40. MARIANA

302 61 4
                                        

Buitenzorg, 1897

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Buitenzorg, 1897

“Vaarwel, Schatje. Wees voorzichtig onderweg .”

“Tot ziens, Papa. Tot ziens, Karel. Je moet voor je gezondheid zorgen. Word niet te moe. ”

Ditemani Kesih dan seorang jongos, aku meninggalkan perkebunan dan Rumah Besar dengan kemuraman yang menggantung di sana. Juga kemarahan senyap dalam diri Karel, yang menenggelamkannya dalam penderitaan batin karena dilema. Jiwa Karel yang lembut tidak mau percaya Mama telah membunuh Mirah. Ia berpikir, Mama tidak akan sanggup berbuat sekeji itu, meskipun kecemburuan dan kebencian menghantui jiwanya selama menjadi istri Papa.

Sementara itu, karena aku mulai terbiasa dengan kehidupan di Batavia, aku tak lagi senaif abangku. Di Batavia, aku mendengar dan menyaksikan berbagai macam kejahatan, yang mungkin tak akan pernah kupikirkan sebelumnya. Hukuman-hukuman pancung dan tiang gantungan di depan Stadhuis adalah buktinya, meskipun tak pernah sekalipun aku ikut menontonnya.

Kepadaku hari itu, Mama bicara soal setan yang menggoda manusia. Barangkali, ia membicarakan dirinya sendiri. Kebenciannya telah menjadi alat bagi setan untuk menggerakkan niatnya dan tubuhnya, membunuh seorang babu yang tak berdaya. Aku sejak dulu tidak pernah menyalahkan Mirah atas perasaannya kepada Papa. Aku juga tidak menyalahkan Papa, sekalipun ada kemungkinan ia hanya memanfaatkan ketidakberdayaan Mirah belaka.

Siapa yang bisa mengabaikan hasrat dan perasaan? Aku sendiri pun tenggelam di dalamnya.

Kurasa, Sophia juga memahami hal itu. Aku yakin ia mencintai Thomas, tetapi menyembunyikannya dengan rapi demi perasaanku. Itu membuatku jadi menyayanginya, dan menghargai pengorbanannya. Maka, ketika ia memintaku untuk makan malam bersama keluarganya sebelum aku berangkat ke Batavia, aku dengan senang hati datang.

“Aku sedih kau akan pergi jauh,” ujarnya seraya memelukku setelah itu. “Tetapi itulah yang harus kalian lakukan saat ini.  Aku yakin, kita akan bertemu lagi dalam keadaan yang bahagia.”

“Bolehkah aku meminta selembar fotomu, Sophie?” tanyaku. “Itu akan menjadi obat kalau aku merindukanmu dan kampung halaman.”

“Tentu, Sayang.” Ia mengambil album fotonya dan memilihkan satu foto terbaiknya untukku. “Aku sudah punya fotomu. Kita lumayan sering berfoto karena rumahmu sering menjadi tempat berkumpul dan berpesta.” Ia tersenyum. “Kirimkanlah foto terbarumu nanti dari Timur, ya.”

Sebelum berangkat ke Batavia, aku sudah menyembunyikan semua benda yang kutemukan di lemari Mama, yang bisa menjadi bukti dari pembunuhan Mirah. Karena bukan hanya kancing itu yang kutemukan tersembunyi di lemari Mama setelah aku mencari cukup lama. Ada tusuk konde perak milik Mirah, yang selalu ia pakai di hari-hari yang menurutnya istimewa. Aku juga menemukan sehelai foto Papa, Mirah dan Karel yang dirobek menjadi dua. Benda-benda itu kumasukkan ke dalam peti. Kumasukkan juga beberapa foto yang tak ingin kulihat lagi karena kegembiraan di dalamnya membuatku sedih. Biarlah yang kusimpan hanya foto Sophia yang baik. Lalu, aku mengubur peti itu di tengah malam, di bawah ubin longgar di dapur. Tempat itu aman karena terhalang lemari makan yang dulu selalu menjadi sumber kesenanganku kalau ingin mengusili Bedah.

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang