Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 2013
“Jadi, yang mana menurutmu warna yang paling bagus untuk tema pestanya? Putih dan emas atau putih dan hijau?” Aku menggeser album tebal dengan foto-foto besar yang dicetak glossy ke depan Caleb.
Caleb angkat bahu. “Terserah,” ujarnya. Ia bahkan tidak mengangkat mukanya dari iPad di tangannya.
“Sejak tadi kau selalu bilang terserah.” Aku mendengus jengkel. “Aku mengajakmu bertemu di sini untuk berunding, Caleb.”
Caleb mengangkat mukanya. “Aku sedang sibuk dengan pekerjaanku. Kau yang memaksaku datang ke sini. Kalau menurutmu penting, kau saja yang pilih.”
“Oke, menurutmu semua ini tidak penting. Tapi ini kan, pernikahanmu juga. Teman-teman dan kolega-kolegamu akan datang. Masa kau tidak peduli sama sekali dengan acaranya nanti?”
“Kurasa, aku memang tidak peduli.”
“Apakah kau akan bersikap begini juga kalau yang akan kau nikahi itu Padma?”
“Astaga, Ghea! Apa sih, maumu? Aku sudah setuju akan menikahimu untuk menyelamatkan bayi itu dan reputasimu juga reputasi keluargaku! Sudah pernah kukatakan tidak usah membawa-bawa Padma untuk pernikahan sialan ini!”
“Why not?” Aku tersenyum mengejek. “Kau tidak suka mendengar namanya kusebut? Dengar ini. Padma, Padma, Padma, Pad….”
Brakkk!
Caleb menggebrak meja dan berdiri dari kursinya. “Cukup. Aku akan kembali ke kantor.”
“Baiklah,” sahutku. Tanpa mempedulikan tatapan beberapa pengunjung kafe yang spontan menoleh ke meja kami. Thanks God, kafe ini tidak seramai biasanya. “Cari saja Padma sampai puas. Kau tak bakal bisa menemukannya!”
Caleb memburu pintu keluar dan pergi. Aku mendesah dan duduk lagi. Kembali membolak-balik album yang dikirimkan wedding organizer yang kuhubungi untuk membantu pesta pernikahanku.
Sebenarnya, itu tidak akan menjadi pesta yang besar karena waktu yang tersedia tidak terlalu banyak. Hanya dua minggu dari sekarang, karena kedua calon mertuaku khawatir perutku akan semakin besar dan sulit disembunyikan oleh pakaian pengantin.
Aku sudah bertemu mereka dua kali. Yang pertama kali, tentu saja bersama Caleb. Mereka menyambutku dengan sopan tetapi dingin. Tentu saja aku bisa memakluminya. Aku adalah perempuan yang menggoda anak sulung mereka yang sudah beristri. Fakta bahwa aku dihamili anaknya tidak membuat mereka iba, justru membuat mereka semakin menyalahkan aku.
Namun, bisa kulihat ayah Caleb cukup antusias menanyakan kondisi kesehatan kandunganku. Aku tahu, ia sudah cukup lama menginginkan cucu. Calon penerus ambisinya. Cucu pertamanya dalam perutku adalah harapannya.
“Kita tidak bisa menunda-nunda,” ujar ibu Caleb sembari melirik perutku. “Perutmu akan semakin besar, dan akan semakin sulit menghindari pertanyaan orang-orang.”