Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Kepada Yang Terhormat Tweede Secretaris voor Inlander Zaken Tuan Theodorus Frederik Visser
Dengan hormat. Bahwa pencarian seorang lelaki dengan identitas sebagai berikut: Thomas Gustaaf, mesties (status tidak gelijkgesteld, sehingga secara hukum dapat dianggap sebagai pribumi), usia 19 tahun, telah dilakukan dengan seksama ke beberapa tempat yang dimungkinkan sebagai tempat yang bersangkutan bersembunyi atau disembunyikan.
Saya, Jan J. Michiels, bersama tiga orang lainnya, bernama: Pieter S. Brugmans, Augusta H. van Zeggelen, dan Petrus C. Hoven, telah mendatangi rumah Nyonya Eva Buur―yang adalah induk semang Thomas Gustaaf, pelabuhan dan kantor Syahbandar Pelabuhan Sunda Kalapa, dan Pelabuhan Tandjungperiuk. Semua tempat tersebut adalah tempat-tempat yang bersangkutan biasa bekerja dan terlihat sehari-hari. Namun, hasil pencarian nihil.
Maka, kami melebarkan pencarian ke lokasi-lokasi sekitar Sunda Kalapa dan Tandjungperiuk. Ke gudang-gudang di Fort Batavia, juga klub-klub tidak terdaftar di sekitar tempat tersebut. Kami memasang telinga dan membayar beberapa inlander dan mesties yang bisa diharapkan menyadap berita-berita bawah tanah, untuk menyelidiki kecurigaan terhadap penangkapan Thomas Gustaaf oleh orang-orang sipil tertentu.
Tanggal 2 Juli 1897, sebuah informasi masuk, dari seorang inlander yang bekerja di Fort Batavia sebagai mandor gudang. Orang tersebut, dengan nama yang dirahasiakan dalam laporan ini, tidak sengaja mendengar percakapan beberapa orang tentang rencana penangkapan seorang mesties muda yang dianggap kurang ajar karena menggoda seorang perempuan yang sudah bertunangan dengan atasan mereka.
Sayangnya, kami tidak bisa menelusuri lebih jauh informasi ini, karena keragu-raguan mandor tersebut, yang rupanya kami duga karena rasa takutnya terhadap orang-orang tersebut. Kami tidak bisa mengorek lebih jauh tentang orang-orang yang melakukan percakapan tersebut, jika si pemberi informasi meragukan pendengarannya sendiri.
Tanggal 24 Juli 1897, informasi kedua berasal dari seorang laki-laki Tionghoa―nama dirahasiakan dalam laporan ini, bekerja sebagai juru tulis di perusahaan dagang milik seorang saudagar Tionghoa bermarga Han. Menurutnya, seorang Belanda mesties datang menemui Saudagar Han untuk menyewa salah satu gudangnya di Tandjungperiuk. Tuannya itu memberi izin dengan harga yang cukup tinggi, karena si mesties mengatakan atasannya bersedia membayar berapa saja. Gudang disewa untuk satu minggu, kemudian kuncinya dikembalikan. Namun, si juru tulis mendengar kabar dari dua orang centéng yang bekerja untuk Saudagar Han di Tandjungperiuk, bahwa selama beberapa hari sejak itu mereka mendengar rintihan dari dalam gudang. Mereka juga melihat suatu malam tubuh seorang lelaki dikeluarkan dari gudang itu, dimasukkan ke dalam karung dan dibawa pergi dengan delman entah ke mana. Kedua orang centéng tersebut meyakini bahwa lelaki itu sudah mati.
Kami tidak bisa memastikan orang-orang tersebut bekerja atas suruhan siapa. Juga kesulitan memastikan identitas lelaki yang ditahan di dalam gudang tersebut. Namun, berdasarkan keterangan si juru tulis Saudagar Han, si mesties yang menghadap atasannya memiliki ciri-ciri tinggi sedang, tegap, rambut hitam, mata kelabu tua, dan ada bekas-bekas bopeng di wajahnya.
Demikian laporan ini saya tulis sebagai pertanggungjawaban suatu tugas tak resmi dari Tuan Theodorus F. Visser mengenai kasus Thomas Gustaaf, dengan perjanjian untuk menyampaikan seluruh informasi, baik seluruhnya maupun sebagian kepada Tuan Pieter van den Berg, kecuali Nyonya Van den Berg dan kedua anak mereka.
Laporan ini akan diperbaharui kembali jika ada penambahan informasi.
Sekian dan terima kasih.
Tertanda,
Jan Jacobus Michiels
***
* Laporan ini disisipkan di buku catatan Informele Opdrachten dalam arsip Tweede Secretaris voor Inlander Zaken.
Bahasa:
Informele opdrachten (Tugas Tidak Resmi)
Tweede Secretaris voor Inlander Zaken. (Sekretaris Kedua untuk Urusan-Urusan Pribumi)
Centeng (istilah betawi untuk para tukang pukul yang bekerja bagi para tuan Belanda dan saudagar Tionghoa di masa kolonial)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.