Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Buitenzorg, 1897
“Makanlah yang banyak, Mietje. Kau harus mempertahankan tubuhmu yang sekarang lebih berisi. Membuatmu kelihatan segar.” Mama menyendokkan nasi lagi ke piringku, mengabaikan protesku.
“Benar. Mietje yang gendut lebih menggemaskan daripada yang kurus dan tak bisa diam.” Karel, duduk di seberangku, menimpali sambil mengedip geli.
“Lucu sekali, Karel!” Aku melemparnya dengan serbet. “Kuberitahu kau, selama di Batavia, aku tidak pernah merindukanmu karena kau selalu usil!”
“Wah! Tapi, siapa yang memelukku kegirangan waktu aku tiba di Batavia untuk menjemputmu?” Karel tertawa.
Papa yang duduk di kepala meja makan tanpa berbicara. Kedua orangtuaku kembali saling bersikap acuh tak acuh. Pupusnya rencana pernikahanku, pupus pula hal yang mempersatukan mereka.
Dua bulan lagi ulang tahunku yang ketujuh belas. Aku menjalani kehidupanku kembali di perkebunan seperti sebelumnya. Kehidupan meriah yang pernah kujalani di Batavia mulai terasa bagai mimpi. Hari-hari penuh pesta dan kunjungan-kunjungan ke berbagai keluarga bersama paman dan bibiku, piknik di halaman belakang rumah Pauline, hawa panas dan aroma laut yang amis dan pengap, juga semua kenangan tentang Constantijn beserta segala rencana pemberontakan kami yang akhirnya―dengan cara yang menyedihkan tak perlu lagi dilakukan.
Di hari kepulanganku, Mama memelukku di beranda dengan senyum dan tatapan tak terselami. Seperti biasa, ia selalu bisa mengendalikan diri dengan pembawaannya yang dingin itu. Seolah-olah aku pulang dalam keadaan menjanda, pikirku. Pernikahan yang tak akan pernah terjadi itu pasti membuatnya kecewa. Kebalikannya dengannya, Mirah menyambutku dengan pelukan hangat dan kegembiraan.
Sementara Papa bersikap biasa-biasa saja, meskipun selama beberapa waktu setelah itu, terkadang aku memergokinya sedang menatapku. Mungkin Papa merasa kasihan padaku.
Namun, aku tidak perlu dikasihani. Sungguh. Aku senang bisa kembali ke perkebunan dan bertemu lagi dengan keluargaku, para kuli dan teman-teman bermainku di barak. Terutama, aku senang kembali kepada Thomas.
Aku telah membujuknya untuk menerima tawaran ayahnya. Ia sudah membicarakannya dengan Papa, dan akan berangkat ke Belanda segera setelah ulang tahunnya yang ketujuh belas. Itu hanya satu bulan setelah ulang tahunku.
Beberapa hal lainnya terjadi di Batavia sejak aku meninggalkan kota itu. Nyonya Maria van Heuvel meninggal dunia tiga bulan setelah meninggalnya Constantijn. Penyakitnya bertambah parah karena kesedihannya. Kabar dari Pauline lebih menggembirakan. Ia bertunangan dengan seorang hakim. Pernikahannya baru akan digelar setelah ulang tahunnya yang kedelapan belas, sebulan lagi. Ia berharap aku bisa datang. Aku tak bisa menjanjikannya meskipun sangat ingin.
“Apa rencanamu hari ini?” tanya Karel. “Kau mau ikut aku memeriksa kandang kuda sebelum berangkat ke pabrik?” Kuda pacu kami semakin banyak sekarang, meskipun Papa belum mendapatkan joki yang permanen. Namun, Karel memiliki rencana lainnya. Beternak kuda. Ia sedang mencari lahan untuk membuat istal yang lebih besar.