38. MARIANA

270 57 4
                                        

Buitenzorg, 1897

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Buitenzorg, 1897

Sepertinya Mama sudah tidak tahan lagi dengan ketegangan di perkebunan. Siang ini, ia berangkat ke Dramaga. Ia tidak mengatakan sampai kapan tinggal di sana. Yang bisa kulakukan hanyalah menitip salam untuk Oma Lena dan para sepupuku di sana. Papa sebenarnya keberatan Mama pergi. Semalam, ia berusaha membujuk Mama supaya tidak jadi berangkat. Namun, Mama bersikeras.

Namun, sebelum pergi Mama sempat mengajakku bicara di kamarnya. “Kau harus segera kembali ke Batavia, Mietje,” ujarnya. “Tidak ada apa-apa lagi di tempat ini untukmu. Hidupmu akan segera dimulai di Batavia bersama keluarga Van Heuvel. Kembalilah ke rumah paman dan bibimu. Jangan membuat mereka khawatir.”

“Tapi, Mama…” Aku menatapnya. Mencoba memberanikan diri untuk berterus terang. “Aku tidak menyukai Gerrit van Heuvel.”

Di luar dugaan, alih-alih marah, Mama menghela napas panjang. “Oh, Schatje… seandainya waktu bisa diulang.” Ia menatapku. “Berusahalah, Sayang. Berusahalah untuk menyukainya. Dia orang yang bisa melindungimu dari orang-orang jahat, karena dia punya pengaruh dan dekat dengan kekuasaan.”

“Aku tidak pernah bertemu dengan orang jahat, Ma. Mereka semua baik padaku. Para inlander itu, bukankah mereka punya kewajiban untuk tunduk kepada kita?”

“Waktu kita terakhir kali ke gereja, apa kau masih ingat kata-kata Pendeta Blume? Selama manusia hidup, setan akan selalu menggoda kita. Siapa pun orangnya, jika ia melupakan Tuhan, maka setan menyukainya. Ingat itu, Mietje. Siapa pun.” Mama mengusap rambutku.

Namun, aku masih tidak memahami tujuan dari kata-katanya. Aku melepas keberangkatan Mama dengan banyak tanda tanya di kepala.

“Non Mietje, ada yang mencari Non.” Kesih muncul, membuyarkan lamunanku.

“Siapa?”

“Dua orang kuli, Non.”

Aku terkejut dan bergegas pergi ke beranda. Aku takut terjadi apa-apa dengan ayahku atau Karel. Dua orang kuli muda berdiri di halaman. Aku mengenal keduanya sebagai kuli di pabrik Karel. Salah satunya adalah teman mainku di sungai waktu kami masih kecil.

Aya perlu naon, Tarya?” Aku sengaja memakai bahasa Sunda. Sudah begitu lama bahasa itu tidak kupakai, sejak tinggal di Batavia.

Hampura ngaganggu, Non.” Tarya yang dulu adalah teman mainku itu maju beberapa langkah. “Kami menemukan ini. Mungkin punya Non Mietje atau Agan Karel.” Ia menyodorkan sesuatu di tangannya. Berkilau tertimpa cahaya pagi.

“Coba bawa ke sini, Kesih.”

Kesih mendekati Tarya dan mengambil benda itu. “Ini, Non.” Diberikannya kepadaku.

Ternyata sebuah kalung dari perak dengan liontin salib yang amat bagus. Namun, aku belum pernah melihat benda itu.  “Ini bukan punya saya, Tarya. Dan, saya yakin bukan punya Karel juga. Di mana kalian menemukannya?”

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang