milikku terasa sangat jauh di belakang. Keluargaku, kekasihku, kenangan-kenangan yang berkelebat menjauh. Aku sudah menyerah. Segalanya telah hancur dan meninggalkanku. Laut yang berkilauan jauh lebih menentramkan.
Aku mencondongkan tubuhku ke depan, lalu melompat. Air menyambutku. Menekanku dengan rasa dingin, menyelimutiku sampai ke paru-paru.
Aku mulai meronta-ronta dan megap-megap, berusaha mencari oksigen. Mataku seketika terbuka. Kusadari diriku baru saja terbangun di sebuah kamar yang kukenal. Kamarku. Napasku masih tersengal dan mataku membasah.