1. PADMA (revisi)

2.5K 202 11
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Jakarta, 2013

Kedamaian liburanku berakhir seketika saat telponku berdering dan suara yang sedang kuhindari seminggu ini masuk ke kupingku tanpa disaring. "Ima, kita harus ketemu."

Pintar sekali dia. Menggunakan nomor baru yang tidak kukenal dan menelepon di siang bolong yang sangat terik, saat aku sudah terlalu lelah untuk bersikap waspada. "Untuk apa?" balasku ketus. Mauku sih, kumatikan saja sambungannya. Namun, ada sedikit rasa penasaran yang menggelitik hatiku. Mau ngomong apa lagi dia, setelah aku memergokinya berduaan dengan cewek lain di lobby sebuah hotel?

"Please, kau harus bersikap adil, Ima. Beri aku kesempatan untuk menceritakan sejelas-jelasnya kenapa aku dan Ghea ada di hotel itu. Toh, kau tidak melihat kami sedang berada di kamar. Kami sedang duduk di lobby, kan?"

"Oh, jadi karena aku tidak memergokimu sedang satu kamar dengannya, jadi kau merasa punya alasan bagus untuk membuatku percaya?" sergahku. "Catat ya, aku tidak sekedar melihatmu cuma duduk dengan Ghea. Kalian berpelukan. Dia bersandar di dadamu dengan begitu lengket dan kau mengusap-usap kepalanya, Cal. Jadi, mau berkilah apa lagi? Aku malas mendengarnya, Caleb."

"Ima, coba katakan, kau ada di mana sekarang? Aku akan menyusulmu ke sana sekarang juga."

"Tidak usah, Caleb. Aku sedang berada di sebuah pulau, di tengah laut. Kecuali kau punya helikopter pribadi atau punya sayap untuk terbang ke sini malam-malam begini, kau tidak usah repot-repot untuk datang."

"Kapan kau pulang?"

"Entahlah. Sudah jelas kan, kalau aku sedang malas bertemu?"

"Bagaimana pun kita perlu memperjelas situasi ini. Dan, aku khawatir padamu karena sudah satu minggu kau tidak pulang ke rumahmu. Kau tidak bisa bersikap begitu, Ima. Aku benar-benar tidak bersalah. Ghea juga sudah menjelaskannya padamu, kan?"

"Aku harus percaya pada omongan Ghea yang punya hobi merebut pacarku sejak kami masih SMA? Wow! Kau lagi bercanda ya, Caleb?"

"Ima, tolong jangan keras kepala."

"Tidak pada tempatnya kau bilang begitu padaku," tukasku. Kesabaranku sudah habis. Cukup sudah percakapan tidak penting ini. "Aku sedang menjernihkan otakku saat ini dan mempertimbangkan apakah aku masih sanggup menjadi pacarmu atau tidak. Atau, mungkin itu tidak perlu? Kau sepertinya sangat serasi dengan Ghea."

Kumatikan sambungan, dan nyaris saja kulempar ponselku ke arah batu-batu karang yang berjajar sepanjang garis pantai tempatku berdiri. Permukaan laut gelap, karena malam itu tak ada bulan. Yang kudengar hanya suara gelombang menderu dan ombak gemericik memecah pasir. Kemarahanku bercampur perasaan sedih. Rasanya ingin menangis....

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang