45. GHEA

315 55 3
                                        

Jakarta, 2013

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Jakarta, 2013

“Sialan!” Aku melempar lampu baca di atas nakas ke arah pintu kamar yang tertutup setelah Caleb keluar membawa kemarahan dan tuduhannya yang semena-mena. Benda itu jatuh ke lantai dan hancur. Aku menatap kepingannya dengan sengit. Merasa belum puas, dan ingin menghancurkan seluruh isi kamar.

Bagus. Caleb tidak percaya padaku. Bukan. Lebih tepatnya, ia tidak sudi mempercayaiku―yang telah memisahkannya dengan perempuan yang ia cintai. Well done, Ghea. Akhirnya kau merasakan akibat dari perbuatanmu.

Aku tidak menyesali itu. Aku selalu menyadari konsekuensi dari perbuatanku yang menyakiti hati orang-orang. Namun, satu hal yang selama ini pura-pura tidak kusadari adalah, bahwa aku sebenarnya tidak punya teman. Teman sungguhan.  Teman yang akan mengerti bahwa aku tidak mungkin menghilangkan nyawa orang dengan darah dingin. Seseorang yang seharusnya bisa kusebut sahabat.

Caleb meninggalkan apartemen kami, dan aku bahkan tidak peduli jika ia tidak akan kembali lagi. Aku juga langsung pergi meninggalkan tempat itu. Aku muak berada di situ. Muak berpura-pura berumah tangga dengan orang yang tidak kucintai sama sekali, apalagi jika ia membenciku begitu rupa. Aku muak pada perutku yang semakin membesar dan janin di dalamnya. Keberadaannya telah menghancurkan hidupku.

Aku mengendarai mobilku tanpa tujuan. Sempat berpikir untuk pergi ke rumah sakit tempat Alana dirawat, tetapi aku tahu Elias akan ada di sana dan aku tak ingin melihatnya menunggui istrinya dengan wajah kalut dan khawatir. Jadi, persetan dengannya juga. Akhirnya aku mengarahkan mobilku ke arah Jakarta Timur. Ke Condet. Di mana rumah masa kecilku dan rumah Padma berada.

Saat melewati rumah Padma, kulihat cahaya dari balik tirai-tirainya yang tertutup. Rupanya ia sudah kembali dari tempat persembunyiannya. Tiba-tiba saja melintas keinginanku untuk menemuinya. Ia dulu teman terbaikku, sebelum aku menghancurkan semuanya. Ada sedikit harapan bahwa Padma sudi bertemu denganku, dan aku bahkan tidak keberatan jika harus meminta maaf atas semua perbuatanku kepadanya.

Lalu, kulihat mobil itu. Mobil Caleb, terparkir di sisi jalan, di depan rumah Padma. Aku tak bisa menahan tawaku. Terbahak-bahak nyaris histeris, meski aku sendiri tak tahu di mana segi lucunya.

Baiklah, pikirku. Kau sudah keduluan, Ghea. Jadi rupanya ke sinilah tujuan Caleb setelah meninggalkan apartemen tadi. Saat ini, ia pasti sedang mengadu kepada Padma, menceritakan tuduhannya terhadapku. Padma mungkin saja mempercayainya. Dalam hal ini mereka memiliki persamaan, bukan? Keduanya membenciku, karena telah memisahkan hubungan mereka.

Aku terus melajukan mobilku melewati rumah itu, menuju ke rumah orangtuaku. Aku tidak berharap mereka ada di rumah. Lagipula, aku toh tidak akan menceritakan apa-apa kepada mereka.

***

“Kau ini aneh, Ghea. Mau menginap tapi tidak bawa baju.” Ibuku melirik pakaianku saat kami sedang sarapan. Aku memakai baju tidur lama yang kutemukan di lemari di kamarku semalam.

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang